
setelah beberapa menit lamanya, Aldrich keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang membungkus pusar sampai lutut. Dengan rambut basah dan urat urat ototnya yang bergelimangan. Membuat Melody terperangah saat melihatnya.
"mau peluk?" cengirnya sambil merentangkan kedua tangan.
Tanpa menunggu waktu, Melody segera berlari dan mendekapnya. Entah kenapa, memeluknya sekarang sudah menjadi hobi baginya.
"kau hangat sekali" senyumnya sambil menciumi puncak rambutnya.
Setelah beberapa saat, Aldrich bermaksud melepas pelukannya. Tapi gadis itu masih menempel erat.
"hey aku mau pakai baju dulu!"
Eh?
"ah ya benar, kalau begitu aku mau keluar!" cengirnya segera membalikan badan dan beranjak pergi.
"tunggu dulu!" cegahnya sambil menarik kerah baju Melody seperti anak kucing.
"duduk diam disana dan lanjutkan pembicaraan kita tadi!" titahnya lalu membopong Melody dan mendudukannya diatas ranjang.
Dan dengan sama sama tidak tahu malunya, Aldrich berpakaian dihadapan Melody tanpa ada sedikitpun rasa canggung. Berbeda dengan gadis itu yang diam diam menarik sudut matanya, entah apa yang dia lihat. Hanya berharap pria itu cepat cepat selesai.
"tidak usah curi curi pandang, kalua mau lihat, lihat saja!" seringainya kali ini dia tengah menyisir rambut didepan cermin lemarinya.
Astaga!
Mesum sekali dia!
"Jadi, kau masih tidak mau mengatakan tentang sahabatmu itu? atau perlu aku yang menjabarkan hal apa saja yang terjadi hari ini?" tanyanya dengan secepat kilat mengubah ekspresinya menjadi dingin dan tajam. Membuat nyali gadis itu menciut hanya dengan tatapan dinginnya.
"yah aku menemuinya pagi tadi!" jawabnya jujur. Ketegangan dalam hatinya mulai merambat ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan dirinya menjadi gugup.
Seakan mengerti perasaanya, Aldrich tersenyum manis berusaha untuk tidak terbawa suasana. "bagaimana kalau bercerita sambil berbaring?!" sahutnya sambil naik keatas ranjang dan merebahkan dirinya.
Ada apa dengannya? dia tampak begitu tenang dan romantis. Namun tak membuat gadis itu menolak dan mulai merangkak untuk ikut berbaring disampingnya dan menjadikan tangan Aldrich bantalnya. Lalu pria itu menarik pinggang Melody agar lebih merapat padanya.
"apa saja yang kalian bicarakan?"
Melody menggelang pelan. "dia hanya akan pergi selama 5 tahun....kalau tidak salah!" jawabnya setelah lama mebjeda kalimatnya.
"bukan itu maksudku, janji apalagi yang kau buat dengannya?"
"janji?!" tanyanya dengan mata yang melotot.
Aldrich menghembuskan nafasnya kasar, lalu mengambil ponselnya diatas nakas, dan memperlihatkan sebuah rekaman dimana dirinya sedang berbicara serius dengan Glan, dan tentu saja dia juga melihat adegan ciuman singkat itu sebelum dia pergi berlari dan masuk ke dalam mobilnya.
"apakah kau suka sekali mencampuri urusan orang lain?" tanyanya kesal. Karna dia selalu saja tahu semua tentangnya. Bahkan dari hal yang disukai dan tidak disukainya.
"bukan aku, tapi orang suruhanku!"
"Sama saja, kalau tidak kau yang menyuruhnya, mana mungkin orang itu mau mencampuri urusan orang lain" batinnya kesal.
"apa kau juga tau aku menemui bibi penjaga kios sayur dan anaknya?"
"tentu saja!"
Bagus! kalau begitu, dia tidak perlu repot repot menjelaskan harinya menjadi sebuah cerita.
"jadi intinya, kau akan pergi meninggalkanku dan mengingkari janjimu begitu?" tanyanya dengan nada yang tidak enak didengar.
"hem, kurang lebih seperti itu!" ucapnya langsung saja mengubah posisinya menjadi duduk. Dia masih mencoba menyusun kalimatnya agar membuat pria itu benar benar mengerti. Sementara Aldrich hanya diam dan terus memperhatikannya menunggu penjelasan gadis itu.
"Kau tidak bisa terus memaksaku, Aku tidak mencintaimu...kau sudah seperti kakakku sendiri, dan aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi kakakku. Jadi, bisakah kau melepaskanku dari janjiku? biarkan aku pergi kemanapun yang aku inginkan. Kumohon! aku tidak ingin menyusahkan lagi dirimu dan keluargamu" jelasnya.
"apa kau sadar dengan ucapanmu barusan?" Tanya Aldrich dengan serius.
"yah"
"mungkin saat ini kau belum mencintaiku, tapi aku dapat melihat kau sudah merasa nyaman saat bersamaku. Itu artinya kau mulai mencintaiku Melody...Apa yang tidak kau puas? aku memberikan seluruh cintaku padamu, tapi kau masih meragukan semua itu"
Ingin rasanya menjambak rambut putihnya sekeras mungkin supaya pria itu mau mengerti.
"tolong mengertilah! aku juga mencintai Alga dan aku ingin kita bersatu lagi..." dengusnya benar benar frustasi.
"aku tidak peduli, satu hal yang perlu kau tahu, jika seseorang sudah dibutakan oleh cinta, maka dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkannya"
"tak peduli jika orang yang dicintainya juga menderita!" Tambahnya dengan wajah yang merah padam. Lalu beranjak pergi dengan perasaan kesal karna sikap keras kepala Aldrich.
BRAGH!
Dia menutup pintu dengan keras dan kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
CEKREK!
"paman?!" panggilnya begitu melihat Tuan Gilang yang sudah tersenyum begitu melihat kedatangannya.
"aku merindukanmu sayang, sudah lama tidak bersanggama karna aku sibuk akhir akhir ini"
MATI SAJA KAU!
Dia benar benar tidak punya hasrat lagi untuk melayani om om sepertinya dan memilih untuk pergi dan kembali ke kamar Aldrich.
Kandang singa lebih baik daripada kandang Buaya. Begitulah fikirnya.
"berubah fikiran?" tanya pria itu kini sedang memainkan game di ponselnya.
"tidak, aku hanya ingin ikut tidur!" ketusnya lalu berbaring disamping Aldrich.
"selamat malam nonaku!" senyumnya sambil menepuk nepuk puncak rambutnya dan menyelemuti gadis itu. Lalu ikut berbaring, memeluknya erat dibalik selimut tebal yang membungkus tubuh Melody.
"Kenapa kau sangat baik padaku?" tanyanya dengan mata yang hampir tertutup sepenuhnya.
"karna aku mencintaimu!"
Cup!
sebuah ciuman singkat mendarat di bibirnya, entah seberapa banyak Aldrich mengelus rambut dan menciuminya, dia sudah tertidur lelap dan masuk dalam mimpinya.
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...----------------...