Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 19



" Kita pulang yuk!" Daniel membuyarkan isi kepala Jessica yang penuh tanda tanya.


" Iya." Mimik bibir tanpa terdengar suara yang keluar dari bibir Jessica.


Daniel yang setia memapah Jessica masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan tidak lupa memasukkan kursi roda Jessica di bagian belakang mobil.


.


.


" Ayah." Rey dan Elea yang memasuki ruang perawatan ayahnya.


Tuan Di dengan mata sayu dan wajah keriput terlipat nya masih merasa bersyukur bisa melihat putra dan menantunya.


" Ayah sudah tua Rey." nada pasrah Tuan Di dengan kesehatannya yang harus bolak-balik di rawat di rumah sakit.


Rey yang menggenggam tangan ayahnya sembari duduk di samping tempat pembaringan ayahnya. " Ayah, ayah pasti kuat. Ayah sudah membaik kesehatannya. Ayah, please! kurangi minum alkohol ayah dan juga merokoknya. Saya yakin ayah akan jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya."


Tuan Di tak bergeming. " Kapan cucuku lahir?"


" Perkiraan masih kurang 5 bulan lebih yah."


" Bagaimana kondisinya."


" Sehat-sehat semua."


" Syukurlah, semoga aku masih diberi kesempatan melihatnya."


Rey dan Elea yang semakin berdesir hatinya. Mendengar ucapan Tuan Di yang masih mempertanyakan keadaan cucu-cucunya yang belum lahir. Padahal dirinya sendiri sedang terbaring lemah di rumah sakit.


Rey dan Elea saling memberi perhatian kepada Tuan Di dengan menyuapi sarapan pagi dari rumah sakit.


Mereka seperti ada firasat bahwa hidup Tuan Di tidak akan lama lagi. Serangan jantung yang terus-terusan membawanya bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit hingga membuat Rey dan Elea pesimis dengan kesehatan ayahnya.


" Permisi, selamat pagi." berdiri Pak Har dengan membawakan bingkisan buah segar yang terbungkus layaknya mengunjungi orang sakit. Tepat di ujung pintu ruangan Tuan Di yang terbuka lebar, setelah bibi keluar untuk kembali ke rumah.


" Pagi pak Har." Rey menyambut pak Har dan bersalaman dengannya bergantian dengan Elea.


Pak Har yang berjalan menuju ke Tuan Di. " Bagaimana kondisi Tuan?"


Pak Har tersenyum tipis. " Semoga anda lekas sembuh Tuan."


" Hehehe...Apa kamu bercanda Har. Jantungku ini sudah di pasang ring. Usiaku juga sudah tua hampir 70 tahun. Bisa berdiri dan berjalan seperti kemarin-kemarin saja, aku sudah bersyukur. Pintaku yang terakhir hanya ingin melihat kedua cucuku lahir dengan selamat. Dan aku masih bisa melihatnya." Tuan Di sembari menatap wajah menantu kesayangannya. " Ingat baik-baik menantuku. Andro-Andro junior dalam perutmu adalah pewaris semua kekayaan yang saya tinggalkan. Dan kamu Rey, sebagai ayahnya. Kamu harus mengarahkan Andro-Andro junior kelak menjadi pengusaha ulung yang sukses seperti kakek dan ayahnya."


" Iya yah." Rey dengan melangkahkan kaki supaya lebih dekat dengan tempat pembaringan ayahnya.


" Oya Tuan, ini berkas-berkas yang anda minta."


" Sekarang, semua akan aku alihkan kepada Rey dan Elea. Jadi mulai detik ini, semua hal terkait keputusan perusahaan dan proyek, semua atas keputusan bersama antara Rey dan Elea. Tidak boleh sepihak. Melainkan harus sepengetahuan mereka berdua.


" Baik Tuan." Pak Har kemudian menyerahkan berkas-berkas dan juga daftar-daftar perusahaan dan proyek berjalan dan berkembang baik yang sedang di kerjakan maupun sudah berjalan semestinya oleh perusahaan raksasa milik Tuan Di Andro.


Rey yang membaca lembaran demi lembaran kertas-kertas putih bertinta hitam dengan judul DAFTAR PERUSAHAAN dan DAFTAR PROYEK.


Mata Rey tak berhenti membelalak untuk sepersekian detik. Menelan ludah dengan sangat sulit. Ternyata ayahnya begitu banyak menyembunyikan harta Karun darinya. Bagaimana tidak, Rey baru tahu, bahwa Perusahaan Andro bukan lah perusahaan satu-satunya yang dimiliki oleh Ayahnya. Ayahnya bahkan memiliki puluhan Pabrik besar yang tersebar di Indonesia. Begitu juga dengan Perusahaan Yang mengelola batu bara di pulau Kalimantan. Dan masih banyak lagi Proyek berjalan seperti Pembangunan Apartemen, Mall dan fasilitas umum lainnya. Dan semua itu di kelola oleh masing-masing orang kepercayaan Tuan Di yang tersebar pula. Belum lagi Perusahaan yang ada di luar negeri. Rasanya Rey benar-benar tidak percaya dengan harta Karun milik ayahnya.


" Kenapa Rey?" Tanya Tuan Di dengan suara seraknya.


Rey menggigit bibir bawahnya sebelum memulai pertanyaan. " Ayah, aku hampir tidak percaya dengan semua ini." Rey yang mengangkat kertas Daftar Perusahaan milik ayahnya ke udara.


" Semua itu di dapat dengan kerja keras. Semua berawal dari Perusahaan Andro yang begitu pesat mendunia saat itu. Namun Tom" s Tomas menghancurkannya. Untungnya dia tidak tahu semua harta kekayaan ayah yang meluas di semua penjuru wilayah. Jadi semua harta itu terselamatkan. Tom"s Thomas malah menjebloskan ayah ke penjara dengan tuduhan menggelapkan uang dan juga masalah ketenaga kerjaan yang dia rekayasa saat itu. Karena dia sangat sulit melacak semua harta ayah. Karena dia geram tidak mendapatkan semua surat kepemilikan perusahaan satupun, akhirnya dia merekayasa semuanya hingga ayah terpisah dengan mu saat itu selama 10 tahun. Begitu kuat alibinya membuat semua pengacara ayah mundur dan berbelok membela dia sekaligus dia memiliki saudara di Kepolisian, sehingga dengan sangat mudah ayah dijebloskan ke dalam penjara. Hanya uang berjumlah besar saat itu yang dia kuras habis. Dan entah apa yang terjadi. Ayah mendengar dia meninggal karena penyakit stroke yang di deritanya. Tuhan memiliki seribu cara untuk membalas umat yang dzalim. Jadi mengapa? ayah menyembunyikan sedemikian rupa dari mu dan baru ayah buka saat ini." Tuan Di mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan kata per kata kepada Rey. " Menurut ayah, ini adalah waktu yang tepat. Ayah rasa kamu sudah dewasa. Dan jika kamu mengingat, kamu telah salah memilih wanita yang kamu cintai dan membuang waktu 10 tahun lamanya hanya untuk memujanya. Dan itu mau kamu lanjutkan sebenarnya. Makanya, aku tidak terima jika kamu berakhir dengan wanita, anak dari orang yang membuat kita berpisah selama 10 tahun lamanya dan membuat hancur Perusahaan Andro yang berimbas pada semua kehidupan kita."


Rey tertegun mendengar semua penjelasan ayahnya. Terlintas di kepalanya, begitu sangat menyakitkan peristiwa 20 tahun silam. Membuat dirinya menangis sepanjang malam karena ayah yang tidak kunjung datang menjemputnya.


Bahkan saking berterimakasih nya ayah kepada pak Siswanto dan Elea. Sampai-sampai Tuan Di tetap mempersatukan Rey dan Elea dalam sebuah kertas tanda tangan bersama disegala keputusan Perusahaan. Karena saking takutnya ayah, jika dirinya kelak menyakiti Elea. Saking takutnya ayah, karena jiwa tidak stabilnya membuat ayahnya ragu terhadap kemampuan nya.


Rey kemudian melanjutkan membaca semua tumpukan kertas dari semua perusahaan dan semua proyek yang tidak akan mungkin terselesaikan hari ini.


Setelah cukup lama pak Har berbincang dan memberi semangat pada Tuan Di tentang kesehatannya, Pak Har bangkit dari tempat duduknya. " Kalau begitu, saya pamit undur diri Tuan. Waktunya Tuan istirahat." Pak Har yang menyibak kemeja putihnya berlapiskan jas cukup tebal kainnya yanng menutup jam tangannya. Melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Terimakasih Har. Sudah menyempatkan waktumu."


" Sama-sama Tuan."


Rey yang ikut berdiri dan berjalan beriringan mengantar Pak Har keluar sampai pintu ruangan VVIP tempat ayahnya dirawat.


BERSAMBUNG