Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 11 part 4



Sementara di tempat berbeda. Tuan Di sedang di pacu Jantungnya di ruangan UGD. Rey yang hanya bisa melihat dari balik kaca. Dimana ayahnya sedang berjuang antara hidup dan mati. Raut wajah kesedihan tidak bisa di sembunyikan lagi. Lagi-lagi Rey menyesal karena pernah mengenal Jessica. Rey bahkan menyesal membuat nama Jessica bertahta sekian lama di hatinya. Apalagi dengan semua tindakan Jessica dua hari ini. Sudah benar-benar meresahkan hidupnya.


" Bagaimana keadaan ayah saya dok." Rey yang segera bertanya ke Dokter selang Dokter keluar dari ruang UGD.


" Untung saja, anda cepat membawanya, denyut jantungnya kembali normal setelah kita pacu jantung. Coba saja anda telat membawanya."


" Syukurlah." jawab Rey lega dan haru. Rey kemudian masuk menuju pembaringan ayahnya. Rey memandangi sendu wajah tua yang sudah keriput. Mengingat hanya ayahnya yang satu-satunya dimiliki. Rey menyentuh dan mencium kelima jemari keriput yang sudah tua. Semakin memuncak amarah Rey kepada Jessica.


Rey kemudian menghubungi Edo. Mengambil ponsel di saku kemejanya.


" Hallo Do."


" Iya Rey." Edo yang sedang berada di meja kerjanya.


" Jessica hamil." Wajah dan nada datar Rey yang sebenarnya sudah malas berhubungan dengan Jessica.


" What?" Edo yang tidak percaya, mengapa Jessica sampai bodoh tidak memakai pengaman.


" Ini yang belum aku jelaskan kepadamu." Rey memulai pembicaraan dengan Edo, menjelaskan kronologi dia harus pergi mengambil barang di mobilnya saat pulang dari Sydney dan tiba-tiba ada orang yang memukulnya dari belakang dan membawanya sampai di atas ranjang bersama Jessica.


" Hah, gila!" Edo benar-benar terkejut dengan tindakan diluar batas Jessica.


" Makanya aku sekarang butuh bantuan kamu Do. Aku yakin, bukan aku yang menghamili Jessica."


" Iya, aku akan bantu kamu selidiki masalah ini."


" Thanks' ya Do."


" Iya sama-sama."


Percakapan sambungan telepon berakhir. Edo menutup laptopnya. Siapa yang menghamili Jessica. Apa jangan-jangan? Edo yang langsung bergegas mencari keberadaan Mike.


Tidak butuh waktu lama untuk Edo menemukan keberadaan Mike. Tepatnya di Flinder Street mereka sedang duduk di sebuah cafe. Menatap senja dan berbincang santai sembari menyeruput secangkir kopi di atas meja.


" Lama kita tidak berjumpa Mike." Edo yang mengawali pembicaraan kepada Mike. Mike dan Edo hanya beberapa kali bertemu. Mereka bukan teman juga bukan sahabat. Saat Mike menjadi kekasih Jessica, Edo satu kali bertemu dengan Mike saat Jessica mengenalkannya. Selebihnya hanya pertemuan biasa saat kita sedang berada di club sambil menikmati sunset di pinggir pantai.


" To do point' saja! aku tidak banyak waktu!"


" Jessica hamil. Apa kamu mengetahuinya?"


Mike tersedak ketika mendengar apa yang baru saja disampaikan sahabat Jessica. Sudutnya bibirnya mengurai senyum. Lubuk hatinya timbul bahagia, karena sebentar lagi pasti Jessica akan bersimpuh untuk memintanya kembali dan menikahinya. Lamunan Mike terhenti. Sadar bahwa ada sahabat Jessica yang menanti jawabannya. " Aku beberapa hari ini di New Zealand. Jadi aku belum mendengar kabar Jessica hamil."


" Oh...berarti kamu juga tidak tahu, kalau Jessica kembali ke tanah air."


Mike sulit menelan air ludahnya. Dadanya bergemuruh mendengar Jessica kembali ke tanah air. " Oya?"


" Apa kamu tahu? siapa ayah biologis dalam kandungan Jessica?" Delik mata Edo yang mengintimidasi Mike.


" Maksud kamu?"


Malam mulai tiba. Dua orang laki-laki mengakhiri pertemuan mereka. Keduanya berjalan mengarah kepada mobil mereka masing-masing.


" Jess, kenapa kamu selalu menyusahkan aku!" tatapan tajam beserta ucapan lirih dari Mike yang geram dengan ulah Jessica. " Aarrrrrgh!" Teriak Mike memukul setir mobilnya.


.


.


Dikamar suka-duka. Elea yang duduk di atas single sofa sudut kamar tidak kuasa menahan kesedihannya. Elea takut apa yang dikatakan Jessica benar adanya. Sementara keadaannya kini juga tengah hamil anak kembar. Elea benar-benar kepikiran apa yang dikatakan Jessica kepadanya hingga perutnya terasa sakit yang datang tiba-tiba.


Bibi yang akan membawa pinggan berisi nasi, lauk, sayur, buah dan juga susu untuk nona Elea. " Non, non Elea." Ketukan dan panggilan bibi.


Elea menahan perutnya kesakitan. " Masuk bi!"


Bibi baru tiga langkah, namun melihat nona Elea yang menahan sakit dan memegangi perutnya menjadi panik seketika. " Non Elea...Non Elea kenapa?" bibi yang panik langsung turun ke bawah memanggil supir untuk membantunya membawa nona Elea ke rumah sakit.


Bibi kemudian menghubungi ponsel Tuan Rey untuk memberikan informasi tentang keadaan nona Elea. Sambungan telepon tidak lama diangkat oleh Rey. " Halo Tuan." Suara bibi yang terlihat panik.


" Iya bi, ada apa?"


" Tuan, nona Elea dibawa supir ke rumah sakit. Perutnya mendadak sakit Tuan."


Rey yang matanya mendelik dengan wajah langsung memucat. Takut kalau janin dalam kandungan istrinya kenapa-napa. Dalam benaknya sudah sangat benci dengan Jessica. Karena semua kekacauan ini adalah ulah Jessica. Rey kemudian bergegas keluar dari ruangan Tuan Di. Rey yang sambil jalan tergopoh mencoba menghubungi supir dan memberi tahu jika nona Elea sudah ditangani dokter di ruang UGD di sebuah rumah sakit yang sama dengan ayahnya.


Rey yang sudah bertemu dengan supirnya dan sekarang Rey hanya bisa menunggu sembari berdoa supaya janin dalam kandungan Elea baik-baik saja.


" Tuan suaminya ibu Elea?"


" Iya Dok, silahkan masuk!"


Perasaan Rey campur aduk. Melihat Elea yang memalingkan wajahnya saat dia menatapnya. Rey kemudian duduk di hadapan meja kerja dokter. " Bagaimana dok istri saya?" Rey yang berpura-pura kuat padahal dalam hatinya sangat khawatir dan takut.


" Bapak, lain kali, kesehatan dan asupan ibu Elea harus benar-benar diperhatikan. Masalahnya, ada dua janin sekaligus. Dan itu sangat beresiko sekali pak, jika sekali lagi ibu Elea seperti ini terus. Bukan tidak mungkin, ibu Elea akan mengalami keguguran."


Deg. Rey yang susah payah menelan ludahnya. Dan semua terjadi karena ulah dirinya yang masih perduli dengan Jessica. Yang berujung dengan kejadian dua hari ini. " Iya Dok, saya mengerti."


" Tolong ya pak, ibu Elea juga jangan banyak pikiran."


" Iya Dok."


" Jika ibu Elea sudah mendingan, boleh dibawa pulang!"


" Iya Dok terimakasih." Langkah Rey yang lemas, namun dia tidak boleh menyerah. Dua orang sedang terbaring di rumah sakit, ayahnya yang mendadak terkena serangan jantung karena pengancaman dari Jessica yang akan menyebarkan foto-foto tidak patutnya ke semua wartawan. Elea yang bisa saja hari ini keguguran dan dirinya sendiri akan kehilangan calon bayi dalam kandungan istrinya. Kebenciannya terhadap Jessica semakin tak tertolong.


BERSAMBUNG