
Malam berlalu dengan begitu cepat. Daniel yang mengelus rambut Jessica dan akhirnya terlelap. Daniel yang lagi-lagi harus bermalam di rumah sakit sudah 4 hari ini.
Sementara pemandangan berbeda di sebuah rumah besar milik Keluarga Andro tepatnya di kamar suka-duka. Elea yang tertidur dengan meletakkan kepalanya di pangkuan kaki Rey yang berselonjor di atas ranjang. Jemari Rey yang mengelus rambut kepala Elea yang sedang tidur terlelap. Semenjak mendengar apa yang dikatakan ayahnya. Rey merasa bersyukur dengan memiliki istri seperti Elea. Isi kepalanya mengingat semua hal dari awal semenjak Elea datang ke rumah ini dan menjadi istrinya dalam waktu singkat karena perjodohan balas Budi yang dilakukan ayahnya. Rey ingat betul bahwa perlakuannya kepada Elea sangatlah kejam. Rey yang menyandarkan kepala matanya tertuju ke langit-langit atap kamarnya. Memejamkan matanya perlahan hingga tenggelam dalam tidur.
Keesokan harinya, Jessica yang mulai membuka matanya.
" Jess." Daniel yang mendekat dan menyentuh jemari Jessica.
" Tolong bantu aku bangun Daniel."
" Okay Jess." Daniel kemudian membantu Jessica untuk bangun dari berbaring nya.
" Ah...Sakit Daniel. Kenapa kakiku sakit Daniel. Seperti susah digerakkan." Jessica yang berusaha memegangi pahanya.
" Biar dokter memeriksa keadaanmu dulu Jess." Daniel yang bingung dengan keluhan Jessica, dia kemudian segera memencet tombol panggilan kepada petugas rumah sakit.
Tidak lama terdengar.
" Permisi." Dokter beserta seorang perawat yang sudah membuka daun pintu ruangan Jessica.
" Iya Dok." Daniel yang menyambut dokter dan juga perawat yang masuk ke ruangan Jessica.
" Apa yang dikeluhkan ibu Jessica?"
" Kaki saya yang sebelah kanan sakit dok."
" Kalau begitu saya periksa terlebih dulu ya Bu Jessica." Dokter kemudian mengecek kedua kaki Jessica.
" Oh, iya Bu. Kaki ibu memang ada yang patah. Tapi ini sementara Bu. Nanti setelah ibu melakukan akupuntur yang rutin, saya yakin ibu Jessica akan dapat berjalan normal kembali seperti biasanya."
" Berapa lama dok?" Daniel yang menyela bertanya.
" Untuk waktunya tidak bisa dipastikan pak. Tergantung pengobatan rutin yang akan dilakukan ibu Jessica. Tapi saya bisa jamin kalau ini bukan kelumpuhan total. Jadi ibu dan bapak tidak perlu khawatir yang berlebihan. Jadi Bu Jessica harus tahan ya untuk nyeri yang luar biasa di bagian kaki ibu."
" Iya Dok."
" Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu pak, Bu Jessica silahkan sarapan pagi buburnya dan minum obatnya. Semoga lekas sembuh ya Bu."
" Iya Dok. Terimakasih." Jawab Jessica.
" Terimakasih Dok." Ucap Daniel.
" Sama-sama. Kalau ada apa-apa bapak bisa panggil saya."
" Iya Dok." Daniel yang berdiri di hadapan dokter yang menangani Jessica.
" Sekarang kamu makan buburnya dulu ya Jess." Daniel yang mengambil sebuah nampan yang diatasnya terdapat satu mangkuk bubur halus, satu mangkuk kecil kuah sup dan ayam goreng lengkap dengan sebotol kecil air putih dan juga buah pisang.
" Sebentar Daniel. Kenapa perutku sakit." Jessica yang memegangi bagian perutnya.
" Iya, itu karena kamu habis di operasi untuk pembersihan janin dalam rahim kamu."
" Maksud kamu?"
" Iya Jess, kamu terjatuh dengan sangat keras. Otomatis pasti keguguran janin dalam kandungan mu itu."
" Astaga...iya aku mengingat semua Daniel. Aku saking bahagianya dengan tempat Klinik Kecantikan baruku. Sampai aku ceroboh dan harus seperti ini."
" Lain kali kamu bisa lebih hati-hati Jess!" Daniel menyentuh lembut rambut kepala diatas kening Jessica sembari menatap kedua mata Jessica penuh cinta.
" Iya Daniel." Jessica kemudian melanjutkan makan buburnya sampai habis tak tersisa.
" Aku akan bawa kamu jalan-jalan keluar ruangan dengan naik kursi roda."
" Ide bagus itu."
Pemandangan berbeda di rumah besar Keluarga Andro tepatnya di kamar suka-duka.
" Honey...bisa cepat sedikit ganti bajunya!" Rey yang gelisah melihat jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Elea yang keluar dari ruang ganti diikuti ekspresi wajah cemberut dengan bibir mengerucut. Berjalan malas menuju posisi Rey berdiri malangkerik. " Kamu kenapa cemberut begitu?"
" Kamu tahu, perutku mulai membesar, pipiku mulai chubby dan aku terlihat gendut sekali. Berulang kali aku menatap tubuhku di depan cermin. Aku tak percaya diri lagi." Wajah melas Elea yang malu dengan postur tubuhnya yang kini mulai menggendut.
" Astaga Honey..." Rey yang tak habis pikir karena hampir satu jam dia resah menunggu duduk di sofa kamar hanya karena hal minder yang didera istrinya.
" Ya kamu pasti akan bilang kalau aku sekarang jelek, gendut dan kamu..."
" Kamu apa?" Jemari tangan kanan Rey yang memencet hidung Elea. " Honey, kamu itu cantik, biarpun kamu lagi gendut. Dan itu bagus karena di dalam perut kamu ada dua sekaligus Andro Junior. Itu menandakan kalau ibu hamil sehat."
" Jadi kamu nggak papa gitu, kalau melihat aku tembem begini."
" Yah, aku nggak papa, okay!" Rey yang gemas kepada istrinya sembari memencet dagu tembem istrinya. " Sudah yuk! Nanti keburu telat kita kontrolnya." Rey yang menggandeng mesra kelima jemari Elea. Keduanya sedang ada janji kontrol dengan Dokter spesialis Kandungan pagi ini. Rey dan Elea yang menapaki anak tangga untuk turun ke lantai satu menuju mobil yang terparkir di garasi.
Jarak rumah sakit dan rumah tidaklah terlalu jauh. Hanya butuh waktu 15 menit mobil Rey sudah tiba di pelataran rumah sakit. Rey yang membukakan pintu mobil Elea dan berjalan memasuki rumah sakit.
" Honey..." Rengekan manja Elea. " Kakiku capek." Wajah seperti anak kecil yang sedang meminta permen kepada ayahnya.
" Astaga Honey...Okay, okay, sebentar ya, kamu duduk disini saja dulu! Aku akan ambil kursi roda supaya kamu tidak capek." Rey yang memegangi pundak istrinya dan membawanya duduk terlebih dahulu.
Tidak lama, Rey membawa sebuah kursi roda. Memang kehamilan Elea tidaklah mudah karena ada janin kembar diperutnya. Perutnya juga lebih besar dari usia kehamilan orang normal pada umumnya. Meskipun memasuki usia kandungan baru 3 bulan, namun perut Elea sudah terlihat seperti kandungan usia 5 bulan.
" Honey, maaf ya, kalau aku merepotkan kamu."
" Kehamilan kamu ini kembar. Jadi memang kamu akan lebih capek. Dan aku janji akan jadi suami siaga demi anak kita." Rey yang mengelus perut Elea berulang. Kedua wajah bertatap syahdu penuh kedamaian.
Rey yang mendorong kursi roda Elea menuju ruang Dokter Spesialis Kandungan tiba-tiba bertemu sosok perempuan yang memakai pakaian pasien milik rumah sakit sedang duduk di kursi roda dan didorong oleh seorang pria. Pria yang tidak asing pernah dilihat Rey sebelumnya meskipun Rey tidak begitu pasti mengingatnya siapa pria yang mendorong wanita yang dikenalnya.
Mereka berempat berpapasan. Kedua pria sama-sama sedang mendorong kursi roda. Sementara Rey mendorong Elea karena kelelahan perutnya yang sudah mulai membesar. Sementara Daniel mendorong kursi roda Jessica karena kaki Jessica belum bisa di pakai berjalan dengan normal seperti biasanya.
Rey dan Daniel memberhentikan kursi roda yang mereka dorong. " Jessica."
" Rey...Elea." Jessica yang menatap Rey lalu pandangan kedua matanya turun bergantian menatap Elea.
" Kamu kenapa Jess?" Rey yang melihat Jessica berikut dengan pria yang mendorongnya yaitu Daniel.
REY gumam Daniel.
" A-ku..." Jessica yang akan menjawab pertanyaan dari Rey. Namun Daniel menyelaknya.
" Jessica terjatuh dari lantai dua, kakinya patah dan mengalami keguguran." Jawab Daniel kepada Rey.
Elea dan Rey seketika terkejut. Elea yang menoleh ke arah Rey. " Aku ikut prihatin Jess atas musibah yang menimpamu."
" Terimakasih Rey." Jawab lemas Jessica.
" Jadi..." Rey yang melangkahkan kakinya lebih dekat dengan Jessica. " Syukurlah kalau begitu, jadi aku tidak perlu repot-repot bertanggung jawab atas kehamilan mu." Rey yang menatap tajam sekaligus berpura-pura menyindir Jessica padahal Rey sudah tahu jika anak dalam kandungan Jessica bukan anaknya melainkan anak Mike.
BERSAMBUNG