
" Saya panggilkan Jessica." Mami Indy sangat senang menyambut sosok Daniel. Senyumnya merekah menular pada binar matanya yang membawa aura kebahagiaan. Mami Indy terlihat menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai dua.
Gagang pintu dibukanya. Melihat Jessica masih tak bergeming di depan cermin riasnya. " Jessica..." Kesal mami Indy memanggil Jessica yang masih meratapi nasibnya. " Sa yang, kenapa kamu masih bersedih saja sih?" Mami Indy yang menyentuh dagu putrinya yang terlihat jelas wajahnya sangat murung dan tak bersemangat. " Diluar ada Daniel."
Jessica langsung membulat sempurna matanya. Menelan ludah yang lagi-lagi dengan susah payah ketika mendengar huruf D-a-n-i-e-l yang terangkai Daniel, pria yang belum sehari dia kenalnya. Namun sudah berani memenuhi isi kepalanya bahkan membuat resah hatinya. Tangan kanan Tuan Di ini benar-benar sudah membuat leleh hatinya. Rasanya Tuan Di dan Rey akan menang dalam peperangan ini jika dia harus berhadapan dengan sosok Daniel terus menerus. Tapi apa daya, Jessica akan tetap mengikuti kata hatinya yang sedang galau, gundah gulana. Mengenal pria yang mau datang kepadanya apa lagi dalam keadaan seperti ini adalah memberikn secercah harapan baginya. " Daniel."
" Iya, siapa dia? kenapa kamu tidak pernah mengenalkannya kepada mami?" Mami Indy bagaikan penyidik yang sedang menginterogasi tersangka.
" Aku harus siap-siap mi, nanti akan aku jelaskan. Mami keluar! ajak ngobrol Daniel. Okay." Jessica yang gugup dan tergesa beranjak dari tempat duduknya dan membuka lemari pakaiannya untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya pagi ini.
Mami Indy yang melihat putrinya seperti bahagia. kedatangan sosok pria bernama Daniel ini. Mami Indy lantas keluar dari kamar putrinya dan menuruni anak tangga menuju lantai satu. Menghampiri sosok pria yang menyandarkan punggungnya di single sofa berwarna kuning besar. " Sebentar nak Daniel, Jessica sedang siap-siap." Mami Indy yang kemudian duduk di single sofa tepat di depan Daniel yang terjeda dengan meja kotak persegi panjang yang besar.
" Iya Tante."
" Kalau boleh tahu, nak Daniel ini..."
" Hai.." Jessica yang menyelak pertanyaan maminya. Jessica yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Daniel tanpa mami Indy ketahui kedatangannya.
" Hai." Senyum Daniel yang menyapa balik Jessica.
" Tante, boleh saya pinjam Jessica?"
" Oh, iya silahkan, silahkan."
Jessica yang mencium kedua pipi maminya. " Aku pergi dulu ya mi." lirih Jessica berpamitan kepada mami Indy.
" Iya. Hati-hati sayang." Mami Indy yang menepuk pipi putrinya sebanyak dua kali seperti kebiasaan dari kecil yang dilakukan nya kepada Jessica.
" Iya mi." Jessica yang kemudian berjalan beriringan dengan Daniel menuju ke pintu utama. " Saya permisi Tante."
" Iya, hati-hati kalian." Mami Indy yang bahagia melihat putrinya berjalan kembali dengan seorang laki-laki.
Daniel yang membukakan pintu mobilnya untuk Jessica. Sesaat Jessica menatap Daniel. Begitu juga Daniel yang menatap wajah dan juga mata Jessica. Jessica merasa berbunga-bunga karena setelah sekian lama diperlakukan Mike bagaikan binatang peliharaan yang harus patuh mengikuti keegoisannya. Namun begitu berbanding terbalik ketika melihat pria tampan nan baik hati bagaikan twinflame dari Rey yang memperlakukannya seperti seorang putri. Jessica kemudian naik dan duduk di dalam mobil. Daniel yang menutup pintu mobil kemudian berjalan menuju posisi seharusnya dimana dia yang menyetir mobil.
" Oya Jess, ini untukmu." Daniel yang membawa satu ikat bunga mawar merah segar dari sebuah florist. Satu ikat bunga mawar merah segar yang kira-kira berisi sekitar 20 tangkai ikat bunga. Daniel kemudian memberikan nya kepada Jessica.
Ya Tuhan, baik sekali sih dia. Dia tahu kalau aku lagi hamil. Tapi masih bisa sweet seperti ini. Jessica yang lagi-lagi dibuat tersanjung dengan sikap manis dari Daniel. " Terimakasih Daniel." Jessica yang meletakkan 20 tangkai mawar merah segar yang terikat saling menyatu berhiaskan pita yang warnanya senada dengan warna bunga mawar. Merah maroon, itu di atas kedua pahanya. Bau semerbak dari wangi bunga mawar itu memenuhi semua bagian mobil. Namun sialnya, Jessica yang sedang hamil muda tiba-tiba merasakan mual dan ingin muntah ketika mencium aroma bunga mawar itu. Tahan Jess! Tahan! nggak banget deh Jess, kalau kencan pertama kamu yang sudah romantis harus ambyar gegara kamu mual. Apa kata Daniel nanti? Dia pasti akan malas lagi mengajakmu pergi. Plis Jess!
Jessica yang berperang dengan batinnya sendiri. " Daniel..." Jessica yang sudah tidak tahan ingin muntah.
" Iya Jess."
Daniel seketika menginjak pedal rem dan mobil mendadak berhenti.
Jessica dengan cepat membuka pintu mobil sembari menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya dan melanjutkan muntah nya kembali di pinggir jalan. " Uogh...uogh...uogh..."
Sementara Daniel yang melihat kemeja bagian kirinya sudah penuh dengan segala muntahan Jessica. Daniel sebenarnya ingin marah, namun ketika melihat kondisi Jessica yang memang harus dimaklumi karena memang dia sedang hamil muda. Daniel kemudian keluar menyusul Jessica dengan membawakan tisu beserta tempatnya. Daniel mengulurkan tangan yang membawa tisu dan memberikannya kepada Jessica.
Jessica yang merasa kesal dan malu. Jessica mengambil satu lembar tisu dan mengelap bagian bibirnya. Jessica sampai tidak berani menatap Daniel.
" Sudah."
" Maaf Daniel, kemeja kamu jadi kotor."
" Nggak papa Jess." Daniel masih mengulurkan tangannya untuk membawa Jessica berjalan masuk ke dalam mobil kembali. Jessica sembari mengelap bagian jok mobil yang terkena muntahannya dengan menggunakan tisu.
Daniel yang kemudian masuk dan melajukan mobilnya kembali.
Jessica dengan perasaan tidak enak dan keduanya saling curi pandang karena suasana menjadi tidak nyaman karena ulah si jabang bayi dalam kandungan. Jessica memberanikan diri menyentuh lengan sebelah kiri Daniel dan mengelap kemeja yang terkena muntahannya. " Maaf ya Daniel." Jemari Jessica sembari mengelap bagian kemeja Daniel yang kotor.
Daniel yang hanya menganggukkan kepala ringan.
" Kita mau kemana?"
" Kita ke apartemen ku dulu. Aku akan ganti pakaian dan ..."
" Dan apa?" tanya cepat Jessica.
" Kamu lihat saja nanti!" Mobil sudah memasuki pelataran parkiran apartemen milik Daniel. Daniel kemudian memarkir mobilnya dan mengajak Jessica keluar dan masuk ke dalam loby apartemennya.
Keduanya jalan beriringan menuju lift di lantai 3. Daniel yang sedari turun dari mobil tak sebentar pun melepaskan genggamannya dari jemari Jessica. Jessica yang jantungnya mau copot, ketika Daniel berusaha untuk selalu didekatnya.
Pintu lift terbuka dan keduanya berjalan keluar lift menuju apartemen 333.
Ceklek. Gagang pintu yang dibuka oleh Daniel. " Masuk Jess."
Jessica yang melirik ke arah Daniel kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen milik Daniel. Apartemen milik Daniel terbilang mewah. Disambut dengan sofa minimalis yang menghiasi ruang tamu. kemudian terlihat meja makan dan juga dapur kecil yang serba minimalis juga. Baru terlihat ranjang berukuran besar yang berwarna serba putih dan sangat rapi jika dihuni yang ketegori pria. Hanya kamar mandi yang ada pintunya. Itu pun juga pintu kaca tebal dan semua terlihat pernak-pernik didalamnya. Terlihat wastafel, dan juga shower berikut bath up yang seperti tak ada privasi bagi penghuninya yang semua sama sekali tidak bersekat.
BERSAMBUNG