Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Kamu Itu Menyebalkan



Ardi menyeret Arine dan memaksanya naik ke motornya. Dalam perjalanan pun Ardi memegang erat kedua tangan Arine yang dia letakan melingkar di pinggangnya. Arine hanya pasrah dengan apa yang dilakukan oleh pacar kakaknya itu, ralat mantan pacar yang sangat di cintai oleh kakaknya yaitu Anisa.


Sampailah mereka di lingkungan Aperteman Arine dan Ardi masih menggenggam erat tang Arine untuk tetap memeluknya dibelakang itu.


"Apakah senyaman ini kamu tidak ingin melepaskan genggamanmu dalam posisi aku memelukmu dari belakang seperti ini?. Apakah kamu tidak merasa bersalah dengan seseorang yang kamu cintai?. Bisa kamu lepaskan. Aku haru turun dan kembali ke rumah, karena kamu dengan paksa membawaku pulang"kesal Arine yang langsung dilepaskan oleh Ardi.


"Kamu harus sadar, aku bukan kak Anisa. Karena kak Anisa gak mungkin berkata lancang seperti itu bukan. Aku harus menyadarkanmu, kalau aku bukanlah dia"ucap Arine dalam hati sambil turun dari motor Ardi.


"Kamu berbohong. Kenapa kamu melakukan hal itu padaku. Apa kamu masih marah padaku, Nisa. Hingga memalsukan kematianmu dan mengganti namamu dengan nama lainnya. Aku tahu ini kamu Nisa, kamu gak akan bisa berbohong padaku"ucap Ardi yang membuat langkah Arine berhenti dan menoleh kearah Ardi.


"Bagaimana aku menjelaskan hal ini pada dia. Jika aku Arine dan kak Anisa berada di Rusia dengan keadaan yang belum aku ketahui karena larangan Devan. Dan jika aku mengatakan aku adalah kembaran Anisa, itu malah akan menjadi masalah dengan banyak pertanyaan dan membutnya mengetahui keberadaan kak Anisa. Aku tidak ingin dia mengetahui keadaan kak Anisa yang memburuk. Aku akan memberitahu semua itu jika keadaan kak Anisa sudah membaik karena itu hal yang baik supaya tidak ada harapan penyesalan dari laki-laki ini. Aku tahu dia sangat mencintai kak Anisa, maka dari itu aku harus melakukannya. Maafkan aku kak Ardi"ucap Arine dalam hati.


"Sepertinya kamu perlu memeriksakan diri ke psikolog, kak Ardi. Karena kamu seperti ada gangguan dengan psikis mu. Aku Arine, Erlina Arine, bukan kekasihmu Anisa. Sungguh kamu menakutkan jika kamu menyamakanku dengan kekasihmu itu. Bukankah ini salah!?"kesal Arine yang sebenarnya kasian dengan laki-laki yang ada dihadapannya itu. Andai dia bisa mengatakan kebenaranya, tapi dia tidak bisa melakukan hal itu.


Ardi langsung tertawa mendengar ucapan Arine barusan dan membuat Arine merasa bingung dibuatnya.


"Aku tahu kamu bukan Anisa. Anisa tidak akan melakukan hal-hal yang tidak dia suka, seperti keluar malam, lebih tepatnya hingga tengah malam hari seperti ini. Berbicara dengan sangat keras hingga menjadi perhatian orang lain bukanlah sikap Anisa. Anisa tidak suka menjadi pusat perhatian. Anisa tidak suka keluar malam, Anisa tidak suka membaca komic, Anisa tidak suka memainkan game di handphone seperti kamu, apalagi mengabaikan guru/dosen ketika sedang pelajaran. Tapi, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku. Anisa adalah kakakmu, bukan?. Sekarang dia ada dimana?"tanya Ardi yang berjalan mendekat kearah Arine yang menjadi kaku tidak bisa bergerak dari tempat itu karena tatapan tajam Ardi yang menusuk itu. Sungguh Arine merasa takut saat ini. Arine tidak pernah melihat seseorang menatapnya sampai seperti itu.


"Aku mendengar semua pembicaraanmu dengan temanmu dilorong FEB. Kamu tidak bisa membohongiku lagi. Dimana Anisa, Arine!!"bentak Ardi tanpa sadar. Arine terkejut akan hal yang dilakukan oleh Ardi. Laki-laki itu membentaknya.


"Kamu barusan membentakku?. Sungguh?. Kamu memang perlu ke ahli psikolog"ucap Arine yang kakinya sulit untuk digerakkan.


"Dan berhenti mendekat kearahku. Kamu membuatku takut bodoh"kesal Arine yang langsung berjongkok kesal karena kakinya sulit digerakkan.


Ardi yang melihat hal itu pun berhenti melangkah dan melihat Arine yang menutupi wajahnya itu.


"Aku hanya takut, kalau aku jujur, malah akan menjadi masalah besar. Tapi kamu sungguh menakutkan Ardi. Kakiku gak bisa digerakan, sial"kesal Arine menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang dibuatnya bertumpu.


Ardi yang mendengar itu pun terdiam. Anisa tidak akan sampai seperti ini meskipun Ardi menatapnya tajam atau sedingin apapun, malah Anisa akan membalas tatapan itu. Sedangkan Arine dia sangat takut akan tatapan Ardi yang sudah biasa dilihat oleh Anisa. Ya begitulah Ardi sebenarnya, orang yang sebenarnya sulit didekati karena sikapnya dan dia adalah ketua sebuah gang motor yang terkenal akan kekejamannya. Namun semua itu teratasi ketika Anisa masuk dalam kehidupannya.


"Jika kamu ingin mengetahui dimana kak Anisa, aku gak tahu. Iya Anisa, seseorang yang kamu cintai itu adalah kakak aku, dia kembaran aku. Aku pun baru tahu, karena baru ingat hal itu. Aku bodoh karena aku lupa, aku lupa jika aku mempunyai seorang kakak. Kenapa aku harus mengalami lupa ingatan yang menyebalkan ini"kesal Arine menyalahkan dirinya sendiri.


"Apa sekarang kamu puas, jadi berhenti menggangguku, karena aku bukan kak Anisa. dan berhenti menatapku seperti itu, kamu kira aku seorang penjahat yang harus di intimidasi seperti itu"kesal Arine masih dalam posisi yang sama.


Ardi masih terdiam mendengarkan teriakan Arine di tengah pagi buta ini. Mungkin sekarang sekitar jam 1 pagi.


"Dia memang bukan Anisa"ucap Ardi dalam hati.


"Sekarang aku ngantuk, tapi kakiku gak bisa digerakan, sial. Kebiasaan yang mengerikan"kesal Arine lagi yang hanya ditatap Ardi.


Masih dengan posisi menutup mukanya itu, Arine mencari handphonenya ditasnya. dan mengambil handphone itu untuk memanggil seseorang yang tidak lain adalah bi Asih.


"Kenapa kamu mendekat sih, sialan. Aku kan sudah bilang berhenti. Aku juga sudah memberikan informasi yang aku tahu. Dan satu informasi supaya kamu senang dan tidak sedih lagi apalagi, menggangguku. Aku tahu kamu sangat mencintai kakakku, Anisa. Makanya kamu bertindak gila seperti ini. Sesuai dengan feelingmu saat ini, kak Anisa masih hidup, orang yang dikubur itu adalah orang lain. Aku baru tahu ketika ingatanku sedikit-sedikit kembali hingga aku memaksa Devan menceritakan yang dia tahu. Tunggu dulu jangan menyela sebelum aku malas menjelaskan, karena cerita akan panjang"kesal Arine ketika Ardi ingin memotong ceritanya.


"Kak Arine masih hidup, tapi aku gak tahu posisinya saat ini. Daddy menyembunyikannya keberadaan kak Anisa. Aku juga tahu itu demi kebaikan kak Anisa dan kebaikanku supaya aku tidak merasa bersalah atau bersedih dengan keadaan kak Anisa yang begitu mengenaskan. Kenapa aku bisa mengatakan mengenaskan, karena kak Anisa koma sampai sekarang. Sudah setahun kak Anisa koma dan belum ada kemajuan. dan setahun pula aku melupakan kakakku, gara-gara kecelakaan sialan itu. Andai kak Anisa tidak ikut aku pulang, mungkin hanya aku yang akan mengalami hal itu. Kakakku sudah menderita dan malah semakin menderita karena ku. dan hilang ingatan sialan ini pula kenapa berani-beraninya dia masuk ke otakku dan mengahapus ingatanku"ucap Arine yang tiba-tiba merasa kepalanya terasa pusing.


Arine pun memegangi kepalanya itu yang sangat sakit, hingga Ardi meneriaki Arine untuk sadar dari rasa sakit itu.


"Hei, Arine sadarlah...Arine..."panggil Ardi dan Arine pun membuka matanya perlahan.


"Aku mencintaimu, di. Maafkan saat itu aku memutuskanmu seperti itu. Tapi sungguh aku mencintaimu"ucap Arine yang langsung pingsan lagi. Ternyata ruh Anisa mencoba masuk ke tubuh Arine. Hingga Arine mengalami pingsan lagi.


Ardi masih terkejut dengan apa yang dia dengar saat itu dan menatap Arine dengan beribu tanda tanya.


"Itu bukan Anisakan?!"ucap Ardi menatap Arine yang masih dalam kondisi pingsan.


***


Arine merasa badanya sakit semua. dan terkejut ketika dia sudah berada didalam kamarnya.


"Bukannya semalam aku pingsan"ucap Arine ke dirinya sendiri dan bi Asih datang membawakan bubur untuknya.


"Dimakan dulu non. Non Arine sudah sedikit membaik kan"tanya bi Asih.


"Memangnya aku kenapa bi?. Aku baik-baik saja tuh"jawab Arine sambil mengambil air putih yang diberikan bi Asih langsung meminumnya.


"Semalamkan non Arine pingsan. Terus diantarkan oleh anak laki-laki kesini. Bukannya non Arine semalam pergi sama teman non yang bernama Naila. Kok pulangnya bisa bersama remaja laki-laki"tanya panjang lebar bi Asih yang langsung mendapatkan tatapan dari Arine dengan menyipitkan matanya dan membuat bi Asih merasa tidak enak dengan tatapan itu.


"Bi Asih akan melaporkan hal itu ke Devan bukan?. Bi Asih tidak inginkan membuat Devan salah paham. Begini ya bi Asih, semalam aku tiba-tiba pingsan terus Naila dan laki-laki itu yang bernama Ardi menolongku dan mengantarkan pulang. Dia itu temanku juga. Jadi jangan melaporkan hal yang tidak jelas ke Devan, aku gak suka jika pertemanan ku terlalu diikuti campur seperti itu"kesal Arine yang langsung pergi menuju ke kamar mandi.


.


.


.


.


.


Next on...