Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Kebaikan Bersama



Setalah sepuhan ingatan itu muncul beberapa hari lalu. Arine menatap dirinya dicermin.


"Apa itu benar, aku punya seorang kembaran. Tapi ingatan itu kenapa, tiba-tiba muncul dan berputar acak seperti kaset rusak. Dan kenapa Daddy tidak memberitahuku jika aku mempunyai kembaran"ucap Arine didepan cermin yang memantulkan wajahnya itu.


"Dan dimana dia sekarang. Wajahnya mirip denganku kah"ucap Arine tanpa dia sadar air mengalir dari kelopak matanya.


"Kenapa aku tidak mengingatnya secara jelas?"teriak Arine sambil menatap wajahnya di cermin.


"Perlahan...perlahan kamu pasti akan mengingatnya. Dan saat kamu mengingat hal itu, kamu jangan menyalahkan dirimu"ucap Anisa menatap sedih adiknya itu yang kesal akan sesuatu yang dia lupa.


Ingin sekali saat ini Anisa memeluk adiknya untuk menenangkannya. Namun tubuhnya tidak bisa meraih atapun merengkuh tubuh adiknya yang sekarang gemetaran dan menangis sesenggukan itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi disini, kenapa aku melupakan sesutu yang penting"kesal Arine ketika potonga-potang ingatan itu mulai muncul.


#Flashback on


Arine melihat kakaknya menangis dipojokan kamar setelah pulang sendiri. Padahal tadi dia pamit pergi bersama kekasihnya yang bernama Ardi.


Memang benar Arine belum dikenalkan ke Ardi karena Anisa ingin memberikan kejutan, tapi semua itu sirna begitu saja. Karena takdir berkata lainnya.


"Kak, pulang kencan kok malah nangis begini sih. Si Ardi itu nyakitin kakak ya"kesal Arine melihat kakaknya menangis sesenggukan dipojok kamar ini.


Anisa pun menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan adiknya yang suka spontan jika berbicara.


"Terus, siapa yang buat kakak menangis seperti ini. Arine bakal kasih pelajaran sama orang itu. Berani-beraninya dia membuat my sister menangis seperti gak dibeliin perman gini"kesal Arine masih dengan diselipi candaan.


"Kak, katakan siapa yang buat kakak menangis seperti ini"tanya Arine lagi.


"Hubunganku dengan Ardi sudah berakhir. Semua itu telah berakhir Rine"ucap Anisa menangis sesenggukan dan membuat Arine tidak bisa mencerna ucapan dari kakaknya itu.


"Jangan bilang dia memutuskan kakak. Benar itu!. Memang muka dia itu kelihatan banget kalau play boy!. Aku akan memberikan pelajaran padanya"ucap Arine sambil melangkah ingin pergi tapi langsung dihentikan oleh Anisa.


"Aku yang memutuskannya Rine. Aku yang mengakhiri hubungan ini. Aku dan dia memang tidak harusnya bersama. Dia seharusnya memang bukan milikku Rine. Aku yang jahat disini. Aku melukai perasaan sahabatku sendiri demi menyenangkan egoku. Aku yang jahat disini Rine. Hubungan ini memang seharusnya tidak ada sejak dulu"ucap Anisa menangis sambil memegang tangan adiknya.


Arine yang mendengar tangisan pecah kakaknya itu pun langsung memeluk erat dan menenangkannya.


"Ini bukan salah kakak. Mencintai seseorang itu adalah hak kita. Kakak juga itu tidak egois, karena perasaan itu muncul sendiri tanpa kita ketahui kak. Seharusnya kakak jangan mengambil tindakan seperti ini, jika itu melukai perasaan kakak. Kakak jangan berkorban untuk orang lain lagi kak. Aku gak suka melihat kak Nisa seperti ini"ucap Arine yang tidak terima kakaknya diperlakukan tidak adil oleh orang yang disebut sahabat oleh kakaknya itu.


Menurut Arine yang egois itu adalah sahabat kakaknya itu. Yang tidak menerima kenyataan jika, laki-laki itu lebih memilih kakaknya dari pada dia.


Sebuah ketokan pintu membuat Anisa dan Arine tersadar. Arine pun melepaskan pelukannya itu dan langsung menuju ke arah pintu kosan kakaknya.


"Biar Arine yang membuka kan pintu kak. Kakak isterahat saja yeah"ucap Arine yang langsung membawa kakaknya untuk tertidur di kasur. Setelahnya dia menuju kearah pintu dan membukanya. Tidak lupa dia menutup kembali pintu itu, karena dia tidak mau ada orang lain melihat kakaknya dalam kondisi hancur itu.


Arine menatap seseorang yang mengetuk pintu itu. Dia seorang perempuan yang menatap tajam kearah Arine dan tiba-tiba tangan perempuan itu melayang kearah pipi Arine. Tapi sebelum mengenainya Arine menghindar.


"Aku sudah bilangkan sama kamu, Nisa. Aku gak bisa hidup tanpa Ardi. Tapi sekarang, malah dia membenciku. Dia menganggap aku yang membuat kalian putus. Kenapa kamu harus hadir di kehidupanku dan Ardi Nisa, kenapa?. Kenapa Ardi lebih memilihmu dari pada aku. Padahal aku adalah tunangannya Nisa"ucap perempuan itu yang langsung menangis didepan Arine. Ternyata perempuan itu adalah Bunga, sahabat karib Anisa yang sangat mencintai Ardi.


Arine menatap kesal Bunga yang menangis didepannya. Dengan cepat dia paham akan situasi saat ini. Tanpa Arine sadari dia tersenyum sinis dan Bunga menyadari hal itu.


"Jadi kamu yang buat kak Nisa seperti ini"ucap Arine dalam hati.


"Haduh harus berperan jadi kak Nisa nih. Aku akan membuat kalian melihat jika kak Nisa bukan cewek lemah. Kak Nisa memang kelihat kaku kayak kanebo dan terlihat tegas dan dingin jika belum kenal. Tapi kenyataan yang ada kak Anisa itu orang paling rapuh yang aku kenal. Dia menyembunyikan kerapuhannya dengan membentenginya dengan sifat cueknya itu"ucap Arine dalam hati.


Bunga yang mendapat ucapan tajam dari Anisa pun tidak menyangka. Karena Anisa yang memang orangnya cuek tapi tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Walaupun Bunga selalu menyakiti perasaan Anisa ketika Ardi lebih memilih Anisa dari pada dirinya.


"Kamu mengusirku Nisa"ucap Bunga tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat saat ini.


"Iya aku mengusirmu. Sekarang pergi dari hadapanku"ucap Arine yang langsung menutup pintu itu kasar.


"Meskipun kita sering meributkan Ardi, kamu tidak pernah memperlakukan aku seperti itu, Nisa"ucap Bunga pelan ketika pintu itu tertutup.


Walaupun Bunga selalu menyindir Anisa tentang Ardi. Mereka masih tetap bersahabat walau sebenarnya ada perasaan iri, cemburu, dengki disana. Mereka masih mempertahankan hubungan baik itu. Namun semua itu akhirnya berakhir juga. Ketika Anisa menceritakan akan kuliah di Amerika dan mendapatkan beasiswa disana. Bunga mencuri kesempatan itu untuk membuat Anisa memutuskan Ardi. Hingga semua itu terjadi.


Apakah keputusan itu salah atau tidak. Semuanya sudah terlanjur terjadi bukan. Kita tidak tahu jika jalannya akan seperti ini. Karena jalan tidak selalu lurus pasti saja belokan yang ada.


#Flashback off


***


Suara bel aparteman dan ketokan pintu terdengar keras di tempat Arine berada. Arine masih menatap sedih dirinya sendiri. Hingga dia kesal akan suara gedoran keras dipintunya itu.


Arine pun berjalan menuju pintunya dan dengan cepat membukanya begitu saja. Orang itu langsung memeluk Arine erat. Dia sangat khawatir dengan keadaan Arine. Karena beberapa hari ini Arine tidak menjawab telphonenya hingga dia menyuruh seseorang untuk mengawasi Arine yang ternyata tidak keluar dari Apartemen hampir 3 hari lamanya.


Seseorang itu tanpa sadar membentak Arine.


"Kenapa kamu melakukan seperti ini Arine!!!"kesal seseorang itu yang tidak lain adalah Devan, kekasih dari Arine. Yang jauh-jauh terbang dari Washington, D.C. hanya untuk menemui Arine di Indonesia.


Arine pun langsung menangis keras dan Devan pun langsung membawa Arine dan dirinya masuk kedalam.


Devan pun membantu Arine untuk duduk dan mengambil air putih untuk diminum kekasihnya itu.


"Maafkan aku mengejutkanmu sayang. Kamu menghilang seperti ini membuatku dan Daddy khawatir. Kamu tahu Daddy hampir saja kesini padahal dalam posisi sedang di Rusia. Akhirnya aku memberitahunya jika aku yang akan menemuimu. Dan Daddy akhirnya mengalah. Kamu jangan membuat kami takut sayang, jika ada masalah ceritakan padaku"ucap Devan menatap sedih kekasihnya itu yang terlihat sangat berantakan saat ini. Dengan baju kusut, muka suram, rambut acak-acakan dan air mata yang tidak berhenti mengalir dikelopak mata indah itu.


"Aku melupakan kakakku Devan. Dimana kakakku...dimana dia sekarang"teriak Arine mengguncang tubuh kekasihnya itu yang tiba-tiba menegang seketika.


*Mungkin hari ini, hari esok atau nanti berjuta memori yang terpatri dalam hati ini, tak mungkin saling menyapa, meskiku masih harapkanmu


.


.


.


.


.


Next on...