
Elea shock berat dengan tindakan Jessica.
Rey dengan spontan mengambil ponsel disaku celananya. Memencet nomor Jessica dan me load speaker ponselnya supaya bisa didengarkan oleh Elea dan juga ayahnya.
Sementara Jessica memang sengaja menanti dengan setia ponselnya berdering. Jessica yang masih duduk di mobilnya dan terparkir tidak jauh dari rumah Rey.
Kring. Suara ponsel Jessica berdering. Dia yakin betul bahwa Rey adalah nama pemanggilnya. " Halo Rey."
" You crazy." Wajah seperti singa kelaparan begitu nyata. Rey seakan sudah muak dengan Jessica. Yang ada hanyalah kebencian semata.
Senyum tipis Jessica mendengar Rey mengatai dirinya gila. " Iya Rey, aku memang sudah gila." Jawab santai Jessica. " Dan aku gila karena kamu. Kamu yang tidak mengakui kehamilanku." Jessica yang terus meyakinkan Rey bahwa janin dalam kandungannya adalah anaknya.
Rey yang mendengar kata-kata itu meskipun hanya melalui sambungan telepon merasa geram dengan dada bergemuruh dan kepalan kelima jari tangan kanannya yang dia topang kan di atas meja. " Apa kamu bilang?" Tanya amarah Rey. " Ka mu ha mil anakku? Hehm...jangan harap ya Jess, kamu bisa seenaknya peras aku dengan hanya bermodalkan bukti foto yang tidak akurat itu."
Rey yang tidak henti-hentinya geram mendengar suara Jessica.
" Terserah kamu Rey, jika kamu tidak ingin reputasi keluarga Andro hancur. Terlebih nama besar Perusahaan Andro yang akan jadi taruhannya." Jessica masih tidak ada takut-takutnya dan lagi-lagi menjawabnya dengan nada santai.
" Mau kamu apa?" Jawab cepat Rey.
" Hehm...dalam 2 kali 24 jam jika kamu tidak segera menceraikan Elea. Aku akan sebar foto-foto kita di media sosial dan juga wartawan. Kamu bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi kan." Jessica menutup ponselnya diikuti sunggingan senyum dari sudut bibirnya.
Tut...Tut...Tut...suara sambungan Telepon yang dimatikan oleh Jessica. " Jess..Jess..." Rey yang kemudian malangkerik setelah pembicaraannya dengan Jessica tidak menemukan titik terang. " Aku pergi dulu." Rey yang langsung membalikkan badan dan berlari cepat menuju mobilnya terparkir di garasi.
" Honey." Elea yang berusaha mencegah suaminya dan ingin tahu apa yang akan dilakukannya.
Namun Rey tak menghiraukan panggilan dari istrinya dan langsung tancap gas mengeluarkan mobilnya menuju ke PACC Mall.
Tuan Di memendam kecemasan dalam diam. Dia lantas bergegas menuju taman belakang dan segera menghubungi Pak Har untuk mencegah tindakan brutal Jessica.
Tidak butuh waktu lama, Rey yang sudah tiba di parkiran PACC Mall sedang memarkirkan mobilnya. Rey kemudian keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju Klinik Kecantikan milik Jessica. Rey dengan ekspresi datar memasuki pintu kaca Klinik Kecantikan milik Jessica. Beberapa pegawai Klinik Kecantikan berusaha menyapa dan juga mencegah Rey memasuki ruangan Jessica secara tidak sopan.
Jessica yang tengah menatap layar laptopnya terkejut melihat sosok Rey dengan wajah penuh amarah berdiri tepat di garis pintu kacanya. " Rey." Ucap lirih Jessica yang hanya terlihat mimik gerakan bibirnya dengan mata membulat sempurna.
Rey kemudian melangkahkan kaki menuju Jessica setelah mengatur nafasnya. Mengulurkan tangannya dan menarik lengan Jessica secara kasar dengan mengajaknya keluar dari ruangan menuju ke parkiran mobil.
" Rey, lepaskan!" Jessica yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Rey.
Sesaat keduanya saling tatap. Rey yang menatap Jessica dengan penuh kebencian, sementara berbeda dengan Jessica yang seperti tak ada jeranya. Jessica kemudian masuk ke dalam mobil Rey dan Rey menutup pintu mobilnya.
Tidak butuh waktu lama, mobil Rey menembus jalanan kota yang begitu padatnya. Rey kemudian membawa Jessica ke kantor polisi berikut para wartawan yang sudah dia kumpulkan disana.
" Kantor polisi." Ucap lirih Jessica.
" Bukankah ini yang kamu mau? kamu tidak perlu mengancam ku! Lihat! banyak segerombolan wartawan yang sedang mencari berita dan sengaja aku kumpulkan mereka. " Silahkan! umumkan kepada mereka semua. Karena aku tidak akan pernah menceraikan Elea." Tantang Rey dengan kata terakhir yang benar-benar dia ucapkan tepat di depan telinga Jessica.
Wajah Jessica yang gelagapan. Seketika keringat dingin keluar. Bingung dengan tindakan Rey yang sangat berani diluar dugaannya. Kepalanya dipaksa berpikir cepat untuk langkah selanjutnya. Namun Jessica benar-benar mati kutu dan tak berkutik di hadapan Rey. Nafasnya mulai cepat berhambur keluar tak beraturan. Sial.
" Ayo keluar!" Mereka sudah menunggumu.
Jessica yang mencari ide sedari tadi namun tak mendapatkannya. Mau tidak mau dia harus keluar dan memikirkan cara sembari berakting dengan mengeluarkan air mata buaya. Jessica yang bergetar mengeluarkan kaki kirinya terlebih dulu. kemudian menutup kembali pintu mobil dengan tubuh yang panas dingin memikirkan jalan keluar. Sial! Kenapa aku yang jadinya mikir untuk jalan keluar dari ancaman yang aku buat sendiri?
" Cepat!" Rey yang tahu bahwa Jessica tak sanggup melawan kenekatan nya.
Jessica memutar tubuhnya dengan cepat. " kita bisa bernegosiasi." Nafas sengak yang tak bisa dipungkiri bahwa Jessica sedang panik namun berusaha menyembunyikannya.
" Sudah terlambat." Tangan Rey yang kembali mencengkeram pergelangan tangan Jessica.
" Rey, apa kamu benar-benar lupa malam saat kamu melakukannya padaku?" Jessica yang melepaskan cengkraman tangan Rey dan menatap pelipis Rey. " Kamu mungkin sedang dipengaruhi alkohol hingga kamu bisa melupakannya. Kamu sendiri yang memaksaku malam itu Rey. Apa kamu lupa? coba kamu ingat kembali Rey?" Jessica dengan akting sekaligus mata berkaca-kaca yang ingin meyakinkan Rey.
Rey berdiri dan memutar posisi wajahnya hingga keduanya saling bertatap wajah. " Apa kamu pernah memberi tahu ku, dimana alamat apartemen mu? kapan kamu memberi tahu padaku Jess."
Deg. Jessica dibuat mati kutu kembali. " Terserah! Terserah apa mau kamu, tapi yang jelas aku meminta pertanggung jawaban dari kamu. Aku berani bersumpah Rey, jika anak dalam kandungan aku ini adalah anak kamu." Jessica sembari menyentuh perutnya yang terlihat masih rata dengan nada setengah berteriak.
Rey semakin malas menanggapi Jessica yang selalu tidak jelas. " Jess, kenapa sih kamu selalu membual?" Rey yang tidak tahan dan sangat emosi terhadap Jessica yang selalu berbohong dan tidak mau berkata sejujurnya. " Tolong hentikan semua ini! Kalau kamu tidak ingin menyesal." Ucap lirih Rey tepat di telinga Jessica lalu pergi meninggalkan Jessica sendirian.
" Aku cinta kamu Rey." Nada Jessica yang amat getir. Mencoba meraih jemari Rey saat melintas berjalan disampingnya namun Rey tak menggubrisnya dan pergi begitu saja.
Rey kemudian terhenti dengan posisi membelakangi Jessica. Pandangan nya lurus ke depan. " Bukan begini caranya Jess. Obsesi mu merugikan banyak orang. Andai kamu tahu, bahwa ayahku hampir..." Rey yang memutar kembali posisi tubuhnya dengan wajah amarah di depan wajah Jessica. Rey kemudian susah payah menelan ludahnya. " Hehm, mungkin kamu senang jika ayahku terkena serangan jantung akibat ancaman-ancaman kamu. Sudahlah Jess, sungguh aku tak perduli lagi dengan apa tindakan mu selanjutnya." Rey yang kemudian melangkah pergi meninggalkan Jessica.
" Rey...Rey..." Jessica mencoba mengejar Rey namun sayang, begitu cepatnya Rey menancap gas mobilnya tanpa memperdulikan apa yang ingin disampaikannya.
BERSAMBUNG