
Pagi hari yang cerah, mentari mulai menyinari bumi dan memberikan kehangatannya. Melody menggeliatkan tubuhnya dan tiba tiba saja meringis saat area intimnya terasa ngilu dan badannya pegal pegal.
Perlahan dia mulai duduk dan menyesuaikan pandangannya dengan cahaya sekitar. Lalu melirik pada jendela yang selalu ia biarkan terbuka semalaman agar udara dapat masuk. Yah, dia sudah berada dikamarnya sekarang.
"eh!" ucapnya mendadak ingat sesuatu. Seperti ada hal penting yang ia lupakan semalam. Tapi dia tidak ingat pasti hal apa itu. Yang dia ingat saat dia mabuk lalu pergi ke bukit dan....
"Alga!!" teriaknya langsung meloncat dari tempat tidur dan berjalan tergopoh gopoh menuruni anak tangga.
"ada apa nak?" tanya Ibu Alisya yang tengah menyiapkan sarapan. Ada Alisya juga disana yang tampak khawatir melihatnya.
"siapa yang membawaku pulang semalam Bibi?"
"kamu pulang sendiri dalam keadaan mabuk nak!" jawabnya berhasil membuat Melody tercengang.
Sendiri?
Dia mencoba mengingatnya lagi, namun otaknya benar benar kosong. Yang dia bisa ingat hanyalah bertemu dengan Glan dan melakukan "itu" sampai dia tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.
"ooh begitu ya!" senyumnya agak dipaksakan.
"cuci muka dulu lalu sarapan nak!" sahut ibunya Alisya sambil tersenyum lembut.
Melody hanya mengangguk pelan dan beranjak, fikirannya benar benar kosong. dia sama sekali tidak mengingat semua hal yang menimpanya semalam.
...****************...
usai mengerjakan pekerjaannya. Melody pergi melihat bunga Carnation yang beberapa tahun ia urus dan senantiasa menyiramnya. Namun entah apa yang terjadi, bunga itu sekarang sudah layu dan mati. Yah, mungkin karna terlalu sibuk mengurus ladang, dia lupa pada bunganya selama beberapa bulan ini.
hatinya mulai gelisah, fikirannya berpusat pada Glan yang ia tidak yakin kalau semalam benarkah dia bertemu dengannya? atau sekedar halusinasi karna dia sedang mabuk? itu benar benar membuatnya frustasi.
"Melody!" panggil suara itu lagi yang selalu membuat jantungnya berdebar.
Melody tak segera menoleh, dia sangat yakin orang dibelakangnya itu adalah Glan. Namun dia takut jika itu hanya salah dengar saja.
"Melody!" ulangnya kali ini menyentuh pundak Melody.
Dingin!
Rasanya dingin telapak tangan itu menembus kulitnya.
"kau tidak mau melihatku?" tanyanya karna gadis itu tak kunjung membalikan badan.
"takut akan apa?"
"takut kau tidak akan pernah kembali!"
"Melody!" sekali lagi Glan memanggilnya dan berhasil membuat gadis itu berbalik lalu menatap bola matanya yang indah.
"aku kembali untuk menepati janjiku!"
Bruk!
tanpa menunggu waktu lagi, Melody langsung saja memeluknya erat. Menangis bahagia dan penuh rasa syukur. Penantian ini benar benar berakhir, rasa rindu ini harus terbayar pasti dan menjajikan kebersamaan juga awal hidup baru yang pernah ia janjikan.
"maaf, tapi aku tidak bisa lama!" ucapnya kembali membuat Melody ragu. Dia langsung melepas peluknya dan mencari jawaban dimata Glan.
"kenapa?"
Pria itu tersenyum tipis, lalu mengusap air matanya.
"apa kau akan pergi lagi?" tanyanya kembali dirasuki rasa takut.
Glan menggelang pelan, dia benar benar terlihat seperti orang linglung yang tidak tahu darimana dia berasal.
"aku ingin kita mulai membuat jadwal kencan mulai besok!" ucapnya tiba tiba.
Melody mengerutkan alisnya tidak mengerti, namun setelah memahami ucapannya dia terkekeh dan langsung saja melipat kedua tangannya didepan dada.
"hem, sepertinya sekarang Tuan Glan Algalasta sangat sibuk ya, sampai membuat jadwal kencan!" seringainya.
Pria itu tersenyum tipis dan mengacak pucuk rambutnya.
"malam ini, tepat pukul delapan, kau tunggu didepan rumahmu, aku akan datang!" ucapnya.
"kenapa tidak sekarang saja?" tanyanya tak sabaran.
"maaf, tapi aku harus pergi!" ucapnya lagi lagi tersenyum tipis lalu dia pergi dengan meninggalkan tanda tanya besar dihati Melody.
Dia ingin sekali menanyakan semua yang terjadi pada pria itu sesegera mungkin. Tapi sepertinya dia harus menunggu beberapa jam lagi sampai pukul delapan malam nanti.