Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
33. Bikin repot saja!



Merebahkan diri sepanjang hari diatas kasur mungkin hal yang sangat nyaman bagi semua orang, tapi jika dilakukan setiap hari teramat sangat membosankan. Seperti Melody yang sudah beberapa kali merubah posisi tidurnya dan sesekali dia mengoceh merutuki hidupnya yang tidak berguna selama beberapa bulan terakhir ini, tentu saja dia tidak melanjutkan sekolah dan berakhir begitu saja. Menyedihkan sekali.


Sebelumnya dia memiliki semangat yang berapi api untuk menemui sahabatnya itu, namun mendadak semangatnya padam dan jadi berakhir seperti ini dirumah besar Tuan Gilang beserta kedua istri anehnya dan satu anaknya yang sama sama cabul seperti ayahnya. 😂


"haduh, bosan bosan bosan!" ocehnya sambil menyeret langkahnya menuju koper yang diletakan diujung ruangan.


"eh?!" kagetnya begitu melihat ponselnya yang tergeletak disana. Dia sama sekali tidak ingat kalau ponselnya sempat ia bawa dan dimasukan kedalam koper dibawah tumpukan baju lainnya. Dia langsung mengambil ponselnya dan menyalakannya.


"syukurlah! masih menyala!" senyumnya.


Namun senyum manisnya terhenti saat melihat puluhan pesan untuknya. Yah, pesan dari Ke 4 temannya. Termasuk Resya dan Angelica.


Melody mulai membaca satu persatu pesannya. Dan pesan terakhir yang Glan kirimkan adalah 5 menit yang lalu.


(Alga:) kalau mau bertemu denganku datanglah! sebelum terlambat"


"hari ini kan..." Dia menggantung kalimatnya mengingat ngingat hari apa ini.


"ya ampun, hari ini kan hari kelulusan!! Apa Alga akan kuliah ditempat yang sangat jauh?!" serunya langsung berdiri dan mondar mandir tidak jelas.


"apa? apa yang harus aku lakukan? apa aku perlu datang dan bersujud dikakinya untuk memohon? ah tidak tidak tidak, sudah jelas aku so bijak dengan berjanji tidak akan kembali padanya. Ya ampuuun....kenapa aku begitu egoiis?!! seakan akan aku orang paling suci didunia ini!" ocehnya tanpa henti dan terus bolak balik seperti setrikaan.


PRANK!


PRANK!


"kebakaran!!! kebakaraaan!!!" teriak Aldrich dari lantai bawah sambil memukul mukul alat penggorengan.


Semua orang diruangan masing masing segera keluar dan buru buru turun kelantai bawah, sebagian pelayan sudah membawa seember air untuk memadamkan api.


"dimana apinya?" tanya Nyonya Anjani dan Tuan Gilang hampir bersamaan.


"hahahaha!!!!" sementara Aldrich malah tertawa sampai memegangi perutnya. "kalian kompak sekali!" ucapnya tak henti hentinya tertawa.


fiuh, rupanya dia hanya mengerjai mereka semua, tidak ada kerjaan memang. Membuat Melody semakin panik saja.


"Aldriich!, mama lagi enak enaknya istirahat sayang! kau malah mengerjai kami!"


"dasar anak nakal!"


"papa potong uang jajan kamu nih!"


oceh para orang tua itu semakin membuat Aldrich tergelak.


tak mau meladeni anak itu, merekapun segera kembali ke pekerjaan masing masing dengan ocehan kesal mereka karna ulah Aldrich.


"hish, bikin repot saja!" batin Melody langsung saja beranjak.


"mau kemana?" tanya Aldrich sambil memegang tangannya.


"emm...apa jarak dari rumahmu ke rumahku itu sangat jauh?"


"hanya tiga jam setengah!"


"ahaha lama ya!" cengirnya.


Padahal hatinya sangat kecewa, dia tidak mungkin menemui Glan cepat cepat sementara tidak tahu hasil mengecewakan apa yang akan dialaminya.


"kenapa? kau mau kerumahmu?"


"yah, kurang lebih aku hanya merindukan rumahku!" jawabnya sebiasa mungkin. Selama disini dia tidak pernah pergi kemana mana dan hanya duduk diam menemani orang rumah disini.


"rumahmu atau pria bernama Glan itu?" tanyanya penuh selidik.


"keduanya" cengirnya.


"kau juga kebosanan yah? mau ke wahana bermain?" ajaknya seakan mengerti apa yang diinginkannya.


"tolong, antarkan aku pulang saja!" pintanya dengan wajah memelas.


"untuk apa? menemui orang orang yang membencimu?"


"mereka tidak membenciku, aku yang egois!"


"bagus kalau kau menyadarinya, pokoknya aku tidak akan mengantarkanmu pulang kesana!" tegasnya lalu beranjak pergi menaiki anak tangga.


"hey apa masalahmu?!" teriaknya merasa kesal karna Aldrich mengabaikannya begitu saja.


"lupakan pria itu dan bahagialah bersamaku!"


BRAG!


dia menutup pintu kamarnya dengan keras.


Apa apaan itu? menyebalkan sekali! memangnya siapa dia mau menguncinya dirumah ini bersama orang orang aneh itu? ini tidak bisa dibiarkan