
"Iya sayang, itu teman aku. Why don't you believe me?. Do you need to ask him for an explanation?."kesal Arine yang sekarang sedang berada diparkiran FEB.
"Dasar bi Asih, kehadirannya terlalu meropatkan. Baik sih baik, tapi apa-apa dilaporkan. Dia kira aku tahanan apa"kesal Arine dalam hati sambil turun dari sepeda yang dia gunakan dari Apertemannya ke kampus. Karena jarak kampus dan Apertemannya yang tidak terlalu jauh.
"Aku hanya khawatir. Apalagi kamu disana sendiri Rine. Jauh dariku maupun Daddy. Dan kamu jangan memarahi bi Asih, karena dia yang aku minta untuk melaporkan setiap kegiatan kamu sayang. Itu juga demi kebaikan kamu dan Daddy juga setuju"ucap Devan melalui sambungan telphon itu.
"Terserah, aku gak peduli. Kamu tahu kan Dev, aku jiwa yang bebas. Mungkin aku melupakan hal itu karena ingatan sialan yang hilang karena kecelakaan kurang ajar itu. Tapi aku ingat, aku bukan orang yang suka diatur-atur atau diganggu untuk urusan pergaulan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri"kesal Arine yang tidak peduli jika orang-orang yang ada disekitarnya memperhatikan.
"Sayang aku minta maaf. Aku gak bermaksud seperti itu denganmu. Aku dan Daddy hanya khawatir sayang. Apalagi dengan kejadian beberapa hari lalu dengan kamu mengunci diri seperti itu membuat kami khawatir, jadi mengertilah"ucap Devan mencoba menenangkan kekasihnya itu.
"Maka dari itu Dev, kalian harus mempercayaiku. Aku tutup, aku harus masuk kelas karena ada kuliah pagi"ucap Arine mematikan sambungan telphone itu tanpa menunggu Devan membalasnya terlebih dahulu.
Arine dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya menuju kelas karena dia takut harus bertemu dengan laki-laki yang membuatnya menceritakan tentang keadaan, kebenaran dirinya.
"Jangan sampai aku bertemu sama laki-laki menyeremkan itu lagi. Dan kenapa aku memiliki trauma sialan ini sih dan aku tidak mengingatnya jelas. Hanya ingatan samar-samar. Dasar sialan"gerutu Arine diperjalanannya.
Sialannya dia harus bertemu seseorang yang dia hindari itu. Laki-laki itu sedang bersama perempuan yang menyandang tunangannya saat ini.
"Gila saja, baru jam 9 pagi. Sudah main berduaan saja, itu dua manusia"ucap Arine pelan sambil melirik sekilas dan lanjut berjalan tidak mempedulikan jika mereka melihat kearahnya. Karena Arine merasakan tatapan menusuk dibalik punggungnya itu.
Hingga sampailah Arine dikelas paginya saat ini. Baru saja Arine duduk untuk menunggu dosen pengajarnya. Tapi sudah ada yang menatap Arine dengan senyuman tidak kalah menyebalkan dan itu dari Naila yang ditinggalkannya semalam.
"Lu punya hutang seribu jawaban dari pertanyaan yang bakalan gua tanya ke elu, Arine"ucap Naila dengan seringai liciknya dengan reflek Arine menjitak pelan kepala temannya itu. Sepertinya itu menjadi kebiasaan Arine saat ini. Sungguh menyenangkan melakukan hal seperti itu.
Naila pun memegangi bagian kepala yang dijitak seenaknya oleh Arine padahal gak sakit, karena Arine melakukannya dengan pelan, tapi karena mereka memang orangnya lebay ya sudah deh.
"Lu jahat bener sih Rine, main jitak nih kepala aku. Lu kan tahu otakku pas-pasan, beda sama lu. Main game di waktu jam kuliah tapi masih encer walaupun di kasih pertanyaan sama dosen secara mendadak"gerutu Naila.
"Maaf deh. Gak tahu kenapa, jitakin lu itu jadi kebiasaan menyenangkan bagiku saat ini"ucap Arine sambil merangkul sahabatnya itu.
"Njir...jahat bener punya teman gue. Untuk satu frekuensi"ketawa pelan Naila karena mahasiswa dikelasnya sudah pada masuk, walaupun dosen belum dateng.
"Semalam, lu ditarik paksa sama kak Ardi kan. Aku lihat loh Rine. Pas aku mau ngejar elu, eh sudah dengan mesranya elu naik motor berdua bareng doi berasa dilan sama milea gitu. Lu beneran gak ada main belakang sama itu kakak kan?. aawas saja lu beneran main belakang terus ketahuan sama tunangannya. Jadi ikan rempeyek lu Rine"ucap Naila yang untung saja suara toak itu gak muncul.
Arine hanya menghela napasnya panjang ketika akan menjawab pertanyaan dari Naila.
"Mau cerita dari awal takut menghabiskan waktu 7 hari 7 malam, mau cerita singkat takut gak ngikutin kelas pak Dodi, kan kasian orang tua njelasin tapi kita sibuk akan dunia sendiri"ucap Arine yang balik dibalas jitak oleh Naila.
"Pembalasan nih"ucap Arine yang hanya dibalas cengiran dari Naila.
"Siapa suruh, ditanya serius pasti jawabnya ngeles mulu"ucap Naila dan pasangan yang menjadi pembahasaan setiap hari itu pun masuk dan berjalan kearah mereka. Ternyata duduk tepat dibelakang barisan Arine dan Naila.
"Lu pasti mau tanyakan?. Kenapa mereka ada dikelas ini?. Aku bantu jawab, Karena kak Ardi mengulang kelas, nilainya jelek bener tahun lalu dikelas ini. Padahal dia orangnya pinter loh, walaupun tidak bisa disembunyikan kalau dia badboy"ucap Naila menceritakan tentang Ardi secara bangga.
"Terserah lah gue gak peduli"ucap Arine.
"Lu pasti cemburu ya, doi diikutin tunangannya terus. Karena si kak Bunga itu orangnya so..."ucap Naila yang langsung dipotong mendadak oleh Arine.
"Bisa bahas yang lain. Peduli amad sih sama orang lain kamu Nai. Kalau pagi-pagi sudah gosip gini aku keluar kelas mendingan"ucap Arine yang berniat berdiri namun ditahan oleh Naila.
"Astaga gitu saja lu marah Rine. Makanya jawab pertanyaanku, supaya aku gak gosipin orang-orang. Dan kalau kamu keluar kelas, kamu mau ngulang kelas kayak pasangan dibelakang"goda Naila lagi yang langsung mendapatkan tatapan sinis dari Arine yang akan berdiri namun pak Dodi, dosen mata kuliah itu telah masuk.
"Akhirnya pak tua datang juga. Gak bisa kaburkan"ejek Naila ke Arine. dan semua itu perdebatan antara pertemanan itu disaksikan oleh Ardi dan Bunga walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang diperdebatkan.
"Lu salah"ucap Arine sambil menyeringai dan membuat Naila terkejut.
"Pak Dodi"panggil Arine masih berdiri dideretan kursi kelas dan menjadi pusat perhatian oleh mahasiswa disana karena kelakuannya. Sedangkan pak Dodi langsung menoleh kearah orang yang memanggilnya itu.
"Ada apa?. Jika ada pertanyaan, nanti saja Arine. Sekarang kamu duduk, karena kuliah akan saya mulai"jawab tegas pak Dodi sambil menyambungkan laptopnya ke layar.
"Saya cuma mau bilang, mau pindah duduk kedepan pak. Saya mau serius memperhatikan bapak menjelaskan materi"ucap Arine tersenyum mengejek kearah Naila yang malas melihat tingkah Arine yang tidak kalah menyebalkan darinya.
Pak Dodi melihat kearah Arine dengan menilai.
"Saya gak salah dengar kan. Kamu tidak akan bermain game didepan saya ketika saya sedang menerangkan materi bukan"ucap Pak Dodi.
"Pak masa iya saya melakukan hal itu, saya khilaf pak waktu pertama kali bapak menjelaskan materi, kepala saya sakit jadi main game biar otak saya encer buat belajar. Jadi hari ini kepala saya lagi normal, jadi pingin pindah didepan pak"jawab Arine yang diketawain teman-teman satu kelasnya itu.
Sedangkan Naila langsung menggeplak jidatnya sendiri melihat kelakuan sahabat barunya itu.
"Ya sudah- ya sudah. Kalau mau pindah ke depan tinggal pindah saja. Kamu membuat saya membuang waktu untuk mendebatkan tempat kamu duduk, Arine. Sana pindah supaya saya bisa memulai kelas saya"ucap pak Dodi yang langsung mengabaikan Arine yang asik mengejek Naila.
"Aku keluar kan?. Keluar dari pertanyaan kamu, gue pindah didepan"ejek Arine sambil mengejek menjulurkan lidah kesahabatnya itu.
Naila yang melihat kelakuan Arine pun menggeram kesal tapi senang. Sedangkan Ardi tersenyum tipis melihat kelakuan dari Arine dan Bunga tiba-tiba terdiam ketika melihat kelakuan Arine tadi.
#Flashback on
"Anisa!?...tunggu, belum selesai ngomong dah cabut saja sih, kebiasaan"teriak Bunga menyusul Anisa yang ternyata dipanggil oleh guru untuk mengambil beberapa buku cetak di perpustakaan.
"Gini nih kalau jadi ketua kelas, bakalan disusahkan oleh para guru"kesal Bunga yang menghampiri Anisa.
"Ya sudah sih kamu balik saja ke kelas, aku yang ambil buku"ucap Anisa enteng sambil berjalan menuju perpustakaan.
"Gaya bener, memang tangan kamu itu mampu membawa berapa buku cetak, ibu Anisa ketua kelas paling terhormat"ucap Bunga yang langsung ditatap malas oleh Anisa.
“Lah, gantian ngambek. Makanya janganmain tinggal-tinggal saja"ucap Bunga yang langsung ditatap Anisa dengan sebelah alis yang naik sebelah.
"Gak nyambung tahu. Apa hubungannya main tinggal dengan membawa buku"ucap Anisa yang menahan tawa akan sikap sahabatnya itu
"Nah, gitu dong. Kalau senyum kan kelihatan cantik gak horor kayak tadi"goda Bunga yang membuat Anisa menggelengkan kepalanya sekali lagi. Untung gak pusing tuh kepala Anisa ya kan...
"Pelajaran Bu Eko lagi, males banget tahu gak sama pelajaran sejarah. Membosankan, hafalan mulu. Ibu Eko bisa gak sih sehari saja tidak masuk, males setiap mapel sejarah pasti tugasnya hafalan, kalau gak ngeresume terus ceritakan resumean yang kita buat didepan teman-teman lainnya. Ini mapel sejarah atau bahasa indonesia sih. Nyebelin banget…”keluh Bunga yang terus-terusan menyumpahi pelajaran sejarah itu. Anisa pun hanya tersenyum mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu.
“Dasar bocah, bisanya ngeluh terus. Mending balik saja sana kamu ke SD dari pada ngedumel terus. dan dari pada kamu ngedumel disini sama aku, mending kamu datangin bu Eko, terus bilang ke dia kalau mapel nya tuh ngebosenin, pasti seru tuh, jadi tontonan menarik dan aku bakalan ada didepan." ucap Anisa menahan tawa karena menggoda sahabatnya itu.
"Benar juga ya. Kalau begitu nanti pas pelajaran sejarahnya Bu Eko, aku bilang ke dia saja. Kalau Anisa kasih saran untuk protes mengenai mapelnya, wkwkwk" Balas Bunga yang malah membuat mereka berdua tertawa.
"Reseh lu ya"kesal Anisa sambil tertawa.
"Lu yang lebih reseh"ucap Bunga sambil mengejek Anisa sambil menjulurkan lidahnya dan langsung berlari menuju perpustakaan.
#Flashback Off
***
.
.
.
.
.
Next on...