Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
36. kau berharga bagiku



"kenapa kau bilang pada mereka kita akan menikah? kau malah menambah kacau keadaan! aku tidak suka kau bertindak sesukanya begitu" teriaknya begitu mereka tiba di mansion Aldrich.


"sudah kubilang suka atau tidak aku tidak akan membiarkanmu kembali padanya, bukannya tadi kau bilang terserah?"


Melody mengacak rambutnya frustasi. Otaknya selalu saja menjeratnya dalam masalah. Diapun terdiam sambil mengembungkan pipinya kesal.


"mana ponselmu?"


"untuk apa?"


"berikan padaku! aku tidak ingin kau berbicara dengannya lagi!"


Dia tak segera menjawab dan memegang erat ponselnya itu.


"ayo berikan!"


"biarkan aku bicara sebelum dia pergi!"


"proses kuliah diluar negri itu cukup lama, dia tidak akan buru buru pergi! Bukannya dia juga belum menerima surat kelulusan?"


Gadis itu semakin mengembungkan pipinya kesal dan memilih untuk diam. Debat dengannya tidak akan pernah berujung.


Sret!


Aldrich merebut ponselnya dan memasukannya ke saku jaketnya. Membuat mata gadis itu seketika memerah, air mata terbendung dimatanya.


Melihat hal itu Aldrich langsung duduk disampingnya dan berniat menarik Melody kedalam pelukannya. Namun gadis itu menolak.


"maaf!" dengan lembut dia menghapus air matanya.


Gadis itu tetap terdiam. Bahkan tak mau menatapnya sekalipun. Dia benar benar kesal tentang hari ini.


"aku hanya tidak ingin kau pergi! kau sudah bersamaku sejak lama!"


Terserah!


"Melody!" Aldrich kembali menyentuhnya, namun berkali kali pula dia menolak. Sampai membuat pria itu bertekuk lutut dihadapannya.


Kali ini pria itu yang diam. Dia terlalu egois untuk mengekangnya sejak pertama kali mereka bertemu.


Melody menarik rambut putihnya agar dia mau mengangkat wajahnya dan menatap bola mata indah sebiru laut miliknya.


"Kau tahu? aku sangat berterima kasih padamu, saat semua orang tak ada untukku, kaulah yang selalu ada bersamaku. Aku menghargai kebaikanmu. Tapi seperti apakah hubungan kita sekarang? Kita sama sekali tidak terikat cinta, Aku hanyalah mainan bagimu dan juga ayahmu! bukankah begitu?"


Walaupun menyakitkan, tapi Melody mencoba mengungkapkan kebenaran tentang dirinya.


Aldrich menggelang pelan, lalu dia kembali bangkit dan duduk disampingnya. Membelai wajah cantik itu, mendekatkan wajahnya, dan menempelkan bibirnya diatas bibir Melody dengan sempurna.


Bukan sekedar pagutan mesra, tapi itu terasa bagai sebuah ungkapan kata tentang sebuah ketulusan dihatinya. Bagaimana ciuman itu terasa begitu hangat, begitu lembut dan menenangkan. Sampai membuat jantungnya hampir meledak dan air mata kembali jatuh membasahi pipinya.


Begitu Aldrich melepas pagutannya, dia berbisik ditelinga Melody. "aku mencintaimu, aku benar benar mencintaimu..." ucapnya lirih.


"dan berhenti merendahkan dirimu, kau berharga bagiku" ucapnya lagi


Satu orang lagi!


Satu orang lagi yang mencintai dirinya dengan sungguh sungguh, berapa banyak lagi orang yang akan dia sakiti?.


"hem...bagaimana dengan kuliahmu?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"baik baik saja, aku tinggal menyelasaikan satu semester lagi untuk lulus, lalu bekerja dan mewarisi salah satu perusahaan ayahku, dan setelah itu aku akan mengubah Alexandriamu menjadi Alderald ku" senyumnya membuat Melody terkekeh.


"aku baru tahu, namamu Aldrich Alderald, nama yang bagus!"


"hem, akhirnya aku menemukanmu kembali!" Aldrich tersenyum haru. Ada kristal bening dipelupuk matanya.


"kau menangis?"


"aku sangat bahagia!" senyumnya tak henti hentinya menatap Melody dengan tatapan penuh kerinduan.


Membuat gadis itu merasa bingung dengan pria berambut putih seputih salju itu.