Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Kembali Dari Awal 4



"Aku jemput dimana Rine, di apertemenmu ya. Oh iya, 15 menit lagi aku nyampe, lu harus sudah di lobi"ucap Naila melalui sambungan telphone. Arine yang mendengar hal itu pun menahan tawanya dan malah ada ide buat mengerjain teman barunya itu.


"Santai saja, lu datang gue otw mandi"goda Arine yang saat ini sedang menonton Tv bareng bi Asih yang fokus dengan sinetron di televisi ikan terbang.


"Reseh lu, 15 menit lagi gue sampai nih. Aperteman lu deket sama rumahku njir...kenapa dari kemarin hak lu bilang sih Rine. Lu sakit kan bisa gue syukurin disana"canda Naila yang memang sudah semakin nyeblak saja.


"Parah bener lu ya Nai, orang sakit malah lu syukurin. Sudah deh aku siap-siap, bye-bye. Kita senang-senang malam ini"ucap Arine mengakhiri sambungan telpon itu.


"Bi Asih, Arine nanti keluar sama teman Arine, si Naila. Bi Asih jangan bilang sama Devan. Kalau bi Asih kasih tahu hal ini ke Devan, bi Asih bisa pulang ke rumah bi Asih besok"goda Arine yang langsung membuat bi Asih kaget.


"Ya ampun non, saya gak bakal melaporkan hal seperti itu non, hanya kalau non sakit atau masalah besar yang tidak bisa diselesaikan baru saya akan memberitahukan hal itu e Mr. Devan"jawab bi Asih keceplosan dan membuat Arine tersenyum senng karena keceplosan itu.


"Binggo, great. Bi Asih lolos jadi teman aku di rumah ini. Nanti bi Asih langsung tidur saja ya, gak usah nungguin aku pulang. Takut kemalaman"ucap Arine yang langsung menuju kamarnya.


***


Arine menunggu Naila dilobi hampir 5 menit ketelatan yang membuat Arine memutar bola matanya malas.


"Tuh kan dia nya yang molor"kesal Arine yang langsung ke luar dari apertemannya itu. Dia lebih memilih menunggu diluar dari pada di lobi.


Saat dia berjalan keluar sebuah tangan menggenggam tangannya dari samping. Arine pun langsung menoleh dan melihat siapa yang meraih tangannya itu.


1 detik


2 detik


.


.


5 detik


Arine belum bersuara saat itu juga. Orang itu pun hanya menatap Arine, hingga suara klakson mobil menyadarkan Arine.


"Arine"panggil seseorang didalam mobil yang ternyata itu adalah Naila. Arine pun melepaskan genggaman tangan itu dan melangkah pergi. Namun setelahnya, orang itu berucap.


"Kamu mau kemana malam-malam seperti ini"tanyanya sedikit dingin atau sangat dingin atau lebih dari itu.


Arine hanya terdiam dan lebih memilih pergi dari sana, meninggalkan orang itu yang menatap tajam kepergian Arine.


Akhirnya Arine sudah masuk kedalam mobil Naila. Naila pun menanyakan akan orang yang bersama Arine tadi sambil menjalankan mobilnya.


"Kamu memang sesuatu tahu gak Rine. Tadi siang kak Arif, sekarang kak Ardi yang ngampirin kamu di aparteman. Lu gak takut di landak sama tunangannya itu. Lu gak tahu apa kak Bunga itu perempuan ter posesif yang aku tahu saat ini sih"ucap Naila sambil ketawa, ketika mengetahui desas desus tentang Ardi dan Bunga.


Arine hanya terdiam dan setelah itu berusaha tersenyum.


"Aku saja gak tahu kalau tuh orang ada disana, kebetulan saja. Mungkin dia ada perlu disana. Ah gak tahu, aku saja gak akrab loh Nai sama itu laki-laki"ucap Arine mengatakan yang sebenarnya namun menyembunyikan kenyataan jika dia pernah menolong Ardi dan bisa dikatakan makan malam berdua(🤭).


"Bohongnya ketara bener kamu Rine. Mana ada gak saling kenal, tapi saling berpeganan tangan kayak tadi yang aku lihat. Plus lu tahu gak sih, tai tatapan kak Ardi pas natap kamu masuk ke mobil. uh....mantab kali itu Abang, baddas gaes, kek orang marah gak izinin pacarnya keluar malam sama teman. Lu bukan selingkuhanya kak Ardi kan?"tanya Naila yang malah membuat Arine langsung menjitak temannya itu karena kesal.


"Fikiranmu ya, sumpah baru kali ini ada orang yang mirip banget sama gue, fikirannya selalu neting mulu sama orang"jawab Arine yang malah membuat Naila ketawa.


"Memang kita satu frekuensi Rine, wkwkwk. Tapi aku seriusan buat pertanyaanku tadi Rine, lu bukan selingkuhannya kak Ardiman?"tanya Naila lagi.


"Ya nggak lah, gila saja lu. Mana mungkin gua selingkuh sama itu laki, kalau gue sudah punya laki-laki yang kaya, mapan dan nilai plusnya tampan"jawab sombong Arine yang ditatap sekilas oleh Naila yang langsung tertawa dengan ekspresi Arine yang menurut Naila itu lucu.


"Supah ya Rine, sombongnya lu pertahankan. Gue suka yang kayak gitu"ucap Naila yang langsung membuat mereka tertawa


"Terus pacar lu dimana, Rine. Gak pernah lihat aku, kamu diantar ke kampus atau lainnya"tanya Naila disela dia menyetir.


"Di Washington, D.C. Amerika serikat"jawab enteng Arine yang langsung membuat Naila terkejut hampir saja dia mengerem mendadak.


"Lu LDR an sama kekasih lu itu Rine. Berapa lama kasihan amad sih"ucap Naila dengan ekspresi sok sedih yang langsung diketawain oleh Arine.


"Lu lebay tahu gak Nai. Baru sehari, soalnya kemarin dia datang, terus pagi-pagi buta dia harus balik karena urusan pekerjaan Nai. Aku itu sudah hampir 3 tahun pacaran sama dia. Dan baru kali ini aku merasakan LDR, karena aku sekolah disini. Lu kan tahu, dari kecil aku sudah tinggal lama di AS bareng Daddy. Jadi aku pingin pulang kampung dan merasakan sistem sekolah dari negara asal dong"jawab enteng Arine lagi yang membuat Naila hanya gedek-gedek kepala saja.


"Lu memang beda Rine. Aku gak nyesel milih lu jadi teman. Sudah satu frekuensi, idealis, praktis, modis, slimpis, apalagi yang ada is ia nya"ucap Naila yang malah membuat mereka ketawa lagi.


Sumpah perjalan ke tempat tujuan tidak berasa karena candaan mereka masing-masing. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang mereka tuju.


"Haduh Rine. Kalau ngomong satu-satu sih, kalau sekalian aku suka kebingungan. Santai saja aku juga dilarang ke lantai 2. Kita bakalan seneng-seneng dibawah. Tanpa dilantai 2, lantai satu juga sangat ramai bukan"ucap Naila yang membuat senang Arine.


Mereka pun langsung mencari kursi disana. Tanpa mereka sadari Ardi mengikuti mereka sampai disana.


"Apa kamu beneran bukan Nisa?"tanya Ardi menatap Arine yang sudah mendapatkan tempat duduk disana dan menonton permainan musik dari band yang ada di cafe itu.


#Flashback on


"Aku gak suka ya melihat kamu pergi ke club' begini, di. Kamu tahu kan itu tempat apa. Seharunya kamu sadar, di. Kamu masih anak sekolah yang tidak seharunya berada disana. Kalau tadi aku gak habis pulang dari tempat les bareng Bunga, paling aku gak tahu semua itu "ucap Anisa kesal, ketika mengetahui Ardi baru saja masuk kedalam sebuah club' padahal saat itu mereka masih SMA.


"Aku minta maaf Nisa, aku hanya menghadiri acara ulang tahun teman aku. Kamu jangan marah ya, ayo kita pulang"jawab Ardi yang merutuki kebodohannya itu. dan Bunga yang melihat mereka berdua hanya menahan kecemburuan yang ada.


#Flashback off


***


"Rine, aku ketoilet sebentar. Kebelet pipis bener nih"ucap Naili keburu-buru tanpa menunggu jawaban dari Arine.


"Dasar itu orang, langsung pergi saja. It's okay, finally I can see the night again"ucap Arine sambil menikmati musik yang sedang dimainkan.


Seseorang pun langsung duduk disamping Arine dan membuat Arine terkejut karena dia adalah Ardi.


"Who are you?"tanya Ardi menatap dalam Arine yang juga menatap Ardi.


"Arine, Erlina Arine Alfarez. Kenapa?. Ada yang salah dengan namaku. Apa perlu aku perjelas lagi ke anda kak Ardi"jawab Arine dengan senyum mengejeknya. Sedangkan Ardi mengingat-ingat sesuatu yang membuatnya merasa Dejavu.


#Flashback on


"Denger dengan jelas nama saya Ardi dan saya bukan manusia es, paham!" ucap laki-laki itu yang ternyata namanya adalah Ardi.


"Nama kamu Ardi?"ucap Anisa sedikit memikir.


"Iya, kenapa?. Apa perlu saya perjelas lagi dengan lengkap, nama saya Ardian Putra Pratnojoe dan kamu harus ingat itu"ucap Ardi dengan sikapnya yang selalu dingin itu.


"Oke-oke. Salam kenal, saya Anisa" ucap Anisa mengulurkan tangannya, tapi Ardi hanya melihatnya tanpa membalas uluran tangan Anisa. Anisa pun langsung menarik kembali tangannya dan merasa canggung.


#Flashback off


***


"You have an older sister, right. What's your sister's name? "tanya Ardi dengan mata masih menatap Arine dalam untuk mencari kebohongan disana.


Arine terdiam sesaat dan setelahnya dia tersenyum sinis menatap Ardi.


"Pasti kamu mengharapkan, aku menyebutkan nama kekasihmu itu kan, Bunga atau...Anisa"ucap Arine dengan tangan sudah meremas pakaiannya sendiri dan Ardi menyadari hal itu. Tanpa sadar Ardi menarik Arine keluar dari cafe itu.


Naila yang akan menuju ke tempat duduknya dia dan Arine mengetahui Ardi menyeret paksa Arine keluar dari cafe itu hingga para pengunjung melihat kearah dua orang itu.


"Tuh kan, pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Aku harus kejar Arine, kak Ardi kok maksa banget sih jadi orang"kesal Naila yang mengejar mereka keluar tapi Arine sudah dibawa pergi oleh Ardi dengan motornya.


"Kenapa si Arine mau saja nurut sih, kan bisa saja loncat dari motor tuh kakak maksa"kesal Naila ke temannya itu.


"Semoga saja itu bocah baik-baik saja. Besok aku bakal cecar dia banyak pertanyaan"ucap Naila yang kembali masuk ke cafe itu.


.


.


.


.


.


Next on...