Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 17



" Kamu tahu kan syaratnya apa?" Rey yang menunduk kebawah. Matanya berhenti pada barang pendekar pemuas yang sembunyi dibalik handuknya.


Elea mengernyitkan dahinya tipis. Sadar kalau dia dan suaminya sedang berpuasa untuk saling memuaskan satu sama lain. Sangat lama sekali mereka tidak bertarung dengan aksi nakal di atas ranjang. Dokter Spesialis Kandungan menyuruh suami dan dirinya untuk saling menahan satu sama lain sampai usia kandungan benar-benar kuat. Kalau pun mereka sama-sama menginginkan, mereka harus melakukannya dengan sangat pelan-pelan supaya aman sampai tujuan. Haha...


Elea menggaruk resah pinggir dagu bawah miliknya. Elea tak bergeming lalu memutar tubuhnya dan ingin menuju kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. Namun baru satu langkah. Rey memberhentikan nya dengan menarik pelan pergelangan tangannya. Rey membawa tubuh Elea yang mulai berat ditariknya ke atas ranjang. Dengan perlahan adegan dewasa keduanya tak terelakkan. Rey juga sangat pintar mempraktekkan semua adegan dengan sangat lamban dan pelan alias slow motion.


.


.


Keesokan harinya.


" Tuan...Tuan Rey." Teriakan dari balik pintu yang digaungkan bibi mengetuk pintu kamar Rey dan Elea.


" Nona Elea...Nona." Ketukan pintu dari bibi yang tidak ada hentinya.


" Iya bi." Nada serak Rey habis bangun tidur dengan mata yang belum terbuka sempurna. Jemarinya meraba, mencari piyama tidurnya namun ternyata dia salah ambil malah mengambil dua bulatan menyatu sebagai tempat istimewa milik istrinya. Rey kemudian bangun dari tidurnya diikuti terus tanpa henti suara bibi yang memanggilnya bergantian dengan nama istrinya dari balik pintu. Mengambil piyama yang berserak di samping ranjang menyatu pula dengan milik Elea. Rey kemudian mengucek kedua matanya kasar lanjut berdiri dan berjalan sembari menggaruk rambut kepala dengan langkah malas.


Ceklek. Jemari berisi nan kekar memegang daun pintu dan membukanya. " Ada apa bi?" tanya Rey masih dengan suara malas dan sedikit serak.


Bibi yang raut wajahnya tidak bisa dibohongi lagi. Bibi panik dan takut. " Tuan, Tuan Di tidak sadarkan diri."


Rey yang tadinya berdiri malas sembari memegangi daun pintu kamarnya, seketika wajahnya berubah tegang. Menelan ludahnya dengan sangat sulit. " Ayah..." Rey langsung berlari keluar menuju kamar ayah dengan wajah panik pula.


Diikuti dengan bibi yang mengekori punggung Tuannya. Rey kemudian membanting kasar pintu ayahnya dan berlari mendekat menyentuh pergelangan tangan milik ayahnya. Rey mengecek denyut nadi milik ayahnya.


" Ayah...ayah harus kuat, kita ke rumah sakit." Rey yang memapah tubuh renta ayahnya berlari sekuat tenaga menapaki anak tangga turun ke lantai satu dan menuju garasi dimana mobil terparkir. Rey tahu jika ayahnya sudah tak sadarkan diri, Namun Rey tetap berbicara kepada ayahnya. " Ayah...Ayah kuat."


Mata berkaca-kaca sudah tidak bisa ditepis lagi. Rey yang menancap gas mobilnya dengan cepat ditambah dengan jarak rumah dan rumah sakit yang tidak terlalu jauh membuat mobil sport keluaran terbaru itu masuk tanpa bunyi sampai ke pelataran rumah sakit tepat di depan UGD.


Rey berlari keluar. " Suster...suster! Tolong ayah saya!" Rey yang panik dengan rambut tipis, wajah dan piyama yang tak karuan.


" Iya pak." Suster yang berlari kemudian mengeluarkan Tuan Di dengan membaringkannya di atas tempat tidur rumah sakit dan mendorongnya masuk ke ruang UGD.


Perkataan yang sama oleh setiap dokter adalah menyuruh pihak keluarga untuk menunggu di depan ruangan sembari duduk di tempat yang sudah disediakan.


Rey yang cemas tidak ketulungan. Sementara Elea masih menggeliat di atas ranjang. Bibi tidak berani membangunkan nya apalagi nona Elea juga tengah hamil.


Meraba suami yang dikiranya masih terbaring di atas ranjang. Elea kemudian terperangah menutupi bagian istimewa dibalik selimut tebal putihnya. Mencari keberadaan suami yang menurutnya masih sangat pagi dan akan rugi jika bangun terlalu dini. Karena biasanya Rey akan tambah ronde untuk membangkitkan gairah bercinta nya kembali sampai dia benar-benar bosan melakukannya.


" Kemana dia?" tanya lirih Elea sembari kelima jemarinya meraba ke tempat dimana seharusnya Rey masih terbaring dan biasanya masih akan memeluk dirinya dari belakang.


Elea kemudian berjalan malas menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Elea yang celingukan di meja makan. Tak ada siapa-siapa dan rumah terlihat sepi.


" Bi...bibi." Elea yang berjalan mengarah ke mini bar dan melihat sekeliling. Namun tak ada jawaban.


" Nona Elea." panggil asisten rumah tangga yang lainnya tetiba sudah berdiri di belakangnya.


Elea menyembulkan kedua pundak karena saking kagetnya. " Astaga." Kelima jemari Elea yang dia letakkan di dada untuk mengelusnya karena detak jantungnya yang terkejut.


" Maaf nona Elea, sudah mengagetkan." asisten rumah tangga yang berdiri canggung antara sedikit menunduk dengan menautkan kesepuluh jemari yang dia letakkan di depan perutnya sembari berdiri tidak tegap.


" Iya nggak papa. Kemana semua? kok sepi." Tanya Elea yang mengedarkan retina matanya ke seluruh sisi rumah.


" Tuan Di terkena serangan jantung. Tuan Rey membawanya ke rumah sakit."


" Apa?" Elea terkejut bukan main.


Klililililit suara telepon rumah yang berdering. " Saya angkat telepon dulu nona Elea."


Elea menatap asisten rumah tangga dengan mengangguk.


Asisten rumah tangga yang bergegas menerima panggilan telepon. " Hallo dengan Keluarga Andro."


" Tolong kasihkan gagang teleponnya ke ibu Elea."


" Baik Tuan Rey." Asisten rumah tangga yang berlari kecil menuju dimana Elea duduk di meja makan. " Ini nona Tuan Rey."


Elea mengambil gagang telepon lalu menempelkan pada telinga nya. " Iya Honey. Bagaimana dengan keadaan ayah?"


" Kamu tenang aja! Dokter sudah melakukan yang terbaik. Tekanan jantung ayah sudah normal kembali. Jadi kamu tidak usah khawatir. Ayah memang bandel untuk mengurangi whiskey dan juga cerutunya. Sedikit banyak itu mempengaruhi kesehatan jantungnya. Kamu di rumah saja, sebentar lagi aku pulang, mandi dan kembali ke rumah sakit. Bibi disini bergantian menjaga ayah."


" Syukurlah kalau tekanan jantung Tuan Di sudah kembali normal. Kamu hati-hati pulangnya Honey!"


" Iya." Jawab lesu Rey yang terlihat sekali lelah karena semalaman begadang bermain asyik di ranjang. Malah paginya harus dikagetkan dengan serangan jantung ayahnya yang membuat dia pagi-pagi buta harus berlarian menuju rumah sakit.


" Aku pulang dulu ya bi, mau ganti baju, mandi. Setelah mandi aku balik kesini." Rey mengusap tengkuk leher belakang dengan malas sembari berjalan keluar pintu ruang UGD.


Bibi melongo melihat di leher terbuka milik Tuan nya yang penuh tanda merah. Menahan tawa dengan memperhatikan terus Tuannya berjalan keluar dari pintu UGD hingga lenyap dari pandangannya.


BERSAMBUNG