
Tangis pecah Jessica. Teriakan memanggil nama Rey menggema di kamarnya.
" Jessica...Jessica...Kita ke rumah sakit Jess!" Mami Indy menuntun anaknya menuju mobil. " Apa yang kamu lakukan Jess?"
Jessica tak bergeming karena menahan rasa sakit.
Sesampai keduanya di UGD rumah sakit.
" Biar saya bersihkan lukanya dari pecahan beling Bu." Salah satu perawat yang berjaga di UGD.
" Terimakasih Mbak."
" Aw...aw...aw..." Berulang kali Jessica meringis kesakitan. " Sakiiiit mbak."
" Iya Bu maaf, tolong di tahan ya."
Setelah jemari tangan kanan Jessica selesai diperban. Mami Indy membawa pulang Jessica. Entah mengapa sirine mobil Ambulan tidak bersuara, apa karena sudah masuk ke dalam area rumah sakit sehingga tak terdengar.
" Awaaaaaaaaaaaaaas!" teriak Rey yang menarik Jessica karena nyaris tertabrak mobil ambulans dengan sangat kencangnya. Keduanya jatuh terguling di halaman parkiran rumah sakit.
" Aaaaaaaawwwwwww..." Teriak Jessica yang meringis ditambah menangis karena luka yang baru saja diperbannya mengeluarkan darah segar kembali. Sikut-sikut tangannya lecet semua.
" Jessica." Rey menatap kaget Jessica.
" Rey." Jessica juga sangat terkejut melihat Rey.
Elea yang melongo karena tindakan heroik suaminya yang membahayakan nyawanya sendiri demi menyelamatkan Jessica. " Kamu nggak papa Honey." Elea yang panik dan memastikan suaminya baik-baik saja tanpa terluka sedikit pun.
" Aku nggak papa Honey." Rey yang menjawab manja.
" Hah..." Elea yang bernafas lega. " Syukurlah Honey." Elea yang masih panik menyentuh bulu-bulu tipis tulang rahang suaminya. Menatapnya dengan seksama bahwa benar tidak ada luka sedikit pun.
Sementara Jessica benar-benar dibuat terkesima dengan tingkah keduanya. Menahan sakit dari lecetnya sikut dan luka yang baru saja diperban.
" Kamu gimana Jess?" Rey yang panik melihat darah segar keluar dari luka yang terlihat baru di perban dan siku Jessica yang lecet semua.
" Aku nggak papa Rey. terimakasih ya. Kamu udah menyelamatkan saya."
" Ibu, bapak, saya mohon maaf sekali. Karena pasien di dalam ambulans sedang butuh penanganan segera. Sekali lagi saya mohon maaf ibu, bapak." Supir dari mobil ambulans yang menghampiri Rey, Elea dan Jessica.
" Bapak lain kali lebih hati-hati ya! bagaimana kalau anak saya tertabrak? Niat hati ingin menolong pasien di dalam mobil ambulans, malah berakhir mencelakakan orang lain." Mami Indy yang terlihat marah.
" Iya Bu saya mohon maaf."
" Sudah mi, sudah."
" Tapi ini berbahaya Jess."
" Iya aku tahu mi." Jessica yang berusaha meredam amarah ibunya.
" Bapak lain kali hati-hati ya!" Sahut Rey.
" Baik Pak, sekali lagi saya mohon maaf." Supir ambulans yang kemudian meninggalkan mereka berempat.
" Terimakasih Rey." ujar mami Indy.
" Iya Tante sama-sama."
" Kita pamit dulu ya Tante."
" Apa dia istri kamu Rey."
" Oh, iya Tante. Perkenalkan ini Elea."
" Elea." Elea yang menjabat mami Jessica mami Indy.
" Selamat ya, atas pernikahan kalian."
Jessica yang dibuat melongo dengan sikap maminya. Mami apa-apaan sih?
" Kita..." Rey yang belum selesai bicara.
" Oya, kalian sedang apa di rumah sakit?" Mami Indy yang menyela.
" Elea kakinya terkilir Tante."
" O...." Mami Indy yang memperhatikan kakinya Elea. " Cepat sembuh ya Elea."
" Terimakasih Tante."
Rey yang terkejut mendengar perkataan mami Indy. Mukul kaca rias.
Elea yang langsung nalar mengapa Jessica mukul kaca rias. Apa Rey merasa bersalah karena tahu kalau Jessica mukul kaca rias gara-gara dirinya?
" Kita pulang!" Rey yang melirik ke arah UGD dimana Jessica dan maminya berada dengan menarik lengan Elea dan berjalan menuju mobil.
Di dalam mobil.
" Lain kali jangan sok-sok an pakai Hells 7 centi."
" Iya maaf." Elea melihat Rey gelisah setelah mendengar Jessica baru mukul kaca rias.
Setiba keduanya di rumah.
Rey menatap ayahnya dengan bimbang. Bagaimana caranya mengawali pembicaraan dengan ayah masalah cek yang dititipkan Jessica?
" Honey..." Elea yang mengingatkan suaminya karena hampir menabrak pembatas tangga.
" Oh..." Rey sontak terkejut dengan sangat malu.
Tuan Di yang mendengar kehebohan kecil berasal. " Kebetulan kalian sudah pulang. Apa hari pertama kamu kerja menyenangkan Elea?" Tuan Di yang berjalan mendekat ke arah putranya dan menantunya berdiri.
" Sangat menyenangkan Tuan Di."
" Baguslah Elea." Senyum puas Tuan Di.
" Sepertinya, saya permisi lebih dulu naik ke atas."
" Silahkan Elea."
Tuan Di yang mengajak Rey berbincang di taman belakang.
" Ayah sebenarnya tidak ingin ikut campur dengan urusan hati mu, Tapi karena ini menyangkut Elea. Ayah harus turun tangan."
" Ayah terlalu berlebihan."
" Apa ini tidak berlebihan Rey?" Tuan Di yang mengeluarkan beberapa lembar foto yang didapat setelah memaksa Pak Har untuk tidak menyembunyikan apapun darinya.
Sial. Pak Har benar-benar memberikan foto itu kepada ayah. Wajah kesal Rey dengan tangan mengepal.
" Sekali lagi, jika tindakan kamu tidak tahu tempat. Ayah benar-benar yang akan turun tangan."
" Aku hanya berniat balas dendam yah."
" Andai istrimu tahu foto ini! Apa kamu tahu perasaannya?"
" Ayah jangan berlebihan, aku hanya mencium tangan Jessica. Aku bahkan tidak bertindak terlalu jauh dengannya."
" Siapa yang tahu Rey?" Wajah tegas Tuan Di yang membuat Rey tertunduk. " Jangan salahkan ayah, jika ayah juga akan bertindak keras dengan kamu, jika kamu bertemu kembali dengan wanita ini." Tuan Di yang mengambil foto Jessica kembali dan memasukkan ke dalam saku lantas pergi meninggalkan putranya yang masih berdiri.
" Ada yang Jessica titipkan ke ayah."
Langkah Tuan Di terhenti.
Rey memberikan cek yang dititipkan Jessica.
" Jessica ke kantor, dan menitipkannya kepada ku. Kekhawatiran ayah terlalu berlebihan."
Rey yang lantas pergi meninggalkan ayahnya. Menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Di dalam kamar suka-duka.
Elea sedang sibuk membaca buku dan terlihat banyak sekali tumpukan buku-buku tebal di atas meja.
" Kamu sedang apa?"
" Sedang cari ide buat meeting besok."
" Astaagaaa..." Rey yang tidak habis pikir dengan istrinya. Padahal hari sudah malam, mana mungkin menuntaskan membaca buku-buku tebal yang sudah dia siapkan.
Rey yang berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dan berganti piyama.
Namun entah mengapa, kata-kata mami Indy membuat Rey khawatir dengan Jessica. Selama di dalam kamar mandi, Rey benar-benar memikirkan Jessica. Bahkan Rey mengambil ponselnya dan ingin mengetik pesan untuk Jessica. Apa sudah pulang dari rumah sakit Jess? Rey menghapus kata diatas dan tidak jadi mengirimnya. Apa benar, luka perban mu itu habis mukul kaca rias? pertanyaan yang akan dikirimkan ke Jessica juga dihapusnya. Cepat sembuh ya Jess. Untuk ketiga kalinya Rey menghapus pesan yang akan dikirimnya ke Jessica. Rey akhirnya memutuskan mengurungkan niatnya untuk berkirim pesan ke Jessica.
BERSAMBUNG