Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Kembali Dari Awal



#Flashback on


"Kak Nisa yakin dengan keputusan kakak saat ini"tanya Arine meyakinkan kakaknya itu. Karena hari ini mereka akan pergi ke Amerika tempat Daddy mereka tinggal.


Anisa menatap yakin adiknya itu dan kenangan ketika Ardi mengajaknya berpacaran terkenang kembali.


🌺🌺🌺


"Kamu mau jadi pacar aku kan. Kamu pasti menganggap aku gila dengan membawamu dalam lingkaranku dan Bunga. Tapi aku tulus suka sama kamu dan perempuan yang aku bilang ke Bunga itu kamu. Kamu jangan jawab sekarang deh. Bisa kamu fikirkan terlebih dulu. Aku takut kamu nolak aku sekarang, malu njir. Aku tunggu jawabanmu besok atau lusa, yang penting jawabannya iya"*ucap Ardi yang langsung meninggalkan Anisa masih dengan tingkat keterkejutannya itu.


"Dia waraskan. Gak lagi kesurupan setan lapangan disini. Ini semua gara-gara Bunga, aku harus berurusan dengan laki-laki seperti itu"kesal Anisa yang langsung dikejutkan oleh Bunga yang menatap tajam Anisa.


Anisa bingung dengan tatapan yang diberikan oleh sahabatnya itu.


"Kamu lagi PMS ya, Bung"tanya Anisa melihat sahabatnya yang murung.


"Kenapa Ardi nembak kamu tadi?. Terus kamu kasih jawaban apa ke dia. Kok kamu nusuk aku dibelakang begini sih, Nisa. Aku itu sudah akan tunangan sama Ardi, Nisa. Tinggal aku mendapatkan hatinya. Tapi kenapa kamu main belakang gini"kesal Bunga menangis, setelah mendengar dan melihat secara langsung Ardi menembak Anisa di lapangan basket yang hanya ada Ardi dan Anisa disana.


"Ya ampun Bunga. Aku bisa jelasin ini semua"ucap Anisa merasa bersalah kepada sahabatnya ini.


"Mau jelasin apa?. Semua sudah jelas Nisa. Kamu diam-diam menyukai Ardi. Makanya kamu mengikuti ide aku untuk mengerjai laki-laki itu. Tapi kenapa kamu melakukan hal ini padaku, Nisa. Aku tidak nyangka kamu akan menjadi pengecut seperti ini, Nisa. Kalau kamu suka sama dia, harusnya kamu bilang dari awal, bukan main belakang gini"ucap Bunga menangis dan langsung meninggalkan Anisa yang terpaku disana.


"Aku juga gak tahu Bunga"ucap Anisa menatap kepergian sahabatnya itu.


Beberapa hari kemudian setelah Ardi menyatakan cintanya ke Anisa. Ardi pun langsung menemui Anisa untuk mendapatkan jawaban akan pertanyaannya itu.


"Jawabannya?"tanya Ardi yang diabaikan oleh Anisa yang pergi begitu saja. Ketika menghindari Ardi tanpa Anisa tahu dia menabrak seseorang didepanya dan hampir terjatuh jika Ardi tidak dengan cepat menangkapnya.


"Untung saja aku masih disini. Kalau gak kamu sudah jadi babi guling mungkin"ucap Ardi disela candaanya dan membuat Anisa langsung mendorongnya.


"Apaan sih, kalau gak ikhlas nolongin. Gak usah nolongin, biar aku jadi babi guling saja"kesal Anisa yang malah membuat Ardi tersenyum gak jelas gitu.


"Lu gila ya, senyum-senyum gak jelas"kesal Anisa melihat sikap Ardi kayak orang gila menurutnya.


"Gila karena kamu gak masalah dong. Habisnya kamu manggil aku dengan sebutan aku kamu. Berarti saat ini kamu terima aku dong"jawab Ardi yang membuat Anisa merutuki apa yang dia ucapkan barusan.


"Apaan sih. Aku nolak, paham. Siapa juga yang terima"kesal Anisa meninggalkan Ardi untuk menuju ke perpustakaan tapi langsung dikejar oleh Ardi.


"Aku tadi gak dengar kamu bilang apa. Aku tunggu jawabannya besok lagi ya. See you tomorrow, potential girlfriend"ucap Ardi sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sumpah Anisa terkejut dengan apa yang dia lihat.


"Dia beneran si Ardi cowok super dingin, kayak gunug es itu kan. Kok bisa begitu sih"ucap Anisa lirih dan langsung menuju ke perpustakaan.


Sudah hampir seminggu Anisa diganggung oleh Ardi yang meminta jawaban "Iya, aku mau jadi pacar kamu"dari mulut Anisa. Tapi sayangnya kata-kata tolokan yang selalu terucapakan dari mulut pedas Anisa.


Hubungan Anisa dan Bunga pun kembali membaik. Meskipun Ardi selalu hadir ditengah-tengah untuk menggangu Anisa untuk menerima cintanya itu.


"Kalau kamu suka sama Ardi, aku gak apa-apa kok Nisa. Kalau dia jodoh aku, pasti dia akan kembali padaku"ucap Bunga yang sebenarnya berat mengatakan hal itu. Tapi saat ini, dia harus mengalah karena belum saatnya dia untuk maju merebut perhatian dari Ardi.


"Tapi Bunga..."ucap Anisa terpotong karena Bunga langsung menyelanya.


"Aku tahu kamu selama ini memperhatikan gerak-gerik dari Ardi. Kamu mulai penasaran sama dia, Nisa. dan itu menunjukan kalau kamu mulai menyukainya. Perasaan itu tidak bisa dibohongi, Nisa. Kalau kamu suka sama dia katakan saja, jangan menyusahkan diri sendiri"ucap Bunga sambil menghela napasnya secara kasar itu.


Setelah perkataan Bunga disekolah tadi. Anisa merenungkan itu semua di kosaan miliknya. Tiba-tiba handphonenya berdering dan nama yang memanggil adalah Ardi.


"Kenapa?"kesal Anisa karena baru saja dia memikirkan laki-laki itu. Panjang umur juga dia langsung menelphonnya.


"Aku diluar gerbang kos-kos an kamu nih. Keluar, aku bawa makanan buat makan malam"ucap Ardi to the poin. Anisa yang merasa diperintah seperti itu pun merasa kesal namun langsung keluar dengan handphone yang masih berada disamping telingnya.


Anisa melihat laki-laki yang berdiri disamping motor dengan gaya sok cool tebar pesona ke penghuni kos-kosan tempat Anisa berada. Dengan kesal Anisa pun menghampiri Ardi.


"Gak usah tebar pesona gitu deh. Ngeselin lihat muka es batu kamu itu"kesal Anisa yang langsung mematikan sambungan telphone dirinya dan Ardi. Ardi hanya tersenyum melihat sikap Anisa yang menurutnya imut itu.


"Cemburu nih maksudnya. Kalau cemburu bisa aku siap sama makanan dong. Nih, aku bawa makanan. Kita makan saja yuk. Dari pada marah-marah nanti cantiknya hilang. Tapi kamu marah pun tetap cantik Dimata aku sih"ucap Ardi yang langsung mendapatkan jitakan kepala dari Anisa yang langsung mengambil bungkusan itu dan menuju ke tempat duduk di gazebo depan kos-kosanya, tempat untuk para tamu berkunjung.


Ardi pun memgangi kepalanya yang sebenarnya tidak sakit itu dan langsung menghampiri Anisa yang duduk dengan kesalnya.


Mereka pun memakan makanan yang dibawa oleh Ardi itu. Dan disela makannya Ardi mengatakan seseuatu yang membuat Anisa terkejut pastinya.


"Pasti kamu gak ingat pertemuan pertama Kitakan?"tanya Ardi dan Anisa menjawab seenak jidatnya.


"Ingatlah, diperpustakaan. Tanpa sengaja aku menjatuhkan buku dan kamu memgambilnya dengan tatapan es batumu itu"ucap Anisa sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Salah, itu bukan pertemuan pertama kita, melainkan yang kedua. Pertemuan pertama kita itu, ketika kamu menyelamatin aku di jalan pas malam-malam, jalan apa ya lupa aku. Saat itu aku dalam keadaan babak belur karena dikroyok oleh musuhku dari sekolahan lain, sial beraninya mereka bawa rombongan satu RT. Tapi akhirnya aku bisa kabur, namun dalam keadaan tidak sadar, hingga kamu datang dan membantuku. Kamu membawaku ke rumah sakit dan aku melihat seragam yang kamu pakai itu dan nama kamu tertera jelas disana. Dari situ aku berjanji bakal bantu kamu, dimana pun kamu berada dan selalu berada di sisimu"ucap Ardi sambil menatap tulus Anisa yang masih fokus dengan makanannya itu.


Anisa yang merasa ditatap pun merasa risih.


"Apa sih, lihatnya jangan gitu dong. Dan aku gak inget ya sama cerita kamu itu"kesal Anisa yang sebenarnya dia mengingat kejadian itu. Dimana dia baru saja kembali dari bandara setelah mengantarkan mamanya dan papa tirinya pergi ke London.


"Gak apa-apa kamu gak ingat semua itu, yang pentingkan aku ingat sama kamu"ucap Ardi yang tidak melepaskan tatapannya dari wajah Anisa.


"Berarti kamu mau jadian sama aku itu, karena rasa berterima kasih kan. Idih... gak perlu sampai segitunya kali. dan jangan bilang kamu pindah sekolah karena aku sekolah disini. Astaga aku kebanyakan nonton Drakor nih, gara-gara Bunga jadi banyak neting kan aku"kesal Anisa yang malah membuat Ardi tersenyum melihatnya.


"Mungkin bisa iya dan tidak. Tapi, aku beneran suka sama kamu. Cuma kamu cewek yang gak ngejar-ngejar aku atau over sama laki-laki. Kamu bikin aku penasaran. Dari penasaran itu aku mulai terbiasa melihatmu dari jauh dan aku berusaha mendekat untuk meyakinkan perasaanku sama kamu. Perasaan itu tidak bisa berbohong buka"ucap Ardi yang membuat Anisa terdiam sesaat.


"Kamu habis berteman sama siapa sih di. Kok jadi kayak gini banget. Gak mungkin es batu mencairkan"ucap Anisa menghindari perkataan yang semakin serius itu.


Ardi pun langsung menggenggam tangan Anisa dan mengarahkan wajah Anisa kedirinya.


"Kenapa susah banget meyakinkan kamu sih, Nisa. Kamu lihat wajahku, apa aku terlihat seperti orang yang sedang berbohong"ucap Ardi menatap sendu Anisa. Anisa tidak menemukan kebohongan disana. Anisa pun mencoba mengalihkan tatapannya itu, namun Ardi langsung mengarahkan kembali kewajahnya.


"Aku tahu, kamu juga mulai penasaran denganku Nisa. Kamu mulai memperhatikan aku. dan hal itu sangat membuatku aku senang. Aku hanya butuh kamu jujur dengan perasaanmu saat ini Nisa"ucap Ardi yang malah langsung dengan cepat Anisa berjalan meninggalakan Ardi yang terkejut ketika Anisa dengan keras melepaskan genggaman tangannya itu.


Anisa telah meninggalkan Ardi yang termenung sendiri digazebo itu.


"Kenapa susah banget meyakinkan kamu sih, Nisa"ucap Ardi frustasi dan langsung menuju kearah motornya. Ketika akan menghidupkan motornya itu, Ardi sangat terkejut ketika Anisa berlari kearahnya dan meraih kunci motor Ardi.


"Aku kasih kamu kesempatan dan kamu harus bisa meyakinkan aku, jika kamu bisa melindungi aku"ucap Anisa yang membuat Ardi tidak kalah terkejutnya dan langsung memeluk Anisa dalam posisi dia masih duduk diatas motornya.


"Terima kasih kamu sudah memberiku kesempatan ini Nisa. Aku berjanji akan menjagamu, kamu pegang perkataan ku ini"ucap Ardi yang masih memeluk Anisa yang langsung dibalas juga oleh Anisa yang kembali memeluk Ardi.


🌺🌺🌺


Kenangan itu, tiba-tiba terlintas kembali. Arine menatap kearah kakaknya dan membawa Anisa menaiki taxi yang akan membawa mereka ke bandara.


Tapi sesuatu yang tidak disangka, ketika perjalanan menuju ke bandara. Mobil taxi yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dengan tumburan dua arah, hingga dua mobil yang saling beradu itu hancur dan salah satu dari mobil itu meledak.


Tapi untung saja sopir taxi dengan cepat membuka pintu dan keluar dari sana sebelum mobil itu hancur lebur. dan dengan cepat dia menyelamatkan salah satu dari penumpangnya itu.


"Tolong selamatkan kembaran saya pak, dia masih terjebak didalam. Saya mohon pak"ucap seseorang yang selamat itu memohon ke supir yang kakinya menjadi pincang dan kepala yang berdarah itu.


"Maafkan saya nona, kita harus menjauh. Mobil itu akan melacak"ucap sopir itu meminta maaf sangat banyak kepada penumpangnya.


"Tolong selamatkan kakak saya pak"ucap seseorang yang selamat itu yang ternyata adalah Arine yang melihat Anisa dari kejauhan yang terluka parah disana.


"Kakak....."teriak Arine ketika mobil itu beberapa menit kemudian meledak dasyat.


#Flashback off


.


.


.


.


.


Next on...