
Beberapa bulan kemudian...
Setelah kejadian di rumah sakit itu Ardi selalu mencari keberadaan perempuan yang mirip dengan Anisa. Namun usaha yang dia lakukan belum menumbuhkan hasil sedikitpun. Tapi tidak ada yang tahu jika takdir akan mempertemukan mereka lagi.
***
Hari ini adalah hari pertama Arine masuk kuliah dan menjalankan pengenalan kampus dengan mengikuti ospek. Akhirnya Arine bisa melanjutkan kuliahnya, setelah setahun yang lalu dia harus mengambil cuti kuliah karena ada sebuah masalah. Seharusnya Arine berkuliah tahun lalu tapi sebuah halangan datang dan mengakibatkannya mengikuti ospek ditahun ini.
"Aduh gimana nih, kok bisa kesiangan gini sihaku "ucap Arine yang kesal denga dirinya di sendiri karena bangun kesiangan. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh kating yang ada di belakangnya.
"Heh kamu kesini, iya kamu yang telat" ucap kating tersebut,
"Kesini kamu!!"ucap kating yang menghukum teman-teman Arine yang lain.
"Iya kak"jawab Arine sangat lesu.
"Pasti aku bakalan dihukum nih"ucap Arine dalam hati.
"Kenapa kamu terlambat"tanya kating galak dan membuat Arine langsung menciut seketika.
"Saya bangun kesiangan kak"ucap Arina jujur, karena dia males buat alasan.
"Memang semalam kamu ngapain saja, sampai terlambat bangun. Harusnya pasang alaram dong"tanya keras kating itu dan membuat Arine menelan kasar ludahnya sendiri.
"Saya ada insomnia kak, jadi saya baru bisa tidur jam 4 pagi kak" ucap Arine jujur yang malah semakin dibentak sama katingnya itu.
"ngelesnya pinter ya kamu. Kamu saya hukum karena ketidak disiplinan kamu ini. Sekarang kamu harus mendapatkan 5 tanda tangan plus foto bersama orang yang saya tunjuk dikertas ini. Waktu kamu hanya 30 menit, jika kamu tidak mendapatkannya, hukuman akan saya tambah" ucap kating itu dengan senyum devilnya. Arine hanya bisa menghela napasnya berat dan menerima hukuman yng diberikan.
"Baiklah kak"ucap Arine lesu.
Arine pun sudah diberikan daftar nama jaring yang harus dimintai ya tanda tangan dan foto bareng. Namun Arine baru dapat 2 orang kating dari list itu, tinggal 3 lagi sedangkan waktu terus berjalan.
Tiba tiba datang seorang perempuan menghampiri Arine dan ternyata seorang itu ada namanya di list. Orang itu sangat baik karena mau dimintai tanda tangan dan foto. Apalagi dia membantu Arine untuk menemukan 2 orang lainnya dan akhirnya misi itu selesai dalam waktu 20 menit.
"Terima kasih ya kak atas bantuannya. Sebelumnya perkenalkan nama saya Arine kak"sapa Arine ke perempuan tersebut yang tersenyum setelahnya.
"A...Arine?"ucap perempuan itu yang terkejut.
"Iya kak, Arine nama saya. Saya sekali lagi berterima kasih sama kak Bunga atas bantuannya. Kalau tanpa bantuan kakak, mungkin saya akan dihukum lagi. Kalau begitu saya pamit dulu ya kak"ucap Arine yang langsung pergi meninggalkan Bunga yang tidak percaya dengan apa yang telah di lihat dan lakukannya itu.
"An..Anisa, ternyata kamu masih..." ucap Bunga yang tidak bisa menahan air matanya yang keluar.
"Lu kenapa Bung"tanya teman dari Bunga.
"Gak apa-apa kok, cuma tadi mataku terkena debu" ucap Bunga berbohong.
"Ya elah Bunga. Oh ya tumben lu baik sama maba sampai bantuin dia. Lu gak tahu kah siapa yang ngerjain dia. Arif, si kating kita yang reseh itu. Dia gak bakal bebas sebelum si Arif puas ngerjainnya"ucap teman Bunga itu fakta.
"Dia pasti bisa menghadapinya" ucap Bunga santai yang langsung berjalan pergi meninggalkan temannya yang menggelengkan kepalanya melihat sikap Bunga yang yakin seperti itu.
Setelah mesnyelsaikan misinya itu, Arine langsung menghampiri Arif dan memberikan lembaran ** plus foto yang sudah ia dapatkan.
"Tepat waktu kan kak dan saya bebas dari hukuman, bukan"ucap Arine tersenyum senang.
"Jangan senang dulu, kamu telat satu menit. Walaupun hukuman kamu selesai, tapi kamu tidak tepat waktu. Jadi saya akan menambah hukuman kamu"ucap Arif santai dan teman-teman kating lain yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya maklum dengan sifat Arif yang seperti itu.
"Apa sih kak!. Saya tadi sampai sini tepat waktu kok"Jawab Arine tidak terima dengan ucapan katingnya itu.
"Kamu memang lihat jam?. Saya yang sedari tadi melihat jam. Kamu itu telat, jangan membantah dan terima saja hukumannya" ucap Arif lantang dan membuat Arine kesal.
"Hukuman kamu saya tambah, nanti jam 5 sore saat selesai orientasi kamu harus mencari orang yang bernama Alexander Ardi Utama dan minta dia untuk datang ke rapat organisasi, karena dia jarang sekali mengikuti rapat, dan saya tunggu di ruang BAU jam 17.30. Jika kamu gak bisa bawa dia, maka nilai orientasimu?. Saya tidak tahu lagi bakal dapat berapa?"ancam Arif, yang memang orangnya ini super jaihil dengan maharu dan tidak mau dikalahkan.
***
"Siapa tadi namanya, kok lupa sih?!. Sudah jam segini lagi, pasti itu kakak yang namannya Alex dah pulang dech, ya apa terusan ini" ucap Arine yang berjalan ke gedung Library.
"Kak mau tanya, kakak tahu keberadaan kak Alexander...e.siapa ya kok lupa sih, yah pokoknya termasuk anggota BEM kak" tanya Arine.
"Oalah Alex kah, dia di perpus, biasanya dia dipojokan perpus dan tiduran disana"jawab kating tersebut.
"Ok kak, terima kasih ya kak" jawab Arine yang langsung masuk ke perpustakaan.
"Tiduran kok di perpus sih. Perpustakaan itu buat baca buku"gerutu Arine sambil berjalan masuk kedalam perpustakaan.
Arine mencari cari si Alex di setiap ujung tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia naik ke lantai dua dan kagetnya dia melihat seseorang yang tertidur dan menutup wajahnya dengan buku di ujung perpustakaan.
"Aku yakin, pasti itu si kak Alex sialan"ucap Arine dengan senyuman kesalnya.
"Permisi, saya perwakilan maharu yang diminta untuk menyampaikan pesan ke kakak untuk mengikuti rapat organisasi diruangan BAU di jam 17.30" ucap Arine tanpa ragu. Orang itu masih saja tidur dan tidak mendengarkan apa yang diucapkan Arine.
Arine yang melihat jam dan tidak mau hukumannya ditambah lagi, langsung membuka buku yang menutupi wajah itu. dan betapa terkejutnya Arine saat melihat wajah dari orang tertidur itu pun tidak menyangka. Jika orang itu adalah laki-laki yang ditolongnya beberapa bulan yang lalu.
"Kok ketemu dia lagi sih"kesal Arine yang dikejutkan ketika laki-laki yang tidak lain adalah Ardi bangun dari tidurnya dan tangan yang digerakkan mengenai kepala Arine yang ada di samping.
"Aduh"ucap Arine yang terdorong kebelakang. Hal itu membuat Ardi langsung menoleh kearahnya.
Ardi pun tidak kalah terkejut seperti Arine tadi. Karena perempuan yang dicari-carinya selama ini sekarang ada dihadapannya.
"Kamu, bagaimana kamu bisa berada disini" ucap Ardi yang masih terkejut akan keberadaan Arine.
"Saya diminta BEM untuk membawa kamu ke gedung BAU, katanya ada rapat" ucap Arine menetralisir kegugupannya saat ini.
"Buat apa BEM mencariku. Aku gak ikutan acara seperti itu" ucap Ardi yang malangkah pergi. Sebenarnya dia ingin memeluk Arine saat ini, namun Ardi menahannya. Perempuan yang dia cari-cari ada didepannya sekarang.
"Tapi tetap saja, kamu harus kesana. Kalau gak kesana saya akan dihukum sama si Arif jelek itu, please saya mohon bantu saya. Bukankah saya telah menolong anda waktu itu" ucap Arine mengungkit bantuan yang dia lakukan itu. Sungguh Arine merasa menyesal menguncapkan hal itu.
Ardi menatap kearah Arine dengan tatapan yang tidak bisa diartikan itu. Hingga membuat Arine merasa risih dibuatnya.
"Aku bakal bantu kamu. Tapi ada syaratnya" Ucap Ardi mencari kesempatan.
"Apaan sih, saya bantu kamu saja tanpa syarat"kesal Arine.
"Tapi kamu minta imbalan balik bukan. Jadi harus balance dong. Setuju gak"ucap Ardi sambil menyunggingkan senyumnya itu. Arine pun berfikir sejenak dan menyetujuinya.
"Apa syaratnya"tanya Arine.
"Aku antarkan kamu pulang"ucap Ardi yang langsung membuat Arine terkejut.
"Hanya itu saja. Astaga, saya kira apaan. Oke deh setuju. Ayo keburu mepet nih waktu"ucap Arine yang langsung menarik tangan Ardi dan mereka berlari menuju gedung BAU.
"Kenapa gak ada orang disini. Jangan bilang itu kating reseh ngerjain aku lagi"ucap Arine kesal.
"Rapat di batalkan, ya sudah pulang saja" ucap Ardi menarik tangan Arine yang masih kesal dengan Arif.
Sampailah mereka diparkiran...
"Apa-apaan itu kating reseh. Beberkan dia ngerjain aku. Awas saja itu orang, kesel tahu gak"ucap Arine geram dan perut Arine tidak bisa diajak kompromi karena tiba-tiba saja berbunyi dan membuat Ardi yang mendengarnya pun tersenyum dibuatnya.
"Kamu lapar, kita cari makan dulu kalau gitu"saran Ardi yang diselingi senyumnya.
"Gak usah deh dan terima kasih atas tawaran ya. Saya pamit pulang dulu ya"ucap Arine yang langsung dihentikan oleh Ardi.
"Lupa sama janji nih"ucap Ardi ang langsung membuat Arine merutuki dirinya sendiri.
"Oh iya hehe"ucap Arine canggung.
Dalam perjalanan pulang Ardi pun berhenti ditempat makan dipinggir jalan dan membuat Arine bingung.
"Kok berhenti disini sih" tanya Arine yang bingung karena motor yang dia tumpangi berhenti di lalapan mas Joko dipinggir jalan.
"Kita makan dululah. Aku lapar soalnya"ucap Ardi yang turun dari motornya dan disusul oleh Arine.
Mereka akhirnya makan disana. Ketika makan Ardi tanya beberapa hal kepada Arine.
"Sebelumnya aku mau kasih tahu ke kamu kalau aku bukan Alex. Alex sudah pulang dari tadi dan maaf aku gak bilang ke kamu"ucap Ardi dan Arine hanya menghela nafasnya dalam.
"Ya sudah lah. Mau aku bawa si Alex asli atau bukan, sama saja si kating sialan itu ngerjain. aku"kesal Arine.
"Aku kira kamu bakalan marahin aku. Tapi baguslah. Oh iya, kalau boleh tahu namamu beneran Arine?"tanya Ardi memastikan lagi.
"Ya iya lah, mau siapa lagi"ucap Arine sambil makan dengan lahapnya.
"Punya saudara kembar atau kakak perempuan gitu?"tanya Ardi lagi yang membuat Arine menghentikan acara makannya itu.
"Kok saya merasa kamu introgasi gini ya"ucap Arine menyipitkan matanya menata Ardi curiga.
"Ya sudah sih, kalau gak mau jawab. Matanya bisa dikondisikan, kok gitu amad"ucap Ardi yang kembali melanjutkan makannya.
"Oh iya, kamu selalu memanggil saya dengan sebutan Anisa. Siapa sih Anisa?. Pacar kamu ya?" tanya Arine dan Ardi pun menatap Arine lembut sambil mengaggukkan kepalanya.
"Apa yang terjadi padanya?"tanya Arine kembali dan membuat Ardi menghentikan acara makannya itu.
"Kamu tidak suka di introgasi sama orang yang baru kami kenal bukan. Hal itu juga berlaku sama padaku. Kita pulang, aku sudah selesai" jawab Ardi yang meninggalkan Arine disana. Arine melihat makanan Ardi yang masih utuh karena baru beberapa suap Ardi memakannya dan menatap Ardi yang berjalan kearah Abang penjual.
"Dia itu kenapa sih. Kok malah merajuk gitu"ucap Arine bingung.
"Tapi makanan kita kan belum habis lu, sayang kalau dibuang"ucap Arine yang langsung mengejar Ardi yang sudah diatas motor.
***
Dalam perjalanan pulang Ardi hanya diam saja tidak ada percakapan disana.
"Kamu marah sama saya tentang masalah tadi?" tanya Arine yang tidak dijawab oleh Ardi. Hingga mereka sampai di tempat tinggal Arine, Ardi langsung pergi tanpa sepatah katapun.
"Ada apa sih dengannya. Kenapa semua kating senior tempatku kuliah ngeselin semua sih" ucap Arine sendiri yang langsung berjalan ke pintu apertemennya dan membukannya. Namun tiba-tiba datang seseorang yang mengagetkannya.
"Tolong beri aku waktu untuk berbicara berdua dengan kamu"ucap suara itu yang Arine kenal. Karena orang itu baru saja marah gak jelas dengannya.
Ardi menarik Arine keluar dari Aperteman dan membawanya kesebuah tempat. Ardi menundukan kepala seperti sedang berfikir sesuatu, tapi tiba-iba handphone Arine berdering dan ternyata Devan menelphonnya.
"Hallo iya sayang, kenapa" tanya Arine.
"......."
" Iya Sebentar lagi aku sampai rumah kok, maaf ya sayang gak bisa nganterin kamu ke bandara, kamu tahu sendiri kan banyak banget kegiatan aku di kampus, iya... Pasti aku akan kesana kok,,, iya-iya...love you too" ucap Arine yang langsung menutup panggilan itu yang didengarkan oleh Ardi yang tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya.
"Kamu mau bicara apa?. Bukanya tadi kamu marah gak jelas sama saya"kesal Arine dengan sikap orang beberapa bulan lalu ditolongnya itu.
"Tolong jawab pertanyaanku. Apa kamu punya saudara kembar" tanya Ardi sekali lagi ke Arine.
"Huft...saya itu anak tunggl dan tidak punya saudara kembar. Sebenarnya ada apa sih, jangan bilang pacar kamu yang bernama Anisa itu wajahnya mirip denganku. Apa itu benar?"tanya Arine yang diabaikan oleh Ardi.
"Kamu gak bohong sama aku kan"tanya Ardi kembali dengan mengintimidasi membuat Arine tidak suka dengan sikap itu.
"Kamu apa-apaan sih. Kok maksa saya untuk punya saudara kembar. Saya itu anak tunggal dan gak punya saudara. Dan perlu kamu tahu, saya baru beberapa bulan ini tiba di Indonesia karena ingin kuliah ditempat kelahiran ku. Karena selama ini saya tinggal di luar negeri. Jadi untuk pacar kamu yang kamu bilang mirip sama saya, mungkin itu hany kebetulan" ucap Arine yang mulai kesal lalu pergi meninggalkan Ardi sendiri.
Bukannya pulang kerumah, Ardi malah pergi ke sebuah club yang biasa dia datangi. Bunga mencari-cari Ardi yang gak pulang kerumah. dan dia menemukan Ardi yang sedang mabuk di club tersebut dan menarik Ardi untuk pulang ke rumah.
"Stop di, stop!. Kenapa sih kamu gak berhenti bersikap seperti ini. kamu jangan seperti ini di, ini hanya akan memperburuk keadaanmu
tahu gak"ucap Bunga yang menangis melihat keadaan Ardi, pacarnya.
Ardi menatap bunga dengan tatapan sedih dan merasa bersalah. Dia langsung memegang tangan Bunga dan meminta maaf akan perbuatannya selama ini denganya.
"Maafkan aku Bunga, jika selama ini aku menyusahkanmu. Kamu benar Anisa sudah tidak ada di dunia ini. Tapi menapa perempuan itu mirip dengannya. Wajahnya, suaranya, senyumnya itu sama"ucap Ardi menangis didepan Bunga. Baru kali ini Bunga melihat Ardi menangis didepannya. Laki-laki ini menangis perempuan lain didepannya.
"Apakah hatimu sesakit itu di, ketika merindukannya"ucap Bunga dalam hati.
"Aku akan melupakannya. Aku akan melepaskan Nisa, bantu aku untuk melupakan itu semua Bunga"ucap Ardi yang langsung pingsan di pelukan Bunga. Bunga hanya bisa menangis dengan apa yang dia hadapi saat ini.
"Kamu memang harus melupakan dia di. Aku akan membantumu" ucap Bunga memeluk kekasihnya itu erat.
.
.
.
.
.
Updatean terpanjang selama aku nulis cerita sampai 2233 kata uy....
Semangat lah ya..
Langsung Next on...
Selamat membaca gaes..