Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
27. Berakhir sudah kebodohan ini!



malam menyakitkan itu telah berlalu, semoga pagi ini ada keajaiban. Namun, alih alih ingin mengawali paginya dengan semangat, justru hal yang tak diinginkan pun terjadi. Entah kenapa, setiap siswa yang berpapasan dengannya menatapnya dengan pandangan yang beragam. Beberapa dari mereka tersenyum mengejek, menyindir kata kata yang menyakitkan, dan ada juga yang sekedar menatapnya penuh rasa jijik.


Ada apa ini? hatinya mulai gusar, dia berlari dan mendapati kerumunan orang di papan pengumuman.


Melody menerobos kerumunan orang orang itu, sampai dia melihat apa yang terjadi. Yah, fotonya, fotonya yang tertempel dipapan mading bersama seorang pria malam tadi. Bukan hanya dipapan mading, di tembok kelas lain juga banyak, dan dipapan tulis kelasnya. Bahkan dimejanya bertuliskan "wanita murahan!"


Seketika itu juga, orang orang meneriakinya, melontarkan makian pedas, dan melemparinya kertas yang digulung berbentuk bulat.


Melody melirik teman teman dekatnya, mereka hanya diam. sama sekali tidak bergeming ataupun membelanya. Justru terpampanglah wajah puas Resya yang melihat hal itu, sementara Glan, hanya diam dengan pandangan lurus kedepan. Namun Aril, sosok itu tak ada dikelas.


"Alexa!" teriak Aril sambil membawa setumpuk foto yang sudah ia cabut. "sepertinya ada orang yang sudah keterlaluan, dia memfitnahmu dengan cara menjijikan ini!" ucap polos pria itu.


Melody tersenyum hambar, lalu mengambil foto yang dipegang Aril dan kembali menempelkannya di papan tulis.


"ini kebenaran, bukan fitnah"


"huuuu dasar wanita tidak tahu diri!"


"jadi jalang saja masih membanggakan diri!"


"menjijikan sekali!"


sorak mereka tak henti hentinya memaki dan semakin melempari Melody.


gadis itu berusaha tak mendengarkan ocehan mereka, ia menarik tangan Resya dan mengajaknya jauh dari keramaian, sementara Aril hanya diam terpaku ditempatnya. Padahal dia sudah sangat yakin dan menyanggah kalau hal ini tidaklah benar.


"siapa yang menempel foto foto itu?" tanya Melody berusaha sabar.


"yang jelas bukan aku!" senyumnya santai.


"aku bertanya, siapa yang menempel foto foto itu?" tanyanya penuh penekanan.


"terima kasih banyak atas pertemananmu selama ini!" senyumnya hambar. Lalu segera pergi untuk menemui Angelica.


"kau mencariku?" tanya Angelica tiba tiba muncul dibelakangnya.


"kau? mengapa kau melakukan hal ini? " tanyanya tembak langsung.


"kenapa? seharusnya kau berterima kasih padaku, apa kau pernah mendengar pepatah 'sepandai pandainya bangkai ditutupi, baunya akan tetap tercium"


"seharusnya kau tidak melakukan ini, kau bisa memberi tahu Glan ataupun Aril, tapi tidak untuk semua orang disekolah. Aku percaya penuh padamu dan Resya. Aku berusaha melakukan semua yang kalian mau, tapi mengapa? mengapa kalian tidak bisa mempercayaiku? aku tidak meminta kalian percaya untuk selamanya, hanya sampai aku lulus SMA tahun ini!!" teriak Melody sudah putus asa.


"itukan urusanmu, kau bilang akan menjelaskan ini pada semua orang lalu pergi jauh kan?"


Degh!


Melody mengingat ucapannya waktu itu, yah, dia pernah mengatakannya karna pada saat itu dia cukup lelah.


"kenapa kau melakukannya? apa salahku padamu?" tanyanya tak habis fikir.


"Karna ayahmulah yang membuat ibuku menceraikan ayahku, karna ayahmulah hubunganku dan ibuku harus merenggang, dan kau dengar kemarin? dia bilang akan menikahi ayahmu, aku tidak sudi mempunya adik tiri sepertimu!" jelasnya. "dan satu hal lagi, kau telah merebut cinta pertamaku!"


Melody mengacak rambutnya frustasi. "ayahku? dia bukan ayahku Angelica, dia pamanku!"


Hening!


tak ada lagi percakapan diantara mereka. Angelica memilih untuk pergi meninggalkannya.


"heh cewek murahan!" panggil seorang siswi tak jauh dari arahnya.


"kau di panggil keruang kepala sekolah oleh Pak Aryo!" ucapnya lagi, lalu memperlihatkan senyum meremehkan sebelum dia pergi.