Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
24. Calon Bibi baru?



Hari hari berlalu, siklus cinta mereka tak berubah. Sekuat mana Melody berusaha, akhirnya tetap saja seperti itu. Glan yang terlalu mencintainya, dan Aril yang keras kepala menunggu balasan cintanya, Membuat Melody merasa lelah memikirkan cara apalagi yang harus dilakukannya.


Kenapa tidak berkata jujur? tidak mungkin, dia tak ingin menyakiti dan mempermainkan hati orang yang tulus mencintainya.


Melody hanya pasrah dan mengeluh pada kedua musuh yang menjadi temannya itu.


"bagaimana aku bisa menjauhi mereka, sementara setiap hari kami bertemu?" tanya Melody sambil melirik kearah mereka berdua.


"haah! sudah kubilang aku tidak peduli!" jawab Resya sambil merebahkan dirinya di karpet.


"yah, itu kan urusanmu!" sahut Angelica ikut berbaring.


Melody menghembuskan nafasnya kasar, dia hanya diam memandangi awan yang masih membiru. Yah, sore ini, mereka tengah menikmati suasana diatas gelaran karpet dan dibawah pohon rindang.


"setidaknya tolong bantu aku!" ucapnya lagi.


"tidak mau"


"kalau begitu aku akan berkata jujur pada semua orang, dan keluar dari sekolah lalu pergi jauh dari sini!" jawabnya pasrah.


"jangan macam macam kau, bukannya kau ingin kebahagiaan untuk Glan? setidaknya bertanggung jawablah sedikit, dan perlu kuingatkan, kau pernah membuatnya menjadi orang tak berperasaan selama 10 tahun ke belekang!" jelasnya.


"dan kau akan menipu semua orang kalau dibalik wajah polos ini, ada kelakuan busuk dibaliknya!" tambah Angelica sambil memperlihatkan fotonya diponselnya itu.


Sebenarnya hal itu bukan lagi ancaman baginya, Tapi yang membuat dirinya bingung adalah, bagaimana cara menjelaskan hal itu tanpa memberikan rasa sakit?


"baiklah, aku akan tetap berusaha mempersatukan kalian dengan mereka, tapi tolong maklumi satu hal, jangan cemburu jika mereka terus berusaha mendekatiku,.karna bukan aku yang mendekati mereka, kalian harus mengerti itu!" ucapnya lalu beranjak pergi.


"apa kau lihat? betapa bodohnya gadis itu" ucap Angelica dengan senyuman jahatnya.


"biarkan saja, Setelah dia merasa kelelahan, aku tetap akan membeberkan semua kebenaran ini"


...****************...


"eh?" Melody terpaku saat melihat High heel hitam yang terletak didepan pintu. Nampak jelas dia tidak memilikinya.


"sudah pulang nak?!" tanya Sandy yang langsung menyambut kedatangannya.


"iya, o ya paman, ini milik si-" belum sempat Melody melanjutkan kalimatnya, seorang wanita cantik yang sedang duduk disofa itu tersenyum manis kearahnya, lalu menghampiri Melody.


"kenalkan, nama saya Diandra, calon bibi barumu!" senyumnya tak lupa menyodorkan telapak tangan kanannya.


Bibi baru? yang benar saja? dia terlihat sangat cantik, badannya berisi dan molek, kulitnya mulus dan putih bersih. Apa matanya itu sakit mau menikahi pamannya yang wajahnya pas pasan itu? sungguh tak habis fikir.


"Alexa!" jawabnya dingin.


"paman aku ingin bicara sebentar!" Melody langsung menarik tangan Sandy dan membawanya jauh dari Diandra agar dia tak bisa menguping pembicaraan mereka.


"paman apa apaan sih? sejak kapan paman punya pacar?" tanyanya agak berbisik


"aku bertemu dengannya di Bar satu bulan yang lalu"


"apa? satu bulan yang lalu? dan sekarang paman akan menikahinya?, yang benar saja, bagaimana kalau wanita itu berniat jahat paman?" tanyanya dengan tatapan serius.


"berniat jahat? memangnya apa yang bisa dia ambli dariku? bahkan aku tidak punya apapun untuk membahagiakannya, selain dengan junior kebangganku ini!" senyumnya santai sambil memperlihatkan sesuatu yang menonjol dibalik resletingnya.


Melody tepuk jidat mendengar hal itu, ternyata pamannya juga gila wanita. Untung saja dia tidak pernah menyentuhnya.


"pokoknya aku tidak setuju paman menikah lagi!" Melody memalngkan wajah cantiknya itu.


"aku tidak butuh persetujuanmu, aku akan melakukan apapun sesuai keinginanku!" tegasnya lalu pergi.


Astaga, coba lihat wajahnya itu? seakan akan dia masih merasa seperti anak muda yang ngkuh sekali.


"semoga ini bukan masalah besar!" gumamnya.