Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
65. Kau tidak sendiri!



Aldrich membawa Melody pulang kerumahnya.


"Aldrich, baru pulang? ayo kalian makan dulu!" ajak Nyonya Anjani yang kini mereka semua tengah makan malam bersama. Tak terkecuali Alice yang sudah menatap Melody dengan tatapan tidak suka.


"iya, nanti aku akan membawa makananku ke kamar" ucapnya.


"kenapa dengan Melody? apa dia sudah menangis?" tanya Tuan Gilang. Yah, walaupun umurnya beranjak tua, tapi jiwa cabulnya masih menginginkan seorang gadis muda seperti dirinya dan selalu memberinya perhatian lebih.


Sikap seseorang bisa berubah, tapi tidak dengan karakternya.


"malam ini dia akan menginap, selamat malam semuanya!" senyumnya langsung saja membawa Melody masuk ke kamarnya.


Melody sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosongnya. Entah bagaimana menghentikan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"berhentilah menangis, lihat! matamu membengkak!" nasihat Aldrich yang sudah berkali kali menyusut air matanya.


"maaf" ucapnya serak.


"mau makan?"


Melody menggelang pelan.


"minum?"


lagi lagi dia menggelang.


"tunggu sebentar!" Aldrich segera keluar dari kamar dan setelah beberapa saat dia kembali membawa nampan berisi nasi beserta lauk pauknya dan segelas air bening.


"tidak mauu!" Melody merapatkan bibirnya dan menggelang gelang seperti anak kecil saat Aldrich menyodorkan sesuap nasi ke mulutnya.


"sedikit saja, nanti kau sakit bagaimana?"


Melody terdiam, perhatiannya selalu saja mengingatkannya pada Haikal.


"tapi aku tidak mau!" elaknya bersikeras menolak suapan Aldrich.


"ya sudah kalau begitu minum saja!" ucapnya sambil menyodorkan segelas air bening padanya.


Sekali lagi dia menggelang. membuat Aldrich berdecak kesal dan dia yang meneguk air itu dan menyisakannya di dalam mulutnya. Lalu mencium bibir Melody dan memaksanya untuk meminum air yang dia simpan dimulutnya.


GLEK!


"uhuk uhuk...."Melody terbatuk batuk mendapat serangan mendadak itu. Jijik sekali dia harus meminum air dimulut pria itu. Tapi entah kenapa dia malah menelannya.


"iwh dasar pria jorok, jijik tahu!" dengusnya lalu menjitaki kepala Aldrich.


"lagi?" seringainya nakal.


Melody bergidik dan langsung menjauhkan dirinya.


"ayo cepat makan! atau aku perlu mengunyahkannya untukmu?" ancamnya lagi lagi membuat Melody mendadak Gila.


Akhirnya Melody menghabiskan makanannya dengan Terpaksa.


"ini!" Aldrich menunjuk pipinya sebagai isyarat kalau dia harus menciumnya.


Cup!


"aku menyayangimu"


"aku juga..." Aldrich langsung tengkurap dan membenamkan wajahnya dipangkuan Melody dan tangannya melingkar di pinggulnya. Membuat gadis itu tak tahan untuk tidak memainkan rambutnya.


"Melody!" panggilnya.


"apa?"


"Kau tidak sendiri!"


Melody terdiam dan asyik memainkan rambutnya, dan membuat Pria itu menggigit perutnya karna Melody tak membalas ucapannya.


"aww!" ringisnya.


"kau dengar tidak?"


"iya aku dengar, terima kasih karna selalu ada untukku"


Hening!


Aldrich hanya mengendus perutnya seperti seekor anak kucing. dan itu membuatnya sangat geli.


"kapan kau akan menikah?"


Aldrich mendongakan wajahnya dan menatap mata Melody dalam. "aku masih belum bisa mencintai Alice"


"tidak apa apa, nanti setelah menikah pasti kau akan merasa nyaman dan akan saling mencintai" senyumnya.


"Lalu kau? Sahabatmu sudah pergi dan semuanya sudah berakhir bukan? tidakah kau ingin memutuskan untuk menikah denganku saja?"


Jadi dugaannya saat itu benar, Aldrich masih memiliki perasaan cinta padanya. Lalu sekarang bagaimana? Jawabannya tetap tidak, Aldrcih sudah ia anggap sebagai kakak. Dan hatinya, cintanya, hanya untuk Alga saja. Meski sekarang tak tahu apa yang terjadi. Tapi Glan masih bisa ia lihat dan mereka masih bisa bersama. Apa yang salah kalau hanya dirinyalah yang bisa melihat Glan?


"waktu itu kau bilang mau menjadi kakakku, lalu kenapa sekarang mau menikah denganku?"


Aldrich menarik nafas panjang dan duduk berhadapan dengannya lalu mulai menceritakan perasaanya selama ini.


"maaf Aldrich, tapi aku tetap mencintai sahabatku!" ucapnya begitu Aldrich selesai berbicara.


"tapi dia sudah meninggal Melody!"


"lalu kenapa aku masih bisa melihatnya? menyentuhnya? dan berbicara dengannya?"


"itu hanya halusinasimu karna kau terlalu berharap dia akan kembali!"


Melody menggelang kuat kuat dan mencoba menyanggah ucapan Aldrich.


"dia belum meninggal dan dia ada bersamaku.... Tak peduli jika tidak ada siapapun yang melihatnya, tapi itu adalah hal yang nyata!" tegasnya langsung saja beranjak dan meninggalkan Aldrich yang termenung sedih.