
Setelah kondisinya membaik, Melody segera menghubungi Glan dan memintanya bertemu
10 menit kemudian, Melody menemuinya dibukit favorit mereka. Dia mempercepat langkahnya untuk segera memeluk sosok yang sudah berdiri memperhatikannya.
BRUK!
"ada apa?" tanya suara itu terdengar lembut.
Melody tak sanggup berkata kata dan semakin mengeratkan pelukannya sekuat mungkin dan sekencang yang dia bisa.
"kau tidak akan meninggalkanku lagi kan?" tanyanya dengan suara tertekan.
"apa maksudmu?"
"katakan kau tidak akan meninggalkanku lagi"
Glan melepas pelukannya lalu tersenyum. "ayo kita menikah!" ucapnya tiba tiba saja kata itu terlontar dari mulutnya.
Seketika itu juga air matanya membuncah keluar dan dia menangis sesegukan. dia sangat terharu! namun kesedihan semakin mendalam di hatinya. Apakah Alga yang dia kenal benar benar sudah pergi? lalu siapa pria tampan yang berdiri dihadapannya sekarang? Dia tidak mungkin bisa berhalusinasi karna dapat menyentuhnya.
Bruk!
"aku mencintaimu....sangat mencintaimu...benar benar mencintaimu..." ucapnya begitu bersungguh sungguh.
Glan mengukir senyumnya lalu mengelus puncak rambut Melody dan sesekali menciuminya. Air mata ikut jatuh membasahi pipinya, entah kenapa. Rasa sakit itu begitu membelenggu.
Melody menyeka air matanya dan membicarakan soal kakaknya. "aku menemukan kakakmu!"
"sungguh?"
Melody mengangguk pasti. "maukah kau bertemu? aku ingin membuktikan kalau ucapan kakakmu itu bohong!"
"ucapan apa?"
"ayo ikut saja!"
"tapi, apa dia tidak akan memarahiku?"
Melody menggelang pelan "kalau dia memarahimu, aku yang akan memarahinya"
Glan tersenyum lalu mendaratkan ciuman singkat dipipinya.
...****************...
Malam ini, Aldrich membatalkan semua jadwalnya dan pulang lebih cepat untuk melihat kondisi Melody . Bahkan tak mempedulikan Alice yang sedari tadi merengek ingin ditemani menonton bioskop.
"Ibu, apa Melody sudah membaik?" tanyanya pada ibunya Alisya yang sedang mengepel lantai terasnya.
"Dia sudah baik baik saja Tuan"
"boleh aku melihatnya?"
"tapi...Dia tidak ada dirumah, dia sedang menemui seseorang, katanya penting" jelasnya.
Ahh, Aldrich tersenyum agak dipaksakan dan segera pamit lalu pergi menggunakan mobilnya. Dia sudah terlanjur membatalkan jadwalnnya malam ini, yang artinya dia harus menemukan Melody.
Aldrich langsung saja menghentikan mobilnya saat lampu beralih menjadi merah. Dan hal itu yang membuatnya berdecak kesal karna harus menunggunya meski hanya sebentar saja.
Namun tiba tiba sudut matanya menangkap mobil yang baru saja berhenti disampingnya, tak lain mobil itu milik Melody.
TIID!
Tiid!
Tiid!
"mau kemana dia?" gumamnya langsung keluar dari mobil dan mengintipnya dibalik pagar besi itu.
Ting tong!
Melody memencet bel berkali kali hingga terbukalah pintu dan mendapati Gray yang sudah berdiri dengan penampilan yang benar benar kusut.
"mau apa kau datang kesini?" tanyanya tidak suka.
Melody tak segera menjawab dan melirik pada Glan yang sedari tadi ada di sampingnya. "kakak aku membawa Alga!" ucapnya sambil menunjuk ke arah Glan.
"hahahaha Apa kau fikir aku sudah Gila? Kau tidak bisa membodohiku dengan cara seperti itu Melody" tawanya sama sekali membuat Melody sangat terheran heran.
"aku tidak membodohimu, Alga ada disampingku sekarang! apa kau tidak bisa melihatnya?" ucapnya berusaha meyakinkan.
Gray mengusap wajahnya kasar. "Sudah kubilang dia sudah meninggal karna kecelakaan pesawat, apa kau dengar itu?!!!" sentaknya dengan nafas yang terengah engah lalu dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai dan meremas rambutnya frustasi.
Sementara Glan diam membantu, dia begitu terhenyak saat mendengar penjelasan kakaknya. "aku...sudah meninggal?" tanyanya begitu tidak menyadari apa yang sebenarnya dia alami.
"Alga katakan sesuatu, buat dia mengerti, kenapa dia tidak bisa melihatmu?" tanyanya dengan suara bergetar karna tangis.
Glan hanya menggelang pelan, fikirannya kosong dan sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Diapun ikut berjongkok lalu mengelus rambut kakaknya dan menempelkan dahinya didahi Gray dengan mata yang terpejam. Merasakan kasih sayang yang selama ini kakaknya berikan.
Hangat!
Gray bisa merasakan kehangatan adiknya disekitarnya, air matapun ikut jatuh dan dia sangat yakin kalau adiknya benar benar ada disini.
"Melody katakan padanya, kenapa dia pergi meninggalkanku? kenapa dia membuatku gila? dan kenapa dia melakukannya?"
Glan yang mendengar hal itu ikut menangis, dia tak sanggup melihat kakaknya kacau seperti ini.
"maafkan aku...aku tidak pernah mendengarkanmu...aku selalu membantahmu dan membuatmu khawatir..."ucapnya dengan suara bergetar.
"kakak, dia bilang Alga minta maaf karna tidak pernah mendengarkanmu dan selalu membuatmu khawatir" jelas Melody mengulang ucapannya.
"katakan kalau aku sangat menyayanginya, maaf selama ini aku tak bisa melindunginya dan menjaganya dengan baik....Aku tak bisa menjadi kakak yang berguna untuknya...."
Ketiganya langsung saja menangis penuh rasa haru. Percaya atau tidak, Tak ada siapapun yang bisa melihat Glan kecuali Melody. Apakah ini yang dinamakan keajaiban Cinta?
"terima kasih!.." ucapnya dengan suara sangau karna tangis.
"maafkan aku kakak, Aku yang membuat semua jadi kacau begini...aku benar benar minta maaf!" Melody bersujud dihadapannya dengan penuh penyesalan. Membuat Gray terharu dan langsung membantunya berdiri, namun jujur saja, hatinya tetap tidak bisa menerimanya lagi. Karna jika bukan Karna Melody, Adiknya tidak akan pernah pergi jauh, apalagi meninggalkannya. Dan kesalahan itu seluruhnya terjadi karna dirinya, orang yang selama ini dia percayai. Dan dia menyesal telah mengambil keputusan ini.
"Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi" ucapnya sambil memalingkan wajah.
Melody melirik pada Glan yang tiba tiba saja pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah apa yang ada difikiran pria itu sekarang.
"aku akan pergi, tapi akan tetap mengunjungimu kesini!" senyumnya langsung saja beranjak.
"Aldrich?" tanyanya begitu melihat Aldrich yang sudah mematung dengan mata berkaca kaca.
"apa kau mengikutiku?" tanyanya.
"Takdirmu berat Melody, kau harus menanggung semua ini sendirian..."ucapnya tiba tiba.
"ayo kita pulang" ajaknya sambil menarik tangan Melody.