
Satu bulan yang lalu...
Pemandangan rumah sakit memang tidaklah begitu indah. Suara detakan jantung terdengar di alat ekg yang terpasang di badan gadis muda itu. Bukan hanya alat itu saja tapi masih banyak alat kesehatan untuk membantunya tetap bernafas dan terpasang di tubuh kecil gadis yang terbaring lemah dan tidak berdaya. Hampir 1 tahun sudah gadis itu belum ada kemajuan, dikarenakan kecelakaan yang menimpanya setahun yang lalu.
Datanglah seorang laki-laki muda yang langsung menghampiri gadis itu dengan harapan jika gadis itu segera bangun dari tidurnya.
"Aku berharap kamu bangun dari tidur panjangmu. Aku tidak sabar untuk mendengar ceritamu dan penjelasanmu tentang ini semua"ucap laki-laki itu yang menatapnya dengan harapan penuh.
***
Beberapa minggu kemudian...
"Ardi please di, kamu jangan kayak gini. Aku gak bisa melihat kamu begini, di" ucap Bunga yang melihat keadaan Ardi yang minum-minuman dan menghabiskan waktunya untuk bermain bersama wanita panggilan di club tempatnya saat ini berada.
Ardi tidak mennanggapi apa yang Bunga ucapkan. Dia sibuk dengan aktivitasnya sendiri dan menyebabkan Bunga merasa kesal dan langsung menghampiri Ardi dan menamparnya.
"Kamu tidak malu dengan apa yang kamu lakukan. Apa dengan melakukan ini semua, Anisa bakalan hidup lagi?. Tidak di, itu tidak bakal terjadi. Anisa bakalan sedih di, jika melihat kamu seperti ini. Kamu harus sadar dan menerima kenyataan, jika Anisa sudah gak ada. Aku itu lelah di, menghadapi orang macam kamu, aku cape..." ucap Bunga mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini yang dia pendam.
"Kamu kira aku juga tidak lelah dengan ini semua!. Aku juga lelah, tapi memang inilah Ardi yang sebenarnya. Ardi sebelum mengenal Anisa dan kamu pergilah dari sini" ucap Ardi mengabaikan Bunga yang menahan tangisnya.
"Aku ini pacar kamu di dan aku gak suka kamu yang seperti ini. Aku gak akan pergi sebelum kamu pergi"ucap Bunga yang langsung menyingkirkan wanita yang duduk disamping Ardi.
Ardi merasa kesal dengan tindakan dari Bunga pun dengan kasar menarik Bunga hingga mata mereka saling bertemu dan dengan cepat Ardi mencium Bunga disana. Hal itu membuat Bunga sangatlah terkejut.
"Sekarang kamu pulang. Bukankah ini yang selama ini kamu mau"ucap Ardi dingin sambil tersenyum sinis kearah Bunga. Bunga pun dengan reflek langsung menampar Ardi dan langsung keluar dari sana dengan perasaan campur aduk.
Bunga yang berlari tanpa sadar menabrak seorang laki-laki dan dengan cepat Bunga meminta maaf dan segera keluar dari sana.
"Perempuan itu kenapa Dev?"tanya seorang perempuan kepada laki-laki yang baru saja ditabrak tanpa sengaja oleh Bunga.
"Gak tahu" ucap laki laki itu dengan menaik turunkan bahunya yang ternyata namannya adalah Devan.
"Soalnya muka dia sedih banget barusan. Oh iya, kenapa harus ketempat ini sih, teman kamu mengadakan party ultah. Tempat ini terlalu berinsik tahu gak"kesal perempuan itu yang ternyata bernama Arine.
Devan yang melihat ekspresi kekasihnya itu pun merasa gemas sendiri.
"Yeah sudah, kamu tunggu di mobil saja ya sayang. Aku sebentar saja kok, ngucapin salam ke teman aku setelah itu kita pulang. oke" ucap Devan mengusap rambut kekasihnya itu.
Arine pun menyetuji saran dari Devan. Karena dia tidak menyukai suasana di tempat itu yang menurutnya terlalu berinsik ditelinganya.
"Kalau begitu, aku keparkiran ya. Gak apa-apa kan aku gak ikut masuk kedalam"tanya Arine merasa tidak enak dengan kekasihnya itu.
"Iya gak apa-apa. Oh iya ini kunci mobilnya"ucap Devan memberikan kunci mobil itu ke Arine.
"Ya sudah aku duluan"ucap Arine yang diangguki oleh Devan.
Ketika Arine akan masuk kedalam mobil, seseorang tiba-tiba memegang tangannya dengan erat.
"Anisa. Ini benaran kamu!?"ucap seorang laki-laki yang memegang tangan Arine erat seperti tidak ingin melepaskan kali ini.
Arine yang merasa terkejut dengan prilaku laki-laki itu. Dia pun mencoba melepaskan tangan yang menggenggamnya itu dengan kasar. Hingga laki-laki itu tersungkur ditanah dan pingsan.
Arine pun terkejut akan hal itu dan berusaha membangunkan laki-laki yang memanggilnya Anisa itu.
"Hai, bangun...kok malah tiduran disini sih. Sadar dong, jangan pingsan disembarang tempat. Huft...menyebalkan banget sih. Kalau gak kuat minum, ngapain juga minum. Bikin susah orang asing lagi"gerutu Arine yang mencoba membangunkan laki-laki itu.
Namun ketika Arine menyentuh badan laki-laki itu, Arine mengerutkan dahinya. Karena badan laki-laki sangat panas dan bisa dikatakan demam, mungkin.
"Dia sakit?. Terus ngapain ketempat seperti ini, maksa banget sih nih orang. Pak tolong pak, dia pingsan"ucap Arine memanggil penjaga/sekuriti di club itu.
Mereka pun langsung menolong laki-laki itu. Ketika Arine masuk kedalam mobil, mereka malah memasukan laki-laki itu kedalam mobilnya dan membuat Arine terkejut.
"Loh!?. Kok bapak masukin kesini?"tanya Arine bingung.
"Bukannya mas_nya ini temannya mba?"tanya balik bapak itu.
"Haduh, bukan pak"ucap Arine yang malah membuat bapak-bapak itu bingung. Arine yang merasa tidak enak itu pun langsung mengalah.
"Ya sudah deh pak, gak apa-apa. Terima kasih kalau begitu pak"ucap Arine yang diangguki bapak itu.
Arine menatap bingung kearah laki-laki yang ada di bangku penumpang dibelakang itu.
"Nih orang buat orang kesusahan saja sih. Sudah badanya demam tinggi gitu. Untung aku punya jiwa kemanusiaan yang tinggi. Beruntung lu ketemu sama aku, kalau sama orang lain. Mungkin lu diabaikan"kesal Arine yang langsung menghidupkan mobil dan menjalankannya keluar dari parkiran.
"Halo sayang. Sayang maaf banget aku ninggalin kamu disana, soalnya tadi ada problem. Ada seseorang yang tiba-tiba pingsan didepan mobil kamu jadi aku membawanya ke rumah sakit"ucap Arine tanpa memberi Devan membalas sapaannya. Devan yang khawatir itu pun akhirnya merasa lega.
"Kamu ini ya, suk bertindak semuamu. Gimana coba kalau dia cuma pura-pura pingsan dan mau berbuat jahat. Kamu kebiasaan seperti itu dari dulu tahu gak sayang. Kamu dirumah sakit mana?"tanya Devan yang tidak kalah panjang bicaranya karena kekhawatirannya itu.
"Deket kok, tapi gak usah jemput deh. Aku mau pulang juga. Kamu masih disana sayang"tanya Arine lagi.
"Ini aku sedang berada didalam taxi, kamu dimana biar aku jemput?"ucap Devan lagi.
"Gak usah, kamu langsung pulang saja. Aku langsung pulang kok. Setelah orang tu mendapatkan ruangan. Kasian loh sayang"ucap Arine meyakinkan kekasihnya itu.
"Ya sudah deh, hati-hati. Kamu tuh ya, kalau diomongin selalu gak mau ngalah"ucap Devan.
"Iya sayang. Kamu juga hati-hati ya, bye sayang"ucap Arine tersenyum melihat wajah kekasihnya yang sebenarnya kesal.
Akhirnya panggilan Video call itu pun berakhir. Arine pun langsung menanyakan ke seorang perawat keberadaan laki-laki yang ditolongnya itu. Ternyata sudah dipindahkan diruangan. Arine pun langsung menuju keruangan itu dan menatap laki-laki itu yang telah tertidur damai.
"Dia tidur, oke deh. Urusanku sudah selesai. Beruntung lu bertemu sama gue"ucap Arine yang akan pergi dari sana. Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang.
"Jangan pergi Nisa, aku mohon padamu. Jangan pergi meninggalkanku lagi"ucap laki-laki itu meskipun matanya tertutup namun masih sempatnya tangan itu menggenggam erat tangan Arine yang tidak kalah terkejutnya.
"Jangan bilang dia sedang mimpi"kesal Arine saat ini. Arine pun mencoba melepaskan genggaman tangan itu yang malah semakin erat menggenggamnya.
"Aku mohon, jangan pergi"ucap laki-laki itu yang masih menggenggam tangan Arine dengan kencang.
"Ini orang menyebalkan banget sih"kesal Arine yang langsung menarik bangku untuknya duduk. Untung saja itu bangku ada didekat bed tempat laki-laki itu tidur.
Arine menatap lekat laki-laki itu dan tanpa sadar dia mengagumi wajah laki-laki itu.
"Tampan...ih...kenapa aku malah muji laki-laki pemabuk ini sih"kesal Arine yang yanganya masih digenggam erat oleh laki-laki itu.
***
Pagi menjelang...
Tanpa Arine sadari, jika dia telah tertidur semalam di rumah sakit dengan laki-laki yang masih menggenggam tangannya erat itu. Hingga laki-laki itu terbangun dan menatap Arine berada setia disampingnya dengan tidur sambil duduk disana.
Laki-laki itu menatap Arine dalam dan sebenarnya dia merasa terkejut dengan ini semua.
"Ini benaran kamu, Anisa"ucap laki-laki itu yang tidak lain adalah Ardi. Ardi pun langsung mengelus rambut Arine pelan berusaha tidak membangunkan Arine yang masih tertidur lelap itu.
Namun usahanya gagal, karena Arine terbangun dari tidurnya. Arine yang baru saja bangun tidur itu pun terkejut karena berada ditempat asing dan badannya terasa sakit semua.
"Aku lagi dimana nih"ucap Arine yang belum sadarakan keberadaan Ardi. Sedangkan Ardi masih menatap Arine dengan rasa tidak percaya.
"Anisa"panggil Ardi yang langsung membuat Arine terkejut dan sadar akan keberadaan Ardi didepannya.
"Astaga, aku baru ingat. Aku ketiduran disini. Kok bisa sih ah..."kesal Arine yang langsung berdiri dan ingin pergi namun tangannya langsung dipegang oleh Ardi.
"Kamu mau kemana Nisa. Jangan pergi aku mohon"ucap Ardi yang malah membuat Arine jengah karena selalu dipanggil dengan nama orang lain.
"Bisa kamu lepaskan tangan kamu dari tangan saya. Dan berhenti memanggil saya dengan sebutan Anisa, Nisa atau siapa pun itu. Nama saya Arine, paham"ucap Arine dengan tatapan kesal jika mengingat laki-laki itu memaksanya tidur dirumah sakit dengan tangan yang digenggam erat dan tidur dengan posisi duduk hingga membuat badanya terasa sakit semua.
"Anisa, ini aku Ardi kekasih kamu. Kenapa kamu melupanku Nisa"ucap Ardi yang semakin menggenggam erat tangan Arine. Arine pun mencoba melepaskannya dengan kasar hingga genggaman itu terlepas.
"Hey bangun!. Lu habis putus dari kekasih lu ya. Sampai-sampai berhalusinasi seperti ini, atau lu masih mabuk. Sadar woy sadar. Saya bukan Anisa, saya Arine. Harusnya lu itu berterima kasih sama saya karena telah menolong dan membawamu ke rumah sakit. Tapi bukannya berterima kasih malah ngelunjak gini. Sudahlah saya mau pergi dan saya harap gak bertemu sama orang macam kamu lagi"ucap Arine yang begitu geram dengan Ardi dan langsung meninggalkan Ardi dalam keadaan terkejut itu.
***
.
.
.
.
.
Next on...