Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
47. Masalah yang menguntungkan



"ada apa ini?...kenapa aku tidak bisa bergerak?... rasanya tubuhku berat sekali..." batin Melody saat dia berusaha untuk membuka matanya dan menggerakan tubuhnya.


Dan begitu terkejutnya saat melihat Aldrich yang ternyata sudah menindihnya.


"pria ini benar benar menyebalkan!" batin Melody langsung saja menyingkirkan pria itu dengan menendangnya sampai terjatuh.


BRUK!


"adu duh, sakit!" ringisnya masih belum sadar sepenuhnya. Setelah itu dia berdiri dan terus mengoceh.


"kau bisa kan membangunkanku dengan lebih lembut lagi?, bukannya malah menendangku begitu, sakit tau!"


"habisnya kau itu tidak tahu diri, sudah tau badanmu berat!"


"salah siapa kau mau tidur bersamaku!"


TERSERAH!


Melody memilih untuk mengalah. Daripada ribut dipagi hari, lebih baik dia melakukan aktifitas paginya.


Sebelum itu, mendadak dia mengingat sesuatu dan bertanya pada Aldrich. "bisakah kau kembalikan ponselku?"


"pria itu tidak memberimu kabar" jawabnya seakan mengerti apa yang ingin diketahui Melody.


"kembalikan dulu baru aku akan percaya!"


"baiklah!" jawabnya enteng. Lalu dia membuka lemarinya dan mengambil ponsel yang dia taruh dibawah tumpukan bajunya yang terlipat rapi. Lalu dia memberikannya pada Melody.


Hem....mencurigakan sekali dia mau memberikan ponselnya tanpa berdebat dulu.


Setelah meraih ponselnya, dia segera mencari nomor Glan, namun ternyata tak ada di daftar kontaknya.


SUDAH IA DUGA!


"aku sudah memblokir nomornya dan menghapusnya secara permanen" seringainya terlihat begitu puas.


LUCU SEKALI!


Melody berdecak kesal, sekarang sudah tak ada gunanya lagi. Dan bagaimana dia bisa menghubungi Glan sekarang? belum lagi, dia harus memikirkan cara agar bisa terlepas dari jeratan pria itu.


CEKREK!


tiba tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seorang wanita berbadan kurus dengan make up yang menor dan mencolok. Namun dia terlihat cantik dan memiliki wajah keibuan.



"ooh, jadi ini ****** peliharaanmu?" tanyanya sambil menatap Melody dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu dia menyeringai dan melangkah mendekati Melody.


"memang cantik, tapi sampah!" ucapnya masih dengan tatapan mengejek.


Yah, setidaknya dia mengakui kalau dirinya cantik.


"terima kasih!" Melody tersenyum lebar sambil membungkukan badannya seolah olah dia sangat menghormati wanita itu.


"ck ck ck, astaga! ternyata kau lebih rendah dari yang kufikirkan!" ucapnya sambil geleng geleng kepala.


Lagi lagi Melody tersenyum dan menerima ucapannya yang tidak terlalu menyakitkan itu. "anda benar!"


"mau apa kau datang kesini?" tanya Aldrich tajam. Dia tak suka melihat gadisnya diperlakukan seperti itu karna Melody begitu berharga baginya.


"ayolah sayang, aku bisa lebih cantik darinya, dan tentunya aku masih perawan!" Gadis itu menggandeng tangan Aldrich sambil ujung matanya mendelik tajam pada Melody. Seakan sedang menyindir dirinya.


"Maaf Nona Alice Auristella, Melody berharga bagiku, dan hanya orang bodohlah yang tidak memungutnya!"


Memungutnya? Dia tidak tahu apakah Aldrich sedang membanggakannya atau menghinanya.


Perang dinginpun di mulai, dimana mereka saling bicara dengan tatapan tajam, seringai jahat dan tentunya senyuman palsu. Sampai akhirnya, Datanglah seorang pelayan yang mengetuk pintu.


"permisi, Nyonya Vera menunggu Anda di ruangannya Nona Melody!" ucapnya sopan.


"Ah aku akan datang!" sahutnya segera saja keluar dari kamar yang menyesakan ini.


"Lihat saja, kau akan segera pergi dari rumah ini!" teriak Alice saat Melody sudah keluar dari kamar itu.


Melody tersenyum senang, bukannya itu bagus? firasatnya mengatakan kalau dia memang akan segera pergi dari rumah ini.