
Malam ini, Melody tengah menpersiapkan dirinya. Dia sedikit memoles wajahnya dengan make up dan berpakaian sangat rapi. Sudah lama juga dia tidak memperhatikan penampilannya akhir akhir ini.
"waw Melody, , kau mau kemana sudah cantik begitu?" tanya Alisya begitu dia datang menghampirinya.
Melody tersenyum tipis lalu melirik pada Alisya. "penantianku selama ini sudah berakhir, Alga sudah kembali untuk menepati janjinya!" ucapnya.
Melihat Melody yang senyumnya kembali, Alisya ikut senang. setidaknya kondisinya saat ini jauh lebih baik daripada kemarin. Apalagi kemarin malam saat dia mabuk berat dan pulang dalam keadaan sangat buruk. Membuatnya sangat khawatir.
"Aku pergi dulu ya" pamitnya langsung saja melenggang pergi.
Tepat pukul delapan, Ternyata Glan sudah menunggu didepan rumahnya.
"Selamat malam!" sapanya begitu Melody menghampirinya. Namun saat melihat pria itu ada sedikit keanehan disana, tapi dia tidak mengatakan apapun dan tidak berniat untuk menanyakannya juga.
"kita mau kemana malam ini?" tanya Melody saat mereka memulai langkah dengan beriringan dan saling bergandeng tangan.
"kemanapun kau mau"
"malam malam begini sepertinya indah kalau menikmati cahaya bulan" senyumnya lalu mengalihkan pandangannya kelangit. "yah, tapi bulannya tertutup awan!" lanjutnya begitu mendapati bulan yang tertutup awan hitam.
"tidak apa apa!" sahut pria itu masih terus menggenggam tangan Melody dengan erat.
Dan akhirnya mereka memutuskan untuk berdiri diatas jembatan gantung dan menikmati kerlap kerlip bintang dilangit dibalik kegelapan tempat yang mereka injak saat ini. Sehingga cahaya langit benar benar terasa lebih terang apalagi saat awan hitam mulai menyingkir dari cahaya bulan.
Cukup lama mereka saling diam. Tak tahu apa yang difikirkan mereka, sampai akhirnya Melody memecah keheningan.
"boleh aku betanya sesuatu?" tanyanya masih terdengar ragu.
Pria itu menoleh dan menunggu pertanyaannya.
"kenapa kau tidak membalas satu pun pesanku?"
"maaf, ponselku hilang!"
Hening!
dia hanya menganggukan kepalanya saja mendengar ucapannya itu. Walaupun tidak mengerti apa yang terjadi, dia berusaha untuk memahaminya.
"apa sekarang kau tinggal dengan kakakmu?" Melody kembali bertanya.
Sesaat pria itu menatap langit dengan pandangan kosong. Lalu kembali melirik dan menggelang pelan.
Lagi lagi pria itu menggelang. "aku tidak tahu!"
"bagaimana bisa?" tanyanya cukup tersentak.
"begitu aku kembali kakak sudah meninggalkan rumah"
Melody semakin dibuat bingung, mendadak otaknya beku dan jadi tidak tahu harus menanyakan apa dan mulai darimana dia mempertanyakan semua tanda tanya besar didalam hatinya.
"kenapa-" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya. Glan sudah meletakan jari telunjuknya dibibir Melody.
"jangan mengintrogasiku Melody, aku tidak suka, ini kencan kita dan seharusnya membahas hal yang romantis, apa kau tidak merindukanku? kemarin malam kau bertindak sangat liar"
Suasana menegangkanpun berakhir menjadi hal yang mesum. Ternyata benar, malam itu mereka benar benar melakukannya.
"kau sedikit aneh!" ucap Melody akhirnya.
"aneh?"
"hum, aku hanya merasa kau bukan Alga yang ku kenal. Sekarang kau jadi terlihat lebih dingin dan sedikit...mesum" cengirnya berharap pria itu tidak tersinggung.
"tentu saja karna aku pria normal, kau fikir dengan melihatmu mabuk yang terlihat seksi itu mampu menahan birahiku?"
Ah dia mulai menyebalkan, apa setiap pria memang seperti itu?
"tapi aku melakukannya dibawah pengaruh minuman keras, bisakah kita mengulanginya secara sadar?" seringainya terlihat menggoda .
Pria itu terkekeh dan mengelus rambutnya.
"ah ngomong ngomong, apa kau suka penampilanku yang sekarang?" Melody memutar tubuh idealnya seraya tersenyum manis menyaingi rembulan diatas sana.
"cantik, tapi aku suka rambutmu yang panjang"
Melody sedikit kecewa setelah mendengarnya, tapi secepat kilat dia kembali tersenyum. "kalau begitu aku akan memanjangkannya lagi nanti!"
Glan tersenyum dan langsung menarik Melody kedalam dekapan hangatnya. "aku merindukanmu...Melody" ucapnya lirih.
Tempat ini memang jauh dari kata mewah dan sempurna. Segala hal yang mereka lewati selalu sederhana dan mungkin tak berkesan indah untuk orang lain. Tapi, Melody dapat menpelajari satu hal. Jika bersama dengan orang yang dicintainya, maka tempat sesederhana apapun pasti akan berkesan sangat berharga.