Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
40. keluarga adalah surga kecil yang indah



Akhirnya terjawab sudah apa yang membuat Melody bertanya tanya tentang sikap aneh Aldrich. Pria itu memiliki masa lalu yang cukup buruk.


Namun hal itu tentu saja mengingatkan dirinya pada Glan yang hendak kuliah di luar Negri. Fikiran buruk kembali menghantui dirinya. Mungkin dia bisa menerima kalau dirinya bukan lagi orang yang spesial, lagipula ada Resya yang jauh lebih baik dan lebih pantas untuknya. Tapi Melody tak mau jika dia harus kehilangan Glan untuk selama lamanya. Dia sudah tahu rasa sakit kehilangan seseorang.


Baru saja dia akan melepaskan pelukannya, Aldrich malah semakin erat memeluknya.


"jangan lepaskan aku!" rengeknya manja.


Kini gadis itu yang terkekeh, Entah mengapa kehangatan pelukan Aldrich bukanlah kehangatan sebagai seorang kekasih. Dia seperti menemukan sosok kakak dalam dirinya. Mungkin karna Aldrich 4 tahun lebih tua darinya.


"Berapa lama lagi?" tanyanya mulai merasa sesak berada didalam pelukannya. Entah sudah berapa menit dia berdiri dan tak merubah posisinya.


"selamanya!"


Bisa mati dia!


"sudahlah, larut dalam kesedihan itu tidak baik! bagaimana kalau kau mengajak semua keluargamu untuk makan malam diluar? sepertinya menyenangkan!" ucapnya berusaha melepas pelukan Aldrich. Lalu dia menyusut sisa air mata disudut matanya.


"semua selalu sibuk, bahkan kami jarang makan malam bersama dirumah!" ucapnya seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ayahnya.


"tenang saja, aku akan membujuk mereka semua!"


"mereka masih dikantor!"


"berikan ponselmu!"


Aldrich merogoh saku celananya dan memberikan benda pipih itu pada Melody.


"jangan bicara macam macam!" perintahnya begitu Melody menghubungi Tuan Gilang.


"ya, ada apa Al?" tanya suara itu.


"ini aku paman!"


"ooh Melody, ada apa?"


"begini paman, bisakah paman menemani kami makan bersama diluar? Aldrich bilang makanan rumah sudah bosan!" cengirnya sambil menutup mulut Aldrich yang akan berbicara.


"maaf, tapi aku akan bertemu dengan klien jam 9 malam" jawabnya.


"kumohon batalkan saja untuk malam ini paman, sesekali berkumpul bersama keluarga bukan hal yang buruk kan?" ucapnya dengan suara yang lembut selembut sutra.


"baiklah, apapun untukmu!"


"terimakasih!"


Aldrich menjitak kepalanya sampai dia meringingis kesakitan.


"ternyata kau sudah seperti jalang sungguhan, dasar gadis nakal, pandai merayu!" ejeknya namun tetap merasa senang karna dia berhasil membujuk ayahnya.


Melody tersenyum simpul, yah, terserahlah, dia akan menerima apapun ucapan orang lain tanpa dibawa hati. .


Setelah cukup lama membujuk Nyonya Anjani dan Nyonya Vera. Akhirnya merekapun setuju untuk makan malam bersama di Restaurant bintang lima yang ada ditengah kota. Mereka memesan makanan porsi besar untuk keluarga dan menikmati hidangan yang disajikan oleh seorang Waitres.


Mereka terlihat sangat menikmati dan sesekali berbincang bincang membicarakan hal hal yang tak biasa mereka alami.


Sementara Melody hanya tersenyum bahagia melihat keakuran mereka, dia sangat takjub begitu melihat kemesraan Tuan Gilang dan Nyonya Vera yang saling menyuapi membuat Nyonya Anjani berusaha untuk tidak terlihat cemburu. Toh, dia juga sudah punya suami lagi, namun malam ini tak bisa datang karna dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.


"hey, hentikan senyumanmu!" oceh Aldrich sambil menyenggol pinggangnya.


"kenapa?"


"aku tidak mau orang lain tertarik karna senyumanmu yang manisnya keterlaluan itu!"


Melody terkekeh pelan dan kembali melahap makananannya. Namun belum sempat makanan itu masuk kemulutnya, Aldrich melahapnya duluan. Melody kembali menusuk dagingnya dan hendak memakannya, namun lagi lagi kalah cepat oleh Aldrich.


"Aldrich!" dengusnya merasa kesal.


Pria itu tersenyum, kali ini dia menyuapi Melody makanan yang ada dipiringnya.


"emm, ada sesuatu dibibirmu!" ucapnya sambil menysut sisa makanan yang tertinggal disudut bibir gadis itu dan llangsung menjilatnya.


"hentikan kebiasaan burukmu itu!"


"heey ini namanya cinta!" balasnya dengan seringai nakal seperti biasanya.


"ekhm, malam ini giliranku ya!" sahut Tuan Gilang yang sedaei tadi memperhatikan mereka.


"Aku? kan ada Nyonya Anjani Tuan! Istri sah Anda!" senyumnya.


"tapi aku lebih suka melakukannya denganmu, kau begitu-"


"ahahaha tidak perlu dilanjutkan, tapi aku mohon dengan sangat, lebih banyak habiskan waktu dengan istri Anda!" cengirnya benar benar merasa malu membahas hal seperti ini ditempat umum. Nampak jelas wajah PELAKOR nya dihadapan semua orang.


"hem baiklah, aku akan bermalam dengan Anjani malam ini!"


Yes!


Melody bersorak gembisa dalam hatinya. Dan hal itu juga memberi keuntungan pada Anjani yang hanya tersenyum tipis. Namun dia yakin dalam hatinya dia pasti merasa bahagia.