Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
37. Perpisahan



Suasana hiruk pikuk hari Perpisahan berjalan dengan penuh rasa haru. Tak ada murid yang tidak Lulus. Mereka semua tampak menikmati perayaan ini tak terkecuali bagi Glan yang menjadi lulusan terbaik tahun ini.


"Congratulation Glan!" Resya memeluknya penuh rasa cinta.


"hem!" sahutnya datar. Jujur saja dia menikmati hasil kerja kerasnya. Tapi tetap ada yang kurang tanpa kehadiran Melody. Dia merasa bersalah karna membentaknya malam itu. Tapi setelah ia tak sengaja bertemu Sandy dan menceritakan semuanya. Keadaan menjadi berubah.


begitupun dengan Aril. Pria super tenang itu hanya duduk diam menyaksikan penampilan para adik kelas yang mempersembahkan sebuah tarian khusus untuk mereka. Namun fikirannya selalu tertuju pada senyum gadis musim semi itu, betapa melekatnya senyum manis itu dalam fikirannya.


Dia sudah tahu jika cintanya tidak akan pernah terbalaskan, tapi melupakan cinta pertama bukanlah sesuatu yang mudah.


"Hay!" sapa seorang gadis sambil tersenyum kearahnya.


Aril langsung berdiri, antara percaya dan tidak, Kini Melody ada dihadapannya. Dia berjalan mendekat dengan senyum manis yang selalu terukir dibibirnya.


"Melody?!"


"Bukan!" tegas wanita itu.


Degh!


Aril mengedipkan matanya berkali kali.


memang Bukan!


Ternyata ia hanya berhalusinasi, kini wanita yang ada dihadapannya ternyata Angelica.


"kau masih saja memikirkan jalang itu!" cibirnya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"aku hanya merindukannya"


"hentikan omong kosongmu itu, jalang itu tidak akan pernah kembali apalagi untukmu"


Menyakitkan!


Tapi memang seperti itu kenyataannya.


"kau tau apa tentang perasaanku?" tanyanya seakan memberi peluang bagi Angelica.


"heeeyy, apa kau ketularan virus bodoh jalang itu? Apa kau juga tau tentang perasaanku? kau baru saja mencintainya 6 bulan selama dia sekolah disini, sementara aku sudah 3 tahun mengejarmu. Sekarang kau merasakan apa yang aku rasakan bukan? lebih besar mana rasa sakitku dengan rasa sakitmu?" jelasnya panjang lebar.


Benar juga!


kenapa dia tidak berfikir hal itu sebelumnya? Selama ini ada orang yang begitu tulus mencintainya, tapi dia justru malah mengejar yang orang jauh dari genggamannya. Ada apa dengan cinta ini?


"kenapa diam? jangan bilang kalau kau tidak memikirkan hal ini sebelumnya?" tebaknya.


"maaf!" ucapnya dengan senyum malu malu. Gadis itu selalu saja tahu dan mengerti perasaannya. Dia memang tak cukup peka untuk mengakui keberadaannya.


"jadi bisakah kita memulai pertemanan kita dari awal?" tanyanya penuh harap.


"aku tidak ingin jadi teman" dengusnya


"lalu?"


"pacar!"


"tapi-"


"tidak ada tapi, pokoknya kita pacaran, tidak ada penolakan. Titik!"


"kenapa?"


"kau adalah teman, dan aku tidak mau berbohong kepada teman!" Senyumnya.


Kini dia mengerti apa yang diucapkan Melody waktu itu. Jika perasaan tidak bisa dibohongi, tidak pula bisa dipaksakan. Cinta selalu singgah pada hati siapapun yang diinginkannya. Tapi perasaan itu bisa dipendam dan terkubur dalam. Sehingga mampu menciptakan cinta baru yang benar benar pantas ia dapatkan tanpa menyakiti hati yang lain. Teman!. Itulah kata yang tepat untuk tetap menjalin hubungan dengan orang yang berharga.


"jadi kau mau?" Aril mengulurkan telapak tangannya untuk memastikan.


Tap!


Angelica segera menerima uluran tangan itu.


Tidak masalah! berawal dari teman yang baik semoga bisa menjadi orang yang paling berharga baginya.


"lihat itu! sepertinya mereka mulai dekat!" sahut Resya yang sedari tadi memperhatikan.


Namun Glan nampak tak peduli dan meneguk minumannya.


"Aril sudah melupakan Melody, kau kapan? kapan kita bisa seperti mereka?"


Ck! apa apaan itu. "aku tidak seperti dia yang pecundang" batinnya sambil menatap kearah Aril.


"Bagaimana dengan Satria?"


"sudah kubilang aku tidak mencintainya!"


"yah, sama seperti aku tidak mencintaimu!" senyumnya langsung saja pergi.


"Iiish menyebalkan!" ocehnya sambil menghentakan kaki karna kesal.


...****************...


di sisi lain, setelah Melody membantu pekerjaan para pelayan. Diapun masuk kekamar Aldrich untuk sekedar merapikan kamarnya. Yah, pria manja itu hanya ingin dia yang merapikan kamarnya.


Saat ini semua orang sedang tidak ada dirumah, mereka sibuk bekerja dikantor dan Aldrich masih belum pulang dari kampusnya. Membuat Melody bebas melakukan apapun sesuka hatinya.


Begitupun saat dia ingin membuka salah satu kamar rahasia yang selalu dikunci. Dan berulang kali Aldrich selalu melarang membukanya tanpa memberinya Alasan.


"paman!" panggilnya saat seorang pria sedang mengelap meja makan.


"iya non?"


"apakah paman tahu ruangan yang selalu terkunci dikamar sebelah Aldrich?"


"iya saya tau non, memang ada apa?"


"siapa yang memegang kuncinya?"


"tentu saja tuan muda!"


"apakah tidak ada kunci cadangan?"


"semua kunci cadangan ada pada Tuan gilang Non!"


tidak tidak, lebih mengerikan kalau dia memintanya langsung padanya, pasti dia harus melakukan sesuatu yang "seperti itu" Lebih baik dia memintanya langsung dari anaknya.