
Hari hari berlalu, Melody dan Alisya semakin berteman dekat. Mereka menjalani hari dengan penuh semangat saat membantu ibunya Alisya. Tak ada masalah, tak ada air mata ataupun pertengkaran. Melody benar benar berusaha menjalani harinya dengan penuh canda tawa.
Seperti sore ini, usai berjualan di kios dan menyiram tanaman, mereka berbaring direrumputan hijau yang dingin. Sambil menatap langit yang begitu cerah dan membiru.
"ngomong ngomong, apa kau baru lulus Sekolah?" tanya Alisya memulai pembicaraan.
Melody tersenyum hambar dan menggelang pelan. "bukankah aku sudah menceritakan masa laluku?"
"maaf, aku lupa!" sahut Alisya merasa bersalah.
"ah lupakan saja, bagaimana denganmu? apa kau juga baru lulus sekolah?"
Alisya juga menggelang pelan. "aku hanya lulusan SMP, karna semenjak ayah meninggal aku tidak melanjutkan sekolah karna tak ada biaya, jadi aku memutuskan untuk membantu ibuku berjualan di Kios, kurasa itu juga akan lebih baik untuk mengurangi beban ibuku"
Hening!
Mereka tak lagi bicara dan hanya diam menatap langit dengan fikiran masing masing.
"oh ya, aku lupa menyimpan keranjang didepan" sahutnya memecah keheningan dan langdung buru buru pergi.
"Alisya?!" sahut seseorang saat dia tiba didepan rumahnya.
Orang itu tak lain adalah Aril, temannya yang baru menemuinya lagi setelah sekian lama. Namun kali ini dia membawa teman perempuannya.
"Aril? sudah lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" tanyanya langsung saja menghampirj Aril.
"baik, maaf ya sudah lama aku tidak mampir ke kiosmu, aku agak disibukan dengan kuliahku" cengirnya sambil menggaruk garuk tengkuk yang tak gatal.
"oh ya, ini temanku, Angelica!" lanjutnya sambil meperkenalkan Angelica yang sedari tadi berdiri disampingnya.
"Alisya!" senyum hangat gadis itu tak lupa menyodorkan telapak tangan kanannya. Namun setelah beberapa saat, Angelica tak kunjung membalas uluran tangannya dan hanya menatap Alisya dengan tatapan menjijikan. Sampai gadis itu menarik tangannya kembali dan tersenyum canggung.
"Alisya kau lama se-" tiba tiba Melody yang baru saja datang itu langsung menghentikan kalimatnya begitu melihat Aril dan Angelica yang sama terkejutnya saat melihat dirinya.
"hai..lama tak jumpa" senyumnya agak dipaksakan. Dia tidak ingin terlihat bodoh dan menyedihkan dihadapan mereka. Meski terlihat jelas kalau kondisinya tidak baik baik saja.
"jadi begini akhir kisahmu? malang sekali ya jadi orang gagal lalu ditinggal sahabatnya keluar negri . Saat semua orang sukses kau masih saja menjadi gembel seperti ini" ucap Angelica dengan senyuman sinis.
"didikan orang asing memang berbeda!" lanjutnya membuat Hati Melody seketika terkoyak.
"kau benar, oh ya, bagaimana kabar pamanku?" tanyanya berusaha tak peduli dengan ucapannya barusan.
"bahkan kau tidak tahu keadaan pamanmu saat ini, karna aku sedang baik hati hari ini dan kebetulan kita bertemu, aku ingin memberi tau kalau pamanmu yang tidak berguna itu sedang sakit keras dan terus memanggil manggil namamu, berisik sekali" jelasnya.
"bisakah kau mengantarkanku padanya?" tanyanya dengan suara bergetar.
"aku malas, lagipula tidak ada waktu!"
"Angelica!" Seru Aril dengan tatapan tajam.
"baiklah, tapi untuk hari ini saja!"
Akhirnya merekapun segera menuju mobil yang terparkir jauh didepan. Alisya juga ikut bersama mereka untuk memastikan keadaan Melody saat ini.
Disepanjang perjalanan, Gadis musim semi itu berusaha untuk tidak meneteskan air matanya. Berulang kali ia menarik nafas panjang dan berusaha menarik sudut bibirnya untuk tetap tersenyum.
"Kita sudah sampai Melody!" ucap Alisya begitu mobil sudah terparkir di area rumah sakit yang cukup besar.
"ah iya" senyumnya sedikit terkejut saat Alisya menepuk pundaknya.
Merekapun berjalan menyusuri koridor rumah sakit sampai tiba diruangan mawar No 13. Begitu mereka membuka pintu kamar, terlihat tubuh Sandy yang berbaring lemah diatas ranjang, Banyak selang selang yang disambung ke tubuhnya. Diantaranya infus untuk makanan bagi tubuhnya, serta obat obatan agar Sandy tetap kuat, kabel yang tersambung kealat monitor jantung dan terakhir kabel oksigen. Detak jantungnya masih terlihat normal. Namun melihat kondisi pamannya, Melody segera berlari menghampirinya.
"pamaan" ucapnya lirih. Lalu merekapun ikut berjalan menghampiri Melody dan Alisya mengelus punggungnya bermaksud untuk menenangkan sahabat barunya itu.
"Alexa..." sahutnya dengan suara pelan hampir tak terdengar. Lalu diapun membuka matanya secara perlahan.
"apa yang terjadi padamu paman? kenapa bisa seperti ini?" tanyanya tak habis fikir.
"ma...af kan aku..." ucapnya terputus putus.
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Melody segera saja memeluk Sandy. "tidak, kau adalah orang yang kuat, kau harus sembuh paman, kau harus sembuh..." ocehnya berusaha menguatkan.
"aku...terlalu lama menunggumu...aku sudah tidak kuat lagi...." ucapnya kali ini dengan nafas yang tak beraturan, matanya mulai tertutup secara perlahan lahan, dan monitor jantung itu sudah memberikan pertanda kalau dia sedang berada dalam sakaratul maut.
"Tidak tidak, kau harus sembuh, kau harus kuat dan harus bertahan. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, ayo kita hidup bersama seperti dulu lagi paman, kau adalah pamanku, satu satunya milikku dan bukan orang asing" oceh Melody semakin khawatir, bahkan dia tak peduli jika Alisya dan Aril berusaha menenangkannya.
"anak baik!" ucapnya sebelum dia benar benar menghembuskan nafas terakhir.
"pamaaan!!!!hiks...hiks....tidak lagi...jangan lagi...jangan lagi kau ambil semua milikku tuhan...Bagaimana kau bisa merenggut semua yang telah kau berikan padaku....bagaimana bisa nasib begitu mempermainkanku...seharusnya aku tidak pergi meninggakkannya waktu itu" tangisnya pecah. Dia tak henti hentinya memeluk jasad Sandy bahkan saat para perawat datang untuk segera membawanya.
"Pamanku belum meninggal suster, dia akan bangun sebentar lagi, dia hanya sedang tidur!!" teriaknya begitu para suster sudah membawa Sandy keluar dari kamar rumah sakit. Sementara Aril yang sedari tadi memeluk kuat Melody untuk tidak mengejarnya.
"tenangkan dirimu Alexa..." ucapnya terus memeluk Melody dengan kuat.
Namun gadis itu tetap menangis, menangis sejadi jadinya sampai membasahi baju Aril.