
Satu bulan Kemudian.....
...-'-'---------...
Yang paling berat itu adalah mengikhlaskan kepergian seseorang, yang berawal dari penantian dan berujung kematian membuat rasa dihati seakan hancur bagai kepingan kaca yang dihempaskan ke batu oleh kekuatan raksasa..
Sekarang, sudah tak ada lagi penantian ataupun kehidupan yang lebih bahagia dari ini. Melody dapat menyadari, jika kekuatan cinta sangatlah besar, bahkan bisa merubah takdir walah pada akhirnya hal itu tetap terjadi sebagaimana mestinya.
Melody sudah merasa lelah untuk menghadapi masalah yang akan menimpa dirinya dimasa depan. Bahkan sekarang dia sudah membulatkan tekad untuk mengakhiri masalahnya. Yaitu dengan cara bunuh diri. Dia tak akan mempedulikan siapapun lagi. Baik itu Aldrich, Gray, Aril, Alisya ataupun ibunya. Pada akhirnya semua juga akan pergi dan lenyap dari dunia ini.
Matahari sore ini masih sangat terik dan panas. Melody pun mengelap keringatnya dan mengeluh agar cepat cepat sampai ditempat yang ingin ia tuju. Dia malas sekali memakai mobil dan lebih mudah untuk jalan kaki.
Melody harus menyebrang jalan menuju Halte, begitu dilihatnya jalanan sudah sepi, dia menyebrang jalan, fikirannya melayang kemana mana, dia masih ingat sekali bagaimana menghilangnya Glan malam itu. Benar benar sulit dipercaya kalau dia menghilang begitu saja.
Begitu menyebrang jalan, tiba tiba sudut matanya menangkap bayangan Glan di balik pohon tak jauh dari halte. Tentu saja karna penasaran, Melody pun menoleh dan kakinya refleks berbelok. Dan saat itulah, tragedi itu bermula. Sebuah mobil mewah yang sedang melaju sangat kencang menghantam tubuh Melody dan membuatnya terpental sampai sepuluh meter.
BRAAAAKKKKK!!!!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Melody...,bangun!" samar samar Melody mendengar suara seorang pria, badannya diguncang pelan oleh pria itu.
Perlahan-lahan dia membuka matanya, dan mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan dengan kondisi gelap ke cahaya temaran yang dialaminya. Dilihatnya seorang pria dengan wajah yang sudah tak asing baginya.
"Alga?..." ucapnya kaget. Namun begitu dia mengedarkan pandangannya. Seluruh ruangan ini sangat gelap. Dan hanya cahaya dari tubuh merekalah yang menyinari ruang gelap ini. Melody menoleh ke samping dan dikejutkan oleh keluarganya yang sudah tersenyum damai dengan pakaian serba putih. Ayah, ibu, kakak dan paman serta kedua orang tua Glan.
Melody menangis bahagia. "ah kalian sangat bahagia rupanya!"
Glan tersenyum lalu mengulurkan tangannya dan membantu Melody berdiri. Sampai dia baru menyadari kalau dirinya sudah dipakaikan gaun pengantin yang sangat indah berwarna putih bersih, dengan renda renda yang banyak, dan manik manik berkilauan serta bordiran indah yang menghiasi pinggirannya.
"ayo menikah!" senyumnya sambil memberikan buket bunga Lily padanya.
Melody menangis penuh rasa haru, entah apa yang terjadi, tapi dia sangatlah bahagia bisa berkumpul dengan keluarga yang dicintai juga mencintainya. Baru saja dia hendak menerima bunga itu, tiba tiba seseorang memanggil namanya dengan suara menggema yang mengisi seluruh ruangan.
"Melody sadarlah....kau tidak bisa meninggalkanku....kau tidak bisa pergi begitu saja...ayo buka matamu...." teriak orang itu yang tak lain adalah Aldrich.
"apakah dia masih menginginkan kehadiranmu?" tanya Glan.
Melody menggelang kuat kuat. "aku hanya ingin bersamamu!"
DEGH!
seketika Melody membatu, namun disisi lain dia tak ingin ada permasalahan lagi dalam hidupnya. inilah jalan yang dia pilih, yaitu bersama dengan Glan.
"Kembalilah....masih ada kesempatan bagimu!"
BRUK!
Melody mendekapnya dan memeluknya dengan sangat erat. "aku tidak mau, aku ingin bersamamu"
"Aku selalu bersamamu..."
"Bohong!"
"dengar....saat kau kembali nanti, aku akan ada dan selalu menemanimu dan menjadi milikmu selamanya" ucapnya dengan bersungguh sungguh.
"aku tidak mau, ayo kita lanjutkan pernikahan kita!" elaknya begitu kukuh.
Glan mengelus rambutnya penuh sayang. "dan orang yang mencintaimu akan menangis karna kepergianmu begitu?"
"kau juga tidak mempedulikanku saat kau pergi begitu saja!"
"Melody...aku sudah tidak punya kesempatan... kumohon fahamilah...."
Melody terdiam dan semakin erat memeluknya.
"berjanjilah padaku kau akan bahagia bersamanya, tak peduli apapun yang terjadi...kalian harus tetap bersama. Mengerti?" ucapnya terdengar sebagai sebuah perintah.
"itu benar, kau harus belajar dari apa yang kau alami selama ini..."tambah Haikal langsung saja menghampirinya dan ikut mengelus rambut Melody.
Takdir memang tak bisa dipaksakan, Melody melepas pelukannya dan menatap Dalam onyx hitam lelaki itu, Lalu pandangannya beralih pada mereka yang juga memberikan pesan penyemangat untuknya. Tak terkecuali dari kakaknya, Dia memeluknya untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu dia menghapus air matanya.
"aku tidak akan menyia nyiakan lagi kehidupan yang tuhan berikan padaku"
"AKU MENCINTAIMU..." Glan tersenyum, lalu meraih tengkuknya dan mendaratkan bibirnya diatas bibir Melody dan mereka berpagut mesra. tiga tetes air mata ikut jatuh membasahi pipinya dan tiba tiba saja cahaya Menyinari seluruh ruangan......