
sebelum pergi, dia mengunjungi tempat yang ingin didatanginya. Yaitu sahabat masa kecilnya.
TING! TONG!
Melody memencet bel rumah itu dan tak berapa lama keluarlah Gray yang dibuntutui oleh Glan dibelakangnya. Tatapan kedua pria itu seperti tak menginginkan kedatangannya.
"aku tahu apa yang akan kau katakan kakak, kau begitu mempercayaiku dengan menyerahkan adikmu sepenuhnya padaku, tapi tidak seperti yang kau katakan, aku menyakitinya, maaf!" senyumnya diiringi dengan derai air mata.
"maaf saja tidak cukup, bukan hanya menyakitinya kau juga menyakitiku, menghianati kepercayaanku dan meruntuhkan dinding kepercayaanku. Sekarang kenapa kau datang kemari? ingin menyakitinya lagi?"
Melody tertunduk dan masih memasang senyum menyedihkannya itu.
"Alga!" panggilnya sambil melirik kearah Glan yang hanya diam. "maafkan aku!"
"apa yang perlu dimaafkan?"
"semuanya!"
Namun ucapannya sama sekali tak direspon.
"aku akan pergi, jangan lupakan aku!" senyumnya lalu beranjak pergi.
Baru saja beberapa langkah berjalan, Glan langsung berlari dan meraih tangannya sampai membuat tubuh gadis itu refleks menghadap kearahnya dan langsung mendapat dekapan yang menyesakan dadanya.
"kau datang saat hati ini hampa, kau pergi menjauh saat hati ini penuh dengan cintamu, mau seperti apalagi Melody? mau sampai kapan lagi ini terus terjadi?"
Lagi lagi Melody terkekeh dan menepuk nepuk punggungnya "kau hanya perlu membuka hatimu pada Resya, dan tidak akan ada benalu lagi diantara kalian"
Namun pria itu tetap tidak bergeming, malah terlihat seperti dia yang memiliki salah besar padanya.
"Lepaskan aku Alga!"
"tidak mau!"
"aku harus pergi!"
"tidak boleh!"
Melody kembali terkekeh, dia pria dingin yang sangat manja dan cengeng. Namun berada didekatnya tak memberi dia kebahagiaan, justru malah memberinya rasa sakit.
"aku hanya kesal, aku tidak memintamu pergi!"
"tapi keadaannya sudah berubah, lepaskan aku!" Melody mendorongnya mengingat ucapan pamannya beberapa menit yang lalu.
"tolong buka hatimu untuk wanita lain, aku berjanji tidak akan kembali padamu dan memberimu luka lagi, ini yang terakhir, jangan lupakan aku!" Melody langsung berlari secepat mungkin dari tempatnya.
Kali ini Glan tak mengejarnya, dia hanya diam dan menangis tanpa air mata. Hatinya sakit sekali, belum lama dia bisa menemukan kebahagiaan tapi semuanya harus luruh dan sia sia begitu saja. Yah, dia membenci gadis itu, tapi juga sangat mencintainya.
"Resya adalah pilihan yang tepat untukmu!" sahut Gray sambil memegang pundaknya
...****************...
Malam semakin larut, kaki yang terus melangkah tanpa tujuan itu sudah sangat lelah. Entah sudah seberapa jauh dia melangkah. Rasanya ketidak jelasan dalam hidupnya semakin membuat dirinya terombang ambing dalam ketidak pastian.
Keadaan jalan mulai lengang, Melody menyusut keringat yang bercucuran didahinya. Lalu dia mendongakan kepalanya
melihat gedung gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Rupanya dia masih belum jauh berjalan. Diapun kembali melanjutkan langkahnya, namun tiba tiba kepalanya didera rasa sakit yang luar biasa dan menyebabkan dirinya langsung jatuh tak sadarkan diri.
(Skip ☺)
Melody terbangun diruangan yang sama sekali asing baginya. Dia langsung duduk dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan. Dan betapa terkejutnya saat seorang pria sudah tersenyum memandanginya. Yah, dia masih mengingat pria itu yang pernah mengantarkannya ke sekolah waktu itu.
"paman? paman yang membawaku kesini?" tanyanya cukup terkejut.
"anakku yang membawamu kesini!"
Melody memegang pelipisnya yang masih terasa sakit. "ah aku tidak ingat apapun!"
"istirahat saja dulu, tubuhmu masih terlalu lemah!" ucapnya sambil membantu Melody berbaring, namun gadis itu menolak.
"tidak bisa, aku harus pergi!"
"larut malam begini kau mau kemana? tidurlah disini semalam saja, apa kau ingin aku menghangatkanmu?" tanyanya dengan senyuman mesum. Tangannya mulai membelai tangan halus Melody.
"aku tidak punya tenaga untuk melakukannya, biarkan aku pergi!" elaknya beranjak dari ranjang.
Tiba tiba pintu terbuka, dan datanglah seorang pria yang sudah tak asing baginya sambil membawa semangkuk bubur dan segelas air putih yang dibawanya.
"Aldrich?!" serunya merasa heran kenapa dia ada disini.
"sudah bangun ya, selamat datang dirumahku, oh ya, kenalkan ini ayahku!" senyumnya langsung membuat Melody tersentak.
Oh tuhan, masalah apalagi yang akan menimpanya.
"hah!" sahutnya terlihat seperti orang bodoh.
"tidak perlu takut, aku tahu kau pernah 'bermain' dengan ayahku!"
Blush!
Seketika wajah Melody langsung memerah mirip babi panggang. Dia tak bisa membayangkan seperti apa hubungan anak dan ayah itu, keduanya pernah ia "coba"
"ahaha benar, maaf aku tidak tahu kalau paman ini ayahmu!" cengirnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Padahal dia sudah mengutuk dirinya sendiri didalam hati.
"kalau begitu aku pergi dulu!" pamit Pria itu langsung keluar dan menutup pintunya.
"dunia ini sempit ya?!" tanyanya sembari memperlihatkan senyum manisnya.
"yah, kau benar!"
Aldrich menempelkan punggung tangannya didahi Melody yang masih terasa panas. "mau kompres dulu atau makan dulu?" tanyanya malah membuat Melody melongo dan menatapnya tanpa berkedip. Satu kata yang mengingatkan Sikap Aldrich pada seseorang.
"Melody!"
"ah iya!" ucapnya langsung tersadar dari lamunannya.
"a aku tidak mau, aku harus pergi, terima kasih!" ucapnya kembali beranjak namun langsung dihentikan oleh Aldrich.
"Kenapa kau tidak berhenti? kenapa semakin merendahkan diri dan menerima dengan lapang dada tuduhan itu?"
"karna itu kenyataannya!" jawabnya tak punya alasan untuk membela diri.
"bukan sepenuhnya salahmu, berawal dari keterpaksaan pamanmu yang membuatmu jadi terbiasa kan?"
APA?
"kau selalu saja tau tentangku, kenapa?" tanyanya tidak mengerti.
"mataku ada dimana mana!" senyumnya sambil menggerak gerakan bola matanya yang sebiru laut itu.
"benarkah? lalu apa yang kau lihat selama satu hari kebelakang?" tanyanya mencoba mengetes ucapan pria itu.
"kemarin malam, kau pergi kehotel menemui seorang pria, dan malam yang sial bagimu saat Glan tak sengaja melihatmu. Lalu dia memintamu bertemu di bukit dan dramapun dimulai, lalu keesokan harinya seseorang menyebar foto fotomu disekolah dan ternyata dia adalah orang yang membencimu karna kau telah merebut cintanya dan ibunya. Yah itu semua karna terjadi kesalah fahaman antara kau dan gadis itu kan?" jelasnya sukses membuat Melody terpukau. Wajahnya semakin memerah karna betapa memalukannya dia mengetahui semua itu.
Entah kenapa setitik air mata tiba tiba jatuh membasahi pipinya.
Aldrich langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya.
"bisakah kau memeluku?" tanyanya merasa memiliki tempat untuk bersandar.
"aku menahanmu!" jawab Aldrich semakin mengeratkan pelukannya.
"pegang aku erat erat..." suaranya tercekat seakan semua hanya berhenti ditenggorokannya.
"kemudian aku akan memelukmu sekencang yang kau inginkan!" senyumnya kali ini dengan sebuah ketulusan didalam hatinya.
Malam itu begitu dipenuhi air mata, Namun Melody merasa lega bisa menumpahkan sesak didadanya dalam dekapan hangat seorang pria walau hanya sekedar pemuas nafsu saja. Dan bukan orang yang berharga baginya.
Karna saat orang orang terdekatnya tidak ada untuknya. Maka siapapun orang yang mau menyandarkan bahu untuknya pasti akan menjadi seseorang yang spesial di dalam hatinya.
......................
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***HADUH HADUH HADUH PUSING😂 PLIS SARAN YANG MEMBANGUN YA, JANGAN MEMBUATKU MERASA MELAYANG DI ANGKASA LALU TERHEMPAS KEDASAR SAMUDRA YANG PALING DALAM
HEHE...
OH YA AKU BARU NYADAR EPISODE 28 ADA DUA. TAPI YANG SATUNYA UDAH DIHAPUS KOK😅***
MAAF KALO BANYAK TYPO, HP NYA SUKA NGELAG, (EH MALAH CURHAT😂) HEHE...
***Terima kasih sudah mendukungku dari awal sampai episode ini, Ada yang baca aja membuatku sangat bahagia sampai ke ujung dunia....😆 (lebay)
Sampai jumpa diepisode selanjutnya😊💕***