Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Kembali Dari Awal 3



"Arine!?"panggil Naila teman sekelas Arine yang mengetahui Arine sudah kembali masuk kuliah dan duduk didalam kelas sambil menanti dosen datang.


Arine pun menoleh dan tersenyum kearah Naila.


"Ya ampun Rine, akhirnya kamu masuk juga. Aku khawatir banget ketika kamu tiba-tiba pingsan dikelas waktu itu. Sudah 5 hari ini loh dan akhirnya kamu masuk juga. Kamu kenapa sih?. Sudah aku gak tahu rumah kamu, jadi gak bisa jenguk"ucap Naila merasa khawatir padahal mereka baru kenal sehari dan dua hari sekarang untuk pertemuan mereka.


"Baru kenal saja kamu sudah sekhawatir ini sama aku. Gimana kalau sudah kenal lama ya"ucap Arine diselingi candanya yang malah membuat Naila gemas sendiri.


"Astaga Rine. Gimana gak khawatir, kamu pingsan disampingku, terus orang-orang pada natap curiga kearahku lagi. Kan dikiranya aku menyakiti kamu sampai buat kamu pingsan"ucap kesal Naila yang diketahui Arine sebagai candaan.


"Seru juga kamu ya Nai, kapan-kapan kita Nongki bareng yuk"ajak Arine yang ditanggapi semangat oleh Naila.


"Gitu dong, malam ini saja yuk"ajak Naila langsung.


"Ntar aku lihat situasi. Harus ijin dulu sama bi Asih, takut dia khawatir, terus melapor ke Devan kan lama urusannya"ucap Arine.


"Oke deh"jawab Naila.


Setelah mata kuliah selesai dan dosen keluar dari kelas. Naila tiba-tiba mengingat sesuatu dan menanyakan ke Arine yang membereskan mejanya itu.


"Oh iya Rine, selama 4 hari kamu kemana sih. Setelah dibawa oleh kak Ardi ke UKS, lu tiba-tiba ngilang gitu"tanya Naila yang sudah kepo akan semua hal itu. Arine terdiam sesaat dan mengingat tentang kakaknya itu. Tapi dia harus bersabar, jika ingin menemui kakaknya yang belum sadar dan bangun dari koma nya.


"Sakit biasa"jawab Arine sambil berusaha tersenyum.


"Serius sakit biasa. Yang aku heran setelah aku nyebut nama sih kak Ardi, kamu tiba-tiba pusing, berasa jika kak Ardi itu adalah sebuah virus penyebab turunnya imun"canda Naila.


"Mapas...kena serangan mahasiswi lain lu kalau mereka denger. Kak Ardi kan idola mereka"ucap Arine yang langsung diketawain mereka sendiri.


Namun keceriaan itu menghilang, ketika seseorang datang dan membuat Arine malas. Sedangkan Naila terkejut melihat senior yang super super menyebalkan tapi lumayan ganteng itu menghampiri mereka.


"Aku denger kamu sakit dan baru saja masuk. Tapi sekarang kamu gak apa-apa kan Rine"tanya Arif, kating yang pernah mengajak Arine berpacaran namun langsung ditolak.


"Kakak lihat sendiri kan, saya sehat kak"jawab Arine yang langsung memberikan kode ke Naila untuk cepat pergi dari sana.


Naila yang mengerti pun langsung berdiri bersamaan dengan Arine.


"Kalau begitu, ayo kita makan siang. Aku gak mau kamu sakit lagi. Kalau sakit kamu hubungin aku dong"ucap Arif sok perhatian begitu padahal sudah ditolak oleh Arine.


Naila yang mendengar hal itu menatap kearah Arine dengan seribu tanda tanya sedangkan Arine hanya menaikan turunkan bahunya dengan saling berkomunikasi melalui isyarat mata.


"Maaf kak, saya ada urusan sama Naila. Kakak makan dulu saja. Sebelum kakak mengkhawatirkan keadaan saya, kakak khawatirkan otak kakak. Kakak sehatkan?"ucap Arine yang langsung menarik Naila untuk cepat-cepat pergi dari sana setelah mengatakan hal itu ke Arif yang terpaku disana.


"Dia menolakku lagi. Dua kali aku di tolak olahnya. Arine memang berbeda dari perempuan lainnya"ucap Arif sambil tersenyum.


***


"Kak Arif, kating paling galak, menyebalkan dan suka memberi hukuman itu. Kok bisa perhatian sama kamu Rine. Deabak... kamu pakai pelet apaan, pertama kak Ardi yang langsung siap gerak nolong dan gendong kamu ketika kamu pingsan waktu itu, terus yang kedua si kak Arif, kating galak tapi tampan. Wah Arine, kejutan apalagi yang akan kamu berikan padaku"ucap Naila ketika mereka sudah sampai di kantin.


"Kamu pingin tahu gak, aku pakai pelet apa sampai mereka begitu"ucap Arine yang mau mengerjai teman barunya itu.


"Apaan, bagi-bagi dong"ucap Naila dengan semangat 45 nya.


"Sumpah mulut lu Rine, kayak toak tahu gak. Jadi pusat perhatian orang-orangkan kita"ucap Naila sambil menutupi wajahnya karena malu.


"Gak apa-apa sih Nai, biar kita merasakan bagaimana rasanya jadi orang populer, diperhatiin gitu, iri saja mereka"jawab Arine santai dan membuat Naila hanya geleng-geleng kepala bisa mendapatkan teman sesomplak Arine, walupun dia juga sama somplaknya.


"Gue gak salah pilih teman memang"ucap Naila sambil memukul kecil pundak Arine yang terkejut.


"Apaan sih lu Nai"ucap Arine.


***


Setelah dari kantin mereka pun berjalan kembali menuju kelas sambil berbincang-bincang. Naila banyak sekali pertanyaan untuk Arine. Arine pun tidak mau kalah, dia juga punya banyak pertanyaan untuk Naila.


"Serius kamu Rine. Kamu gak lagi menyombongkan dirikan. Masa iya kamu jarang membaca buku pelajaran dan lebih sering baca komic. Tapi nilaimu bisa sempurna. Lu nyontek kali"ucap Naila mengejek teman barunya itu.


"Astaga, apa gunanya aku berbohong. Kan ku yang tanya tadi Nai. Otakku memang diatas rata-rata, aku tidak bisa memungkiri hal itu"jawab Arine dengan sombongnya. Naila malah ketawa dengan tingkat kesombongan teman baru yang berasa teman lama itu.


"Sombong amad nih bocah. Pertahankan!!"ucap Naila yang malah membuat mereka berdua tertawa dan heboh sendiri, hingga membuat orang-orang yang mereka lewati menatap kearah dua orang yang heboh sendiri sambil berjalan itu.


"Kayaknya ya, tingkat kesombongan yang aku miliki ini, turunan dari Daddyku deh, yang aku heran cuma nurun di aku, tapi kakakku gak"ucap Arine yang langsung teringat akan Anisa dan itu membuatnya terdiam.


"Kamu punya kakak Rine?"tanya Naila yang melihat perubahan sikap Arine.


"Lupakanlah"ucap Arine berusaha tersenyum. Naila mengetahui kalau Arine menyembunyikan kesidahannya itu. Tapi dia tidak ingin menanyakan hal itu sebelum Arine menjawabnya sendiri.


"Ya sudah deh, kalau begitu, go class bro"ucap Naila memberikan semangat sambil menarik Arine ke kelas.


Tanp Arine sadari ada seseorang yang mendengar pembicaraan Arine dan Naila barusan.


"Kakak?. Saat itu kamu mengatakan tidak memiliki saudara. Kamu membohongiku"ucap seseorang itu yang ternyata adalah Ardi. Ardi menatap kepergian Arine yang ditarik oleh Naila.


Bunga yang juga berada disana menatap kearah Ardi dan Arine bergantian.


"Dia bukan Anisa, Di. Aku harap kamu sadar. Karena Anisa bukan tipe orang seperti itu"ucap Bunga yang menatap Ardi dari kejauhan.


*Kenapa mencintai satu sisi itu menyakitkan. Jika menunggu apakah akan ada balasan


.


.


.


.


.


Next on...