
Jessica yang masih berdiri dengan panik. Tak lupa tangannya dia sandarkan ke pembatas lift. Mengambil ponselnya dari dalam tas dan berusaha menghubungi siapa pun yang bisa dia hubungi untuk meminta pertolongan. " Arrgh!" kesal Jessica dengan meremas ponselnya. Ternyata tidak ada jaringan di dalam lift. Sehingga dia harus pasrah berduaan di dalam lift bersama si Daniel orang suruhannya Tuan Di.
" Hiks...hiks...hikz..." tangis Jessica dengan duduk di sudut lift.
" Kamu bisa nangis juga." Daniel yang kaget dengan sosok Jessica yang katanya sedang mengancam akan menyebarkan foto-foto dirinya dan Rey Andro malah terlihat seperti wanita lemah di hadapannya.
Jessica tak menggubris apa yang dikatakan Daniel kepadanya. Jessica mencoba berteriak dan menggedor-nggedor lift supaya ada orang yang mendengar dan menolongnya.
" Tolong...tolong...tolong...Apa ada orang di luar?"
" Gedung sudah sepi. Toko-toko dalam mall sudah tutup semua, apalagi lift menuju ke ruangan ku ini. Sangat jarang orang berlalu lalang."
" Terus kamu akan tinggal diam. Kamu tahu kan, kita udah berapa menit disini." sentak Jessica kepada Daniel.
" Nona Jessica, tolong anda jangan panik."
" Bagaimana aku tidak panik. Kalau anda sendiri juga menakut-nakuti saya." Daniel dan Jessica beradu mulut dalam kegelapan di dalam lift.
" Terserah anda." Daniel yang mulai pasrah dengan sikap Jessica.
" Tolong...tolong...tolong..." Teriak Jessica untuk kesekian kalinya sembari menggedor-gedor pintu lift.
Lima belas menit berlalu. Keduanya sudah mulai merasakan gerah dan panas karena tidak ada udara sedikitpun. Jessica sudah mulai lemas dan sesak. Namun tetiba ada petugas teknisi yang kemudian datang.
" Pak Daniel." teriak petugas teknisi.
" Iya pak, kami di dalam."
" Tunggu ya pak, sebentar lagi liftnya akan terbuka, bapak sabar dulu ya!" pinta petugas teknisi kepada Daniel.
Jessica yang sempat lemas mulai terasa ada harapan. Dia kemudian menarik nafas panjang karena hidupnya terselamatkan.
Satu...Dua...tiga...Kedua petugas teknisi yang berusaha membuka pintu lift.
Perlahan lift pun terbuka. Terlihat cahaya lampu terang yang berusaha menyinari dalam lift.
Jessica masih duduk terkulai di sudut lift. Hatinya sangat lega seperti ada kesempatan kedua.
" Pak Daniel " Kedua petugas teknisi yang langsung mendekati Daniel yang masih duduk bersender.
" Saya nggak papa pak." Daniel yang berusaha berdiri, beranjak dari tempat senderannya. Mengulurkan tangan kepada Jessica. Namun Jessica tidak merespon. " Nona Jessica, anda tidak papa." Tetiba Jessica ambruk terkulai. " Nona Jessica." wajah Daniel seketika panik kemudian dengan cepat dia memegang bagian pergelangan tangan untuk memeriksa denyut nadi Jessica. Terasa masih ada denyut nadi, Daniel langsung memapah Jessica berlari dan menuju parkiran mobilnya. Daniel membawa Jessica ke rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit. Daniel berlari masuk ke ruang UGD. " Suster, tolong suster!"
Daniel yang sedikit panik.
" Iya sus." Daniel yang berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD.
Setelah sekitar lima belas menit dokter memeriksa kondisi Jessica di dalam ruang UGD. Dokter akhirnya keluar dari ruang UGD disusul Daniel yang mendekat di depan tempat dokter berdiri tepat di depan pintu ruang UGD.
" Bagaimana dok?"
" Bapak tidak usah khawatir, semuanya baik-baik saja. Setelah infusnya habis dan pasien sadar. Bapak boleh membawa pulang pasien. Oya pak, tolong diingatkan kepada pasien untuk lebih berhati-hati lagi dan menjaga asupan makanannya karena pasien sedang hamil muda."
Duar. Daniel yang menelan ludahnya dengan susah payah. Mulutnya menganga mendengar apa yang dikatakan oleh dokter. " I- iya Dok." jawab ragu Daniel. " Jadi Jessica hamil, makanya kenapa dia begitu ngotot ingin menghancurkan keluarga Andro. Masak sih? seorang Rey Andro keturunan Tuan Di Andro yang sudah cukup lama aku mengenal, bisa melakukan hal gila seperti itu. Tidak!tidak! Aku harus tanyakan kepada pak Har." ucap lirih Daniel yang bertanya pada dirinya sendiri. Daniel kemudian masuk ke dalam. Berjalan dan berdiri mendekat di tempat pembaringan Jessica. Memandang wajah putih bersih Jessica sedikit memucat. Pandangan Daniel menjalar dari bagian wajah turun perlahan ke bagian perut Jessica yang memang sedikit terlihat seperti orang hamil meskipun belum terlalu besar.
" Egh..." Jessica yang perlahan membuka matanya. Melihat samar-samar pria yang tidak salah lagi menurutnya adalah Daniel. " Aku dimana?"
" Anda sudah sadar nona?" Daniel yang lebih mendekat dengan memberi bantuan kepada Jessica untuk bangkit dari tidurnya membuat posisinya menjadi duduk bersandar ditempat pembaringan.
" Terimakasih Daniel." Jessica yang terlihat sudah lebih baik.
" Sama-sama nona Jessica."
" Bukankah anda tangan kanan Tuan Di Andro. Lalu mengapa anda masih menolong saya?"
" Apa menurut anda aku terlihat kejam? sehingga akan membiarkan wanita terkulai lemas tak sadarkan diri begitu saja." Tatapan Daniel yang mulai membuat Jessica panas dingin.
Jessica benar-benar terpana dengan ketampanan Daniel. Terlebih sikapnya yang malam ini bisa dibilang manis bagaikan twinflame dari seorang Rey Andro yang dulu pernah begitu memperhatikannya. Meskipun Rey sekarang berubah gegara ulah dirinya pula. Namun entah mengapa, Daniel datang disaat tidak tepat dan seperti disengaja oleh Tuan Di untuk membuyarkan rencananya. Tapi Jessica berusaha menyambut sikap Daniel yang sudah bersikap baik kepadanya yang harusnya tidak dia lakukan mengingat dia adalah tangan kanan dari musuhnya saat ini. Tuan Di Andro.
" Maaf, saya ingin pulang." Jessica yang sudah tidak tahan lagi jika harus lama-lama berduaan dengan Daniel. Hati Jessica rasanya menyublim jika terus-terusan harus memandang wajah Daniel yang begitu terlihat sempurna.
" Sebentar, biar saya panggilkan suster untuk mencabut jarum infus." Daniel yang kemudian keluar dari ruang UGD untuk memanggil suster.
" Hah..." Jessica yang membuang nafas panjangnya. Merasakan keanehan dalam degupan jantungnya saat didekat pria yang baru saja dikenalnya kurang dari setengah malam.
Daniel dan suster yang tidak lama kemudian masuk ke dalam ruangan. Suster kemudian mencabut jarum infus milik Jessica.
" Terimakasih sus." Daniel yang tak lupa mengucapkan kata terimakasih kepada suster.
Entah mengapa Jessica yang berdiri di dekat Daniel berulang kali dibuat meleleh dengan sikap Daniel dalam bertindak-tanduk. Semua sikapnya manis seperti tak jauh beda dengan Rey. Jessica benar-benar seperti Dejavu.
" Ayo!" Daniel yang menyentuh lengan Jessica ingin menuntunnya.
Deg..deg..deg..deg..Suara hati Jessica yang berdebar kencang. Apa an sih Jess? Please! malu tahu, jika kamu ketahuan mengaguminya. Awas ya Jess! Kamu jangan sampai salting! Wajah keduanya dengan sangat dekat bertatapan karena berjalan beriringan dengan tangan Daniel yang menaut di lengan Jessica untuk menuntunnya.
BERSAMBUNG