Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
44. Alisya



"hah hah hah....Hari yang sial!" umpatnya dengan nafas yang tersengal sengal karna berlari.


"heh jangan kabur!" teriak mereka dengan jarak 10 meter dari arahnya.


"dasar tidak ada kapok kapoknya!" Melody kembali berlari secepat yang dia bisa. Dan berhenti saat melihat sebuah tong besar yang tertutup rapat.


Diapun segera membuka tong berwarna biru tua itu dan bersembunyi didalamnya. Tak peduli jika didalamnya ada air. Dia hanya perlu menahan nafas beberapa menit saja sampai para preman itu pergi.


TAP!


TAP!


TAP!


suara langkah orang berlarianpun berhenti disekitar sana. Mereka melirik kesana kemari mencari keberadaannya. Setelah memastikan tak ada orang, mereka kembali melangkahkan kaki dan pergi.


"Wuaaah!!!!" Melody langsung keluar dan mengambil oksigen dengan rakus. Pakiannya basah kuyup. Keringat bercampur dengan air yang membasahi kepalanya. Diapun cepat cepat keluar dan pergi.


Tidak untuk pulang, tapi mampir disebuah kios sayuran hanya sekedar ikut duduk karna cuaca pagi ini begitu panas. Bahkan baju yang tadi basah sekarang sudah mulai mengering.


"air?" ujar seorang gadis sambil menyodorkan sebotol air mineral padanya. Yah, gadis itu adalah anak dari ibu tukang sayur.


"terimakasih!" senyumnya sambil menerima air itu dan meleguknya sampai habis.


"namamu Melody?" tanyanya seolah memastikan.


"darimana kau tahu?"


gadis itu tersenyum dan menyodorkan telapak tangan kanannya. "Aku Alisya, temannya Aril!"


Yang benar saja? Bukankah Aril anak orang kaya? tidakah mungkin jika dia mempunyai teman sepertinya? bukan menghina, tapi ini benar benar diluar dugaan. Ternyata selain tampan dan ramah, dia juga setia kawan, dan selalu memancarkan energi positif dalam dirinya.


Ah tidak, bahkan Melody sendiri bukan berasal dari keluarga kaya, tapi pria itu benar benar memperlakukannya dengan spesial. Semoga masih banyak orang orang seperti dirinya didunia ini.


"salam kenal, senang bertemu denganmu!" ucapnya sambil memberi senyuman hangat.


Alisya balas tersenyum dan duduk disampingnya. "kau tahu?, Aril selalu membicarakan tentang dirimu"


"benarkah?" tanyanya tidak percaya


"bahkan saat kau pergi selama beberapa bulan, dia sering berkunjung kerumahmu, dia yakin kalau kau akan kembali kerumah itu!"


Pria yang malang!


Melody tertegun mendengar hal itu, Hatinya terkoyak, bahkan dia sendiri tidak begitu mengenal Aril. Dan tidak tahu seperti apa keluarganya.


"yah, dia teman yang sangat baik!" senyumnya agak dipaksakan.


"dia menganggapmu lebih dari itu!" jawabnya diiringi dengan senyuman penuh arti.


"mungkin kau benar, tapi pepatah lama mengatakan, cinta tidak bisa dipaksakan!"


Alisya tak bicara lagi, dia hanya memamerkan senyum manisnya.


"sudah berapa lama kau berteman?"


"sejak dia menolongku dari incaran para preman malam itu!"


SAMA!


Dia ingat waktu pertama kali bertemu dengannya. Betapa tangguh dan beraninya pria itu. Dan sejak saat itu juga mereka berteman.


**************^^


hari beranjak siang, Matahari tepat diatas kepala, para pedagang sayuranpun segera gulung tikar karna semakin panas sayuran mereka cepat layu. Begitupun dengan Alisya yang sibuk membantu ibunya merapikan sisa sayur yang tak habis terjual.


"bibi, apakah penghasilan yang bibi dapatkan ini untung besar?" tanyanya ikut membantu.


"tentu saja nak, bibi punya kebun sendiri, dan untungnya dua kali lebih besar !"


Melody dapat menemukan adanya sebuah peluang dalam hidupnya. Diapun tersenyum dan bertanya "kalau aku membantu setiap hari, apa kalian tidak keberatan?"


Demi mendengar hal itu, keduanya merasa senang. Wanita paruh baya itu langsung menyetujuinya tak terkecuali Alisya yang terlihat sangat senang karna dia akan memiliki teman yang bisa dia ajak bicara setiap harinya.


Melody mampir kerumahnya yang cukup luas, dipekarangan rumahnya dipenuhi dengan berbagai macam tanaman sayur. Seperti wortel, tomat, cabai dan masih banyak jenisnya. Dan dibelakang rumahnya juga dipenuhi tanam buah buahan. Semua tampak segar segar dan berisi.


"silahkan duduk nak! aku akan membuat makanan untuk kalian!" ucap hangat wanita paruh baya itu sambil menyodorkan kursi kayu.


"terima kasih bibi!" senyumnya. Lalu wanita itu segera pergi


"bagaimana ibuku?"


"dia sangat baik"


"o ya?, kufikir dia sangat cerewet!"


"masa? kufikir kau yang cerewet!"


"kau juga sama"


"hahaha!" tawa mereka hampir bersamaan.


cukup lama mereka berbincang bincang, Berbagi cerita, tertawa lagi, kembali bercerita sampai akhirnya Melody terbawa suasana dan menceritakan kehidupannya. Dan hal itu sukses membuat mereka merasa iba dan menawarkan Melody untuk tinggal saja disini bersama mereka.


Kesempatan yang bagus bukan?


"ah tidak terasa ya sudah sore lagi!" senyumnya jadi merasa canggung dengan keadaan saat ini.


"kau menginap saja, tidak perlu pulang pada lelaki itu!" sahut Alisya.


"tidak, bagaimanapun aku harus membicarakan hal ini baik baik! aku harus pergi, aku akan kembali besok pagi, kalau tidak besok, mungkin Lusa! pokoknya aku akan kembali!" ucapnya penuh harap. Lalu dia segera pamit dan beranjak pergi.


-


-


-


-


...****************...


Tambah peran terus😂yang itu aja gak tau nasibnya gimana😂😂.....Teruus aja bertele tele, giliran poin penting malah keburu buru....


Gitulah pokok nya.....


Hehehe......


-


-


Thanks buat dukungan kalian semua.....Semoga kesalahan saya baik dalam susunan kata atau susunan cerita atau konflik tidak jelas atau karakternya kurang kuat atau mungkin membingungkan dan menyimpang....saya menyadari hal itu......Dan sedang memperbaiki cara menulis saya agar lebih baik kedepannya....


SEMOGA SAJA!


I


LOVE


U


All...


😊🙏