Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
42. Jangan pergi



Mentari bersinar diufuk timur, Glan yang masih tertidur pulas itu tiba tiba menggeliat karna silau matahari yang menyorot kearahnya begitu Gray membuka kain gorden.


"tutup tirainya kak!" ucap suara serak khas bangun tidur itu.


"bangun adik, ini bukan hari untuk bermalas malasan!"


"mmmh...aku sudah menyelesaikan semuanya kak, tinggal menunggu waktu untuk pergi!" jelasnya dengan mata yang masih terpejam.


"yasudah aku pergi, jaga dirimu baik baik!"


Cup!


BUKH!


Bagaimana dengan Refleksnya Glan langsung menendang Kakaknya yang baru saja mencium keningnya dibalik rambut hitamnya itu.


"hahahaha!" gelaknya sambil berjalan keluar kamar.


Setelah kepergian Gray yang sudah lama, Glan segera membersihkan diri lalu memeriksa laptopnya memastikan tak ada apapun yang membuatnya dalam masalah. Dan prosesnya berjalan dengan lancar. Sekarang tinggal santai untuk mempersiapkan kesibukan yang akan datang nanti


Ting! Tong!


Glan hanya diam saat bel rumahnya berbunyi berkali kali. biasanya hanya kakaknya yang lupa membawa sesuatu lalu menjahilinya.


Namun kali ini berbeda, Bel itu tak henti hentinya berbunyi membuat dirinya merasa risih dan langsung saja membuka pintu dengan perasaan kesal.


Brugh!


Begitu pintu terbuka seluruhnya, ia tiba tiba mendapatkan dekapan Melody yang membuatnya kaget sampai dia mundur beberapa langkah.


"Jangan pergi!" ucapnya terdengar sangat memohon.


Sudah terlambat, lagipula ia sudah membulatkan tekadnya untuk kuliah di Amerika.


"aku tetap akan pergi!"


"kumohon, kau pergi karna marah padaku kan? karna benci padaku kan?"


Glan menggelang kuat kuat, meskipun itu alasan utamanya, tapi tidak akan benar jika dia berada disini dengan diselimuti hal hal yang tak ingin diingatnya. Dia hanya ingin menenangkan dirinya.


"Dengar..." dia melepas pelukannya dan menatap dalam manik Birunya.


"lupakan saja! anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Aku pergi karna ingin menggapai cita citaku! dan aku tidak membencimu" jelasnya berharap tidak menyakiti perasaan gadis itu.


"lagipula kau akan menikah kan?" tanyanya.


Degh!


"hanya?" Glan mengangkat dagunya dan menatap manik Melody meminta penjelasan. Namun gadis itu tak menjawab dan hanya menggerak gerakan bola matanya kesana kemari. Jantungnya mulai berdegup kencang saat pria itu semakin mendekatkan wajahnya.


"aku hanya tidak ingin kau pergi!" Ucapnya dengan keringat dingin yang sudah membasahi dahinya. Entah kenapa, susah sekali mengungkapkan rasa cinta pada orang yang benar benar dia cintai.


"hem...semoga bahagia!" senyumnya sambil menepuk nepuk puncak kepala Melody sambil tersenyum kecut.


"Aku tidak akan menikah Alga, percayalah!"


"aku percaya!"


"Lalu, kau masih tetap akan pergi? tidakah peduli pada kakakmu? dia begitu menyayangimu, dan bisa gila jika kau...." lagi lagi gadis itu menggantung kalimatnya


"pergi selamanya?"


"jangan katakan itu, aku-"


"ekhm!" dehem seseorang diambang pintu. Tampak Aldrich yang sudah menatapnya dengan tatapan tidak suka.


"berani ya kabur dari rumah!"


Ya ampun!


Bahkan dia belum sempat berbicara dan Aldrich sudah menaksanya pergi. Ketidakjelasan ini semakin membuatnya benar benar tidak mengerti.


"Kau selalu saja datang tidak tepat waktu, aku belum selesai bicara!!" ocehnya saat pria itu sudah memanggulnya seperti karung beras.


"setidaknya minta izin dulu padaku!"


Apa? bahkan dia sudah bertindak seperti seorang suami.


"sudah diam! aku tidak ingin terlambat pergi ke kampus!" perintahnya begitu melempar Melody kedalam mobilnya.


Pupus sudah harapannya. Tapi dia tidak akan berhenti untuk tetap menemui Glan sebelum dia benar benarpergi.


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


......................


...----------------...


...****************...