Forced to Marry

Forced to Marry
Bab 11 part 7



" Selamat pagi, apa dengan ibu Jessica?" Salah seorang pegawai pengantar sample undangan Jessica dan Rey.


" Iya saya sendiri." Jessica yang keluar dari ruang kerjanya dan menemui pegawai pengantar contoh undangan yang akan mengejutkan dan membuat geger seisi rumah keluarga Andro.


" ini Bu, contoh undangan yang ibu pesan." Pegawai pengantar undangan sembari memberikan contoh undangan yang dipesan oleh Jessica.


" Oh ya, terimakasih."


" Sama-sama Bu, saya permisi dulu." Pegawai pengantar undangan yang keluar dari Klinik Kecantikan milik Jessica yang berada di PACC Mall.


Senyum penuh kelicikan yang mulai terlihat keluar hingga wajah Jessica penuh pengharapan ditengah hancurnya harga diri gara-gara ulah Mike.


Jessica kemudian mengirimkan sample undangan yang terpampang jelas foto dirinya dan Rey begitu juga dengan ukiran nama dalam undangan tersebut adalah nama dirinya Jessica Anindita dan juga Rey Andro. Entah setan apa yang merasuki Jessica hingga obsesinya begitu menggebu ingin memiliki Rey yang jelas-jelas masih berstatus suami dari Elea. " Kalian pasti akan shock berat." sudut bibir Jessica menyeringai.


Bahkan Jessica sendiri yang mengantar undangan tersebut ke rumah Rey. Rumah dengan penjagaan ketat, membuatnya sulit bertamu seperti biasanya. Apalagi dengan masalah yang dia ciptakan akhir-akhir ini membuatnya sadar bahwa dia harus menyuruh orang atau menutup wajahnya supaya dia bisa memberikan undangan ini ditangan Rey atau Elea kalau bisa Tuan Di.


" Sst...sst..." Jessica yang memanggil mas-mas tukang ojek yang sedang parkir menunggu penumpang tidak jauh dari rumah Rey.


" Iya nona." Tukang ojek yang langsung menghampiri Jessica.


" Aku ada pekerjaan. Kasih paket ini ke rumah besar itu. Bilang saja untuk Tuan Rey dan nona Elea." Jessica sembari menyerahkan undangan yang sengaja dia cetak untuk mengancam keluarga Andro yang dia bungkus seperti pesanan paket supaya tidak menimbulkan kecurigaan di pos pengamanan. " Ini bayarannya." Jessica yang mengambil uang 3 lembar 100 ribuan dari dalam dompetnya dan menyerahkan kepada tukang ojek yang disuruhnya.


" Baik nona. Terimakasih."


" Okay." Senyum lega dari Jessica karena misi pertama untuk membuat geger dan keributan antara Rey dan Elea sebentar lagi akan dimulai. Dan sebentar lagi Jessica juga akan mengirim pesan kepada Rey untuk membuatnya kalang kabut. Jessica yang merapikan rambutnya di pelipis dan menaruhnya di belakang telinga. Berjalan penuh semangat menuju mobilnya terparkir sembari menunggu dering ponsel berbunyi dari Rey.


Sementara suasana di dalam rumah membaik. Setelah Rey berjanji akan menuntaskan masalah ini. Elea sudah tidak uring-uringan bahkan cenderung manja kepada suaminya.


Rey yang tengah membuatkan susu untuk ibu hamil berada di dapur begitu juga dengan Elea. Tampak keduanya sangat mesra dan saling melempar canda.


Elea yang sedang duduk di meja makan. Meneguk segelas susu rasa vanilla khusus untuk ibu hamil yang telah dibuatkan oleh suaminya. Tegukan pertama. " Tuh kan papap kalian kalo bikin susu kemanisan." Nada manja Elea yang baru saja merasakan tegukan pertama dari segelas susu yang dibuatkan Rey sembari mengelus perutnya seolah mengadu kepada Andro-Andro junior. " Ini terlalu sweet Honey."


Dahi Rey yang mengernyit tipis. " Oyah." Rey yang kemudian mencicipi segelas susu ibu hamil yang dibuatnya sendiri. " Em, iya ini terlalu manis, aku akan tambahkan air hangat." Rey yang kemudian membawa segelas susu rasa vanilla untuk ditambah air hangat menuju dapur.


" Tuan." panggil bibi yang membawa bungkusan warna hitam tipis yang tidak terlalu besar.


" Iya bi." Rey yang tengah mengaduk segelas susu ibu hamil setelah ditambahkan air hangat.


" Ini Tuan, ada paket untuk Tuan." Bibi yang menyerahkan paket bungkusan hitam kepada Tuan Rey.


" Paket?" Rey yang kaget karena dia tidak pernah belanja online.


" Bi, tolong bikinkan saya secangkir kopi hitam kental manis." Tuan Di yang tiba-tiba sudah berdiri di depan mini bar dapur.


" Baik Tuan Di." Bibi yang meletakkan bungkusan hitam di dekat Tuan Rey.


Rey kemudian menyusul ke meja makan dengan membawa segelas susu vanila yang sudah ditambahkan dengan air hangat. " Ini Honey!"


Elea menangkap segelas susu vanila dan meletakkan pada mulutnya untuk segera dia minum. Perlahan satu gelas susu vanila menyusut hingga habis tak tersisa masuk ke dalam perut Elea.


Rey yang memperhatikan istrinya nampak heran dengan ulah ibu hamil yang minum dan makan dengan rakusnya.


" Kenapa lihatnya sampai begitu?" Elea yang melirik suaminya sembari meletakkan gelas kosong di atas meja yang baru sedetik tadi terisi penuh dengan susu rasa vanilla.


" Enggak." Rey menggeser retina matanya mengalihkan pandangannya dari Elea.


" Hahaha..." Tuan Di yang terpingkal melihat tingkah putra dan menantunya. " Syukurlah kalau kalian sudah tidak bertengkar lagi. Sebaiknya memang begitu."


" Ini Tuan kopinya." Bibi yang meletakkan kopi pesanan Tuan Di di atas meja.


" Terimakasih bi."


" Sama-sama Tuan."


" Apa itu Rey?" Tuan Di yang mengambil secangkir kopi untuk diseruput nya dan melihat bungkusan hitam di atas meja.


" Aku juga tidak tahu yah, kata bibi paket, sementara aku tidak pernah belanja online. Punyamu Honey?" Rey sembari mengangkat bungkusan hitam tipis itu kearah Elea.


" Enggak." Elea menggelengkan kepalanya.


Suasana berubah hening sesaat. Pandangan mata tertuju dengan saling tatap satu sama lain. Timbul perasaan tidak enak Rey. Seperti yang sudah-sudah. Meskipun hanya satu kali Jessica pernah mengirimkan paket ke rumah ini. Namun tidak bisa dipungkiri, bahwa obsesi Jessica adalah sumber masalah untuk Rey dan Elea bahkan ayahnya dan merembet ke Perusahaan Andro ujungnya.


Rey berdehem. Perlahan membuka bungkusan hitam tipis itu. Krek. suara double tip yang dia coba rusak kan. Mulai terlihat bahwa isi dalam bungkusan hitam tipis itu adalah sebuah undangan.


" Apa Rey." Tuan Di yang meletakkan dua lengannya di atas meja sembari menanti jawaban putranya.


Elea yang mulai gelisah. Apa lagi ini?


Rey yang matanya membulat sempurna. Melihat sampul undangan pernikahan yang berfoto kan dirinya dan Jessica. Rey yang menggelengkan kepalanya berulang. Raut wajahnya berubah menahan amarah yang tak hentinya kepada Jessica. Rasanya benar-benar ingin melempar Jessica ke laut atau ke planet mars saja. Karena lagi-lagi dia selalu membuat ulah dan onar untuk mengacaukan kedamaian dalam rumah ini.


" Apa?" tanya Elea dengan nada lirih sekaligus cemas.


" Jessica benar-benar sudah gila. Dia benar-benar sudah tidak waras lagi." Rey sembari memperlihatkan undangan pernikahan yang dikirim Jessica kepada Elea.


Elea menganga. Menelan ludahnya dengan sangat sulit. Elea menggelengkan kepalanya tak percaya.


BERSAMBUNG