
"Kak Nisa mati, kak Nisa mati gara-gara aku Dev"ucap Arine memukul-mukul dirinya setelah mendengar cerita dari kekasihnya itu.
Devan pun menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh Arine dan langsung menggenggam tangan kekasihnya erat supaya tidak digunakan untuk menyakiti diri sendiri.
"Anisa belum mati sayang. Tapi aku tidak tahu itu bisa dikatakan mati atau hidup. Anisa selamat dalam kecelakaan itu, ada seseorang yang tiba-tiba menyelamatkannya sebelum mobil itu meledak. dan yang kita anggap selama itu jasad Anisa itu adalah jasad dari penumpang lain dari mobil yang menabrak kalian. Ternyata didalam mobil itu ada dua orang yang hanya dikira satu orang. Karena saat itu kami semua merasa terpukul, kami meyakini jika itu jasad dari Anisa. dan setelah setahun kemudian orang yang menyelamatkan Anisa menghubungi Daddy, jika Anisa bersamanya. Karena setelah menolong Anisa orang itu langsung membawa Anisa ke rumah sakit sayang. Dia ada trauma dan mengingat Anisa sebagai anaknya yang mengalai kecelakaan, makannya orang itu gak menunggu kedatangan ambulance. Sebelumnya kami tidak percaya akan hal itu Rine. Tapi beberapa bulan aku datang menemui orang itu. Anisa di Rusia, orang itu membawa Anisa kesana. Karena orang itu adalah orang Rusia. Keadaan Anisa mengenaskan, dengan banyaknya alat bantuan ditubuhnya saat ini. Daddy masih disana sayang. Makanya ketika kamu gak ada kabar Daddy sangat takut, kehilangan anaknya lagi. Jadi aku mohon jangan menyalahkan dirimu"ucap Devan panjang lebar menjelaskan itu semua ke Arine.
Sebenarnya itu adalah rahasianya bersama Martin ayah dari Anisa dan Arine. Karena mereka tahu, Arine mengalami lupa ingatan setelah kejadian itu.
"Iya Rine, aku bahagia kamu mengingatku. Tapi aku sedih jika kamu menyakiti dirimu sendiri seperti ini sayang"ucap Anisa menatap adiknya yang sekarang dalam pelukan Devan.
"Aku ingin menemui kak Anisa, Dev"ucap Arine yang sudah sedikit membaik. Dia pun sudah membersihkan diri dan berganti pakaian maupun sudah makan. Lebih baik dari sebelumnya.
"Gak bisa Rine. Untuk saat ini, aku gak bisa membawamu ke Anisa. Nanti, ketika keadaan Anisa membaik, aku bakalan membawamu kesana. Jadi untuk saat ini, kamu isterahat ya"ucap Devan meminta kekasihnya itu untuk kembali tidur.
"Tapi aku ingin menemui kak Anisa Dev. Ini semua salah aku"ucap Arine tiba-tiba menangis lagi dan Devan kembali merengkuh kekasihnya itu.
"Shut...ini bukan salah-salah siapa sayang. Anisa akan baik-baik saja. Dia sudah ditangani sama orang yang ahli. Kamu isterahat ya dan jangan menyalahkan dirimu lagi"ucap Devan sambil menenangkan Arine.
Anisa yang berada disana juga tidak bisa menahan tangisnya. Kenapa dunia ini begitu jahat kepadanya.
"Kenapa kamu melakukan padaku Tuhan. Kenapa aku harus melihat penderitaan adikku, kekasihku, bahkan mama dan Daddy. Kenapa engkau membuatku melihat ini semua ketika tubuhku tidak berdaya"rutuk Anisa ralat roh Anisa.
***
Arine akhirnya telah tertidur dan membuat Devan sedikit tenang. Devan pun menghubungi seseorang untuk merawat kekasihnya untuk saat ini. Karena dia harus kembali ke Amerika malam ini. Ada sesuatu yang harus dia selesaikan disana.
"Kamu harus kuat sayang. Meskipun untuk saat ini aku tidak akan sering berada disampingmu. Kamu harus menjaga kesahatanmu. Aku berjanji akan membawa Anisa dalam keadaan sehat. Jadi tunggulah"ucap Devan yang langsung mencium kening kekasihnya itu.
Anisa menatap Devan yang berjalan membukakan pintu setelah beberapa saat dia menelphon seseorang melalui handphonenya.
Ternyata datang seorang wanita paruh baya bersama seorang laki-laki yang mungkin seusia Devan juga.
"Jagalah dia, bantu Arine dalam mengurus aparteman ini. dan awasi Arine, jangan sampai dia melakukan hal yang tidak-tidak. Beritahu saya jika terjadi masalah disini. Pastikan dia makan dengan benar dan menjaga kesehatannya. Saya harus kembali, berikan salam saya padanya. Saya harap bi Asih menjaga Arine dengan benar, kalau begitu saya pergi bi"ucap Devan panjang.
"Baik Mr. Devan"jawab bi Asih dan Devan langsung pergi bersama laki-laki yang tadi masuk bersama bi Asih
Anisa menatap kepergian Devan dan setelah itu menatap kearah bi Asih yang langsung membersihkan ruangan Aparteman dari Arine.
Anisa langsung duduk ditepi ranjang adiknya itu. Menatap tenang tidur Arine yang sudah terlelap, karena hampir 4 hari ini, Arine susah tidur. Karena serpihan-serpihan kenangan itu muncul dan mengganggu kegiatan Arine yang belum mengingat itu semua.
"Ini bukan salahmu Rind, jangan menyalahkan dirimu akan semua yang telah terjadi"ucap Anisa mencoba memegang tangan adik kembarnya itu, namun semua itu sia-sia. Dia tidak bisa meraih semua itu.
Bi Asih yang sedang menyapu lantai disana dikejutkan karena dia melihat samar-samar sosok yang duduk ditepi ranjang Arine dan sosok itu hampir mirip dengan pemilik Aperteman ini yaitu Arine sendiri. Ketika bi Asih mendekat bayangan itu sosok yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ruh Anisa itu hilang.
"Loh, apa saya salah lihat tadi ya"ucap bi Asih menatap Arine yang tertidur pulas itu.
"Kasian sekalian nona ini. Semoga segala masalah yang dihadapi bisa terselesaikan ya"ucap bi Asih yang kembali melanjutkan bersih-bersihnya. Sedangkan Anisa menatap bi Asih dengan keterkejutannya.
***
Arine terbangun dari tidurnya itu dengan segar. Ketika bangun dia mencari keberadaan kekasihnya itu. Namun, yang dia dapat adalah seorang wanita paruh baya yag sedang menyiapkan makanan didapurnya.
"Ibu siapa?. Dan dimana Devan?"tanya Arine menatap curiga bi Asih.
Bi Asih pun langsung menjelaskan keberadaannya itu.
"Mr. Devan kembali ke Amerika nona, karena ada urusan yang harus dia selesaikan secepat mungkin disana. Dan Mr. Devan tidak bisa berpamitan karena merasa kasian membangunkan nona Arine yang tertidur lelap. Sedangkan saya adalah bi Asih, saya di mintain tolong oleh Mr. Devan untuk membantu keperluan nona Arine disini dan sekalian tinggal disini. Apakah diperbolehkan nona Arine"tanya bi Asih jujur. Karena dia harus mengawasi Arine setiap hari, setiap jam, menit, detik. Karena bi Asih merasa khawatir akan keadaan Arine yang sendirian tinggal disini, setelah diberitahu oleh asisten dari Devan.
Arine menatap bi Asih tidak dengan kecurigaan lagi, melainkan lebih lembut.
"Disini hanya ada satu kamar Bu. Tapi kalau ibu mau tidur bareng saya ya gak apa-apa. Jadi saya ada teman ngobrol disini. Bu Asih tinggal dimana memang"tanya Arine yang langsung duduk di ruang makan yang hanya ada dua kursi saja itu.
"Lumayan jauh dari sini non"jawab bi Asih jujur.
"Ya sudah tinggal disini saja kalau gitu,dari pada pulang pergi kan capek"jawab Arine sambil memainkan handphonenya yang ternyata sedang mengirimi pesan ke Devan dan menanyakan kebenaran kalau Devan mengirim bi Asih untuknya. Karena Arine adalah tipe orang yang sensitive dan curiga tinggi sebenarnya.
Setelah mengetahui kebenaran jika bi Asih dikirim oleh Devan. Arine pun cukup tenang. Bi Asih pun menyiapkan makanan untuk majikannya itu.
"Bi Asih makan duluan saja, aku mau mandi dulu, soalnya hari ini aku harus masuk kuliah. Aku tahu bi Asih bakalan melapor ke Devan jika aku masih malas-malasan di rumah kan"goda Arine yang membuat bi Asih terkejut.
"Gak kok non"jawab bi Asih gugup yang malah diketawain oleh Arine.
"Bercanda bi, jangan dianggap serius"ucap Arine yang langsung menuju ke kamarnya dan langsung menuju ke kamar mandi.
Sekali lagi bi Asih terkejut melihat sosok perempuan namun samar-samar sedang terduduk di kursi rias menatap arah pintu kamar mandi yang di tutup oleh Arine barusan. Tapi setilah memejamkan mata sebentar seseorang itu menghilang.
"Apa saya kurang tidur, atau gimana ini ya"ucap bi Asih yang tidak merasa takut tapi penasaran.
"Ibu ini bisa melihatku, aku yakin"ucap Anisa yang sudah berada disamping bi Asih.
.
.
.
.
.
Next on...