
Beberapa hari kemudian...
Masa orientasi pun telah usia. Arine mulai menjalani kuliah pertamanya dan ketika dia sampai dihalaman fakultasnya. Disana tiba-tiba sangat ramai karena ada pasangan senior yang menjadi pusat perhatian bagi para maba disana. Karena tingkat penasaran dari Arine yang cukup tinggi, Arine pun menyempatkan diri untuk nimbrung dari perkumpulan yang ada.
"Ya Tuhan, mereka itu cocok banget tahu. Rumornya sih, mereka sudah tunangan dari SMA dan katanya mereka mau menikah setelah lulus kuliah nanti. Sudah ganteng sama cantik, gak diragukan lagi anak mereka nanti seperti apa"ucap seseorang yang ada disamping Arine.
Arine pun melihat pasangan senior yang disebutkan oleh orang-orang disana dan sungguh hal yang tidak dia sangka. Ternyata itu adalah laki-laki menyebalkan waktu itu dan perempuan yang disampingnya, bukankah dia kating yang menolongnya.
"Perempuan itu kak Bunga kan?"tanya Arine ke dirinya sendiri.
"Jangan bilang laki-laki selingkuh dengan perempuan lain. Gila saja kalau bener, sudah punya tunangan masih saja mikirin perempuan lain"kesal Arine dalam hati.
***
"Apaan sih, dasar kamu ya"kesal Arine yang sedang berbicara video call dengan Devan kekasihnya yang sekarang sudah kembali ke Amerika.
"Gak perlu dandan, kamu tetep jelek meskipun dandan gitu"goda Devan ke Arine yang saat ini berada didepan cermin toilet. Tanpa Arine sadari ada seseorang yang masuk kesana dan itu adalah Bunga yang mendengar percakapan Arine dan Devan.
"Kalau aku jelek, kenapa kamu sama aku. Sana kalau gitu cari perempuan yang lebih
cantik. Tapi belum tentu perempuan cantik itu mau sama laki-laki cerewet kayak kamu"kesal Arine yang langsung mendapatkan gelak tawa dari Devan dan semakin membuat Arine kesal.
"Sudah kalau gitu aku tutup sambungannya. Kamu seharian cuma buat aku kesel tahu gak. Pasti ada cewek lain kan disana"kesal Arine lagi yang langsung membuat Devan melotot gak percaya.
"Aih...curigaanya gak pernah hilang tahu gak. Fikiranmu itu loh selalu nething terus tentang aku. Aku kan tadi cuma bercanda sayang. Jangan marah dong. Aku gak mau kamu dandan saat kuliah. Aku takut ada laki-laki lain yang deketin kamu disana. Apalagi posisi aku gak ada disamping kamu saat ini"ucap Devan yang langsung bisa membuat pipi Arine merona merah itu.
"Bohong"kesal Arine yang sebenarnya sangat senang itu.
"Kok bohong, aku seriusan sayang"jawab Devan.
"Sudah ah...aku matiin ya. Aku mau balik ke kelas. Love you sayang"ucap Arine dengan senyuman manisnya itu.
"Love you too"jawab Devan.
Setelah melakukan video call itu, Arine pun ingin kembali ke kelas. Namun hal itu dia urungkan karena melihat ada Bunga disampingnya.
"Kak Bunga ya"sapa Arine yang dibalas senyuman canggung oleh Bunga.
"Iya, kamu mengingatku"ucap Bunga sambil menatap Arine dari atas sampai bawah.
"Iya dong kak. Kakak itu kan yang menolong saya dari hukumannya sih kak Arif itu"jawab Arine lagi.
"Oh iya kak, maaf sebelumnya. Aku duluan ya, ada kelas pagi soalnya"pamit Arine yang langsung pergi meninggalkan Bunga yang masih menatapnya.
"Kenapa dia sangat mirip dengan Anisa"ucap Bunga lirih setelah kepergian Arine dari toilet itu.
***
Saat Arine sedang menuju ke kelasnya. Tiba-tiba, dia di hadang oleh Arif kating yang waktu ospek selalu memberinya hukuman gak jelas itu.
"Lu jadi pacar gue yeah"ucap Arif to the point tanpa basa basi langsung spontan bicara seperti itu ke Arine.
Arine yang diajak pacaran secara mendadak itu pun tidak kalah terkejutnya.
"Kak Arif sehat kan. Ini masih pagi kak, otak kak Arif gak lagi konsletkan. Maaf kak, saya tolak. Saya sudah ada pacar"ucap Arine yang langsung meninggalkan Arif yang kaku bak patung setelah mendapatkan tolakan mutlak dari Arine. Maba yang sudah di incarnya sejak ospek lalu.
"Serius gue ditolak sama dia, tanpa adanya waktu buat memikirkannya kembali?"ucap Arif ketawa sendiri setelahnya, karena malu ditolak seperti itu.
***
"Apa-apaan sih itu kating, bikin orang bad mood saja"kesal Arine yang sudah berada didalam kelas.
"Kamu kenapa, oh ya kenalin nama aku Naila, namamu siapa?"tanya perempuan yang duduk disamping Arine.
"Aku gak apa-apa. Cuma tadi ada kating reseh. Oh iya, namaku Arine, salam kenal"ucap Arine tersenyum dengan teman sekelasnya itu.
"Oh iya hari ini, ternyata kita belum memulai mata kuliah. Para perwakilan dari senior kita akan mengenalkan program dari fakultas kita. Dan aku dengar, kak Ardi ada diantara mereka. Sumpah kak Ardi itu ganteng banget tahu gak, tapi sayangnya sudah ada tunangan"kesal Naila yang langsung membuat Arine mengerutkan dahinya.
"Ardi itu siapa?"tanya Arine yang memang tidak tahu nama laki-laki yang selalu bersamanya saat itu.
"Aduh Rine, masa kamu gak tahu kak Ardi sih. Dia itu pacarnya kak Bunga loh. Tadi kan mereka jadi pusat perhatian para maba"ucap Naila dengan hebohnya.
"Ar...di"ucap Arine yang tiba-tiba kepalanya langsung pusing dan itu membuat Naila menyadarkan Arine yang tiba-tiba pingsan ketika para senior itu masuk.
Ardi yang melihat gerumunan para maba dibangku itu pun langsung menghampiri itu menegur. Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat orang yang digerumunin itu adalah orang yang dia kenal.
Tanpa sadar Ardi membelah gerumanan itu.
"An...Arine bangun hey. Dia kenapa?"tanya Ardi ke teman-teman sekalian Arine.
"Gak tahu kak, tadi dia ngobrol sama aku, tiba-tiba kepalanya sakit terus pingsan"jawab Naila gugup. Tanpa sadar Ardi langsung menggendong Arine dan membawanya ke UKS.
#Flashback on
"Dia kekasihku"jawab Anisa ketika adiknya melihat foto Ardi di kamarnya.
"Ardi, namanya Ardi. Kelihatan saja di foto dia tampan, aslinya dia itu laki-laki menyebalkan Rine. Sifatnya itu loh dingin kaya es batu, julukan yang tepat untuknya"ucap Anisa sambil tersenyum jika menjelaskan tentang Ardi ke adiknya itu.
"Tapi kak Nisa, cintakan sama dia. Kapan-kapan kenalin aku sama dia kak. Pasti dia bingung bedain kita berdua"ucap Arine dengan senyum jahilnya itu.
"Ide bagus itu"jawab Anisa dengan senyum khas miliknya.
"Aku tuh capek bener dengan perjalanan aku hari ini kak. Biarkan aku isterahat ya"ucap Arine yang langsung tiduran dikamar kos_an milik Anisa itu.
"Iya, kalau begitu aku siapkan makanan ya, mau makan apa. Atau mau aku delivery saja"tanya Anisa ke Arine yang sedang berbaring itu.
"Memang kakak ada duit?. Kakak kan selalu menolak kiriman uang dari Daddy dan juga menolak uang dari mama"ejek Arine yang langsung disentil dahinya oleh Anisa yang kesal dengan adiknya yang ceplas ceplos yang mengingatkannya akan sahabat karibnya, Bunga.
"Kalau ngomong selalu benar saja ya kamu. Aku ada uang yeah, meskipun aku tidak memakai uang pemberian dari daddy dan mama"sombong Anisa yang malah mendapatkan cekikikan dari saudara kembarnya yang kelewatan jahil itu.
"Gak percaya nih"kesal Anisa karena Arine tidak berhenti menggodanya.
"Iya-iya aku percaya dengan my sister, princess nya Arine. Aku tuh kangen banget tahu gak sama kakak. Setelah Daddy dan mama berceria ketika kita masih kecil. Aku itu sangat sedih karena kita harus berpisah. Aku ikut dengan Daddy ke Amerika dan kak Nisa tetap di Malang bersama mama"ucap Arine dengan raut wajah yang bersedih. Arine yang mendengar hal itu pun sontak memeluk adiknya itu erat.
"Aku juga merindukanmu Rine, sangat merindukanmu. Terima kasih, kamu sudah datang kesini dan menemuiku. Mungkin dengan adanya kamu disini memberiku semangat baru"ucap Anisa yang menatap adiknya itu.
Arine yang melihat kakaknya meneteskan air mata itu pun langsung menghapusnya.
"Kakak ikut aku pulang ke Daddy ya. Aku tahu kenapa kakak memilih tinggal sendiri di Jakarta, karena kakak tidak ingin tinggal dengan keluarga baru mama kan. Jadi kakak ikut bersamaku ya. Kuliah disana"ucap Arine menatap serius Anisa.
Anisa pun terdiam dan memikirkan hal itu.
"Kakak fikirkanlah itu terlebih dahulu, baru setelah itu memutuskannya"ucap Arine yang langsung berdiri.
"Oh iya kak, pacar kakak itu mirip sama Sehun EXO"ucap Arine sambil memamerkan deretan giginya.
"Dasar nih anak, aku kira apaan"kesal Anisa yang dibuat tawa adiknya itu.
"Oh iya kak"ucap Arine yang belum selesai langsung dipotong oleh Anisa.
"Apalagi, jangan bilang si Ardi mirip artis Korea lainnya, terbang nanti dia kalau tahu di sanjung begitu"ucap Anisa.
"Bukan ih kak, belum juga selesai bicara. Sudah main potong saja tuh kabel listrik. Main ke mini market depan, tadi saat kesini aku lihat ada mini market dekat kos_an kakak. Mau cari minuman dingin, disini gak ada kulkas sih"ejek Arine lagi yang membuat Anisa menahan kesabaran akan tingkah adiknya yang membuatnya Dejavu akan seseorang yang hampir sama bicaranya seperti Arine.
"Ya sudah sana, tapi ingat kan jalan pulang menuju kesini"ucap Anisa merasa khawatir dengan adiknya itu.
"Astaga. Arine bukan orang tua ya. Ya sudah aku keluar sebentar, pasti orang-orang mengira kalau aku ini kak Nisa"ucap Arine keluar dengan senyum jahilnya.
#Flashback off
***
Arine terbangun dari tidurnya itu dan melihat sekeliling yang sangat asing baginya.
"Kenapa aku ada disini"ucap Arine menatap ruangan yang sangat asing baginya itu.
Tiba-tiba datang seseorang dari pintu yang tidak jauh dari bed tidur Arine. Seseorang itu membawakan air mineral dan beberapa makanan.
"Kamu sudah bangun"tanyanya. Arine menatap laki-laki tersebut dan menggenggam kedua tangannya erat.
"Kita belum pernah jemu sebelumnya kan?"ucap Arine lirih tapi masih bisa didengar oleh Ardi.
"Maksudmu"tanya Ardi meyakinkan apa yang barusan dia dengar.
"Bukan apa-apa. Namamu Ardi?"tanya Arine lagi dan membuat Ardi mengerutkan dahinya akan pertanyaan itu.
"Kenapa?. Ada yang salah dengan namaku"ucap Ardi yang langsung duduk dibangku samping bed Arine berbaring.
"Bukan apa-apa"ucap Arine meremas kedua tangannya dan Ardi melihat hal itu dan menatap Arine yang terlihat cemas.
"Ada apa denganmu?"tanya Ardi ketika melihat sikap Arine yang terlihat cemas itu.
"Bukan apa-apa. Aku harus pergi dari sini"ucap Arine yang langsung meninggalkan Ardi disana dengan beribu tanya.
*Apa aku diizinkan untuk mencintai dia yang bukan milikku
.
.
.
.
.
Next on