
Melody yang baru tiba dirumah itu segera menghapus make up nya dan mengganti pakaian, walaupun merasa lelah, dia langsung menemui Glan saat itu juga. Dia sangat khawait mendengar suaranya yang terdengar menahan amarah. Namun, hanya satu pertanyaan yang ada didalam benaknya.
APAKAH DIA SUDAH SIAP MENERIMANYA?
"maaf aku terlambat!" ucapnya begitu sampai ditempat yang dijanjikan.
"habis darimana?" tanya pria itu kini terlihat lebih tenang dari sebelumnya
"dari..." Melody menggantung kalimatnya. "ah iya, dari teman rumahnya pamanku" jawabnya ngawur.
"ah maksudku dari rumahnya teman pamanku!" cengirnya nampak seperti orang bodoh. Padahal jantungnya berdebar hebat saat melihat onyx hitam lelaki itu yang menatapnya tajam.
"kau tidak pandai berbohong"
gadis itu tertunduk. "hem!"
"jawab dengan jujur, kau habis darimana dan dengan siapa kau pergi?"
gadis itu hanya diam, tak mau membuka mulutnya semilipun, seperti sudah dilapisi lem super yang sangat kuat.
"Jawab!" sentak Glan sambil mengguncang bahunya. Membuat gadis itu melemah seketika.
"siapa wanita ini?" tanyanya begitu dia mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto itu padanya.
Degh!
Melody langsung membatu, berakhirlah sudah semua yang disembunyikannya.
"itu aku" jawabnya tak ada alasan lagi untuk berbohong.
"dengan siapa?"
"orang yang membeliku!"
Gadis itu mengangguk pelan, telinganya sudah siap menerima makian pria yang dicintainya itu.
"seorang wanita hidup karna kehormatannya, karna mempertahankan harga dirinya, tapi wanita kotor sepertimu hanya menjadi benalu bagi dunia ini. Apakah kau tidak menyadari betapa besarnya letak kesalahanmu itu? dimana harga dirimu Melody? Kau..., kau sudah menipu semua orang, kau melukai perasaanku, kau nodai semua cinta dan persahabatan kita, benar apa kata Resya, seharusnya kau tidak pernah kembali!" Teriak Glan dengan emosi yang membara dihatinya. "kenapa kau melakukan ini?! kenapa?!" tanyanya dengan suara serak.
Dia berfikir apa sebelumnya? dia merasa yakin kalau apapun yang disembunyikan gadis itu, tidak akan membuat keyakinannya goyah?, tidak, tidak untuk kesalahan besarnya ini.
Melody tak bisa berkata apapun, dia terus menundukan kepalanya, menggigit bibir bagian bawahnya menahan agar air matanya tidak jatuh. Namun tak bisa dipungkiri, air matanya jatuh tak tertahankan.
Dengan perasaan malu, dia mengangkat kepalanya dan tersenyum getir.
"yah, kau benar, aku memang wanita paling menjijikan didunia ini, aku wanita hampa, pandai menipu semua orang termasuk dirimu, aku pandai menyakiti, dan menghancurkan hati banyak orang. Kau tanya kenapa? percuma saja, kau tetap tidak akan menerimanya meski aku memberikan sejuta alasan!"
"aku membencimu!" setelah mengucapkan kata yang paling menyakitkan itu, Glan melenggang pergi dengan hati yang teramat kecewa.
Melody masih mematung Menatap punggung Glan dengan nanar, sampai pria itu menghilang dari pandangan. kata kata pria itu masih terbesit dalam benaknya, rasa sakit mulai mendekap dirinya, sampai dia terjatuh menghempaskan dirinya diatas bumi, menengadahkan pandangannya kelangit dan memejamkan mata, air matanya lumer, terus mengalir membasahi sudut matanya.
Padahal dia sudah jauh jauh hari menyiapkan mentalnya untuk hal ini. Tapi tetap saja, tetap saja dia tak bisa menerimanya. Tetap saja dia memberikan Glan rasa sakit, kenapa dia tak menyadari kebodohannya sejak awal?
memang bodoh, sangat bodoh, benar benar bodoh!
Sekarang, apa yang harus dilakukannya? meminta maaf? yah, tak ada pilihan lain. Dia harus bertanggung jawab. Mengembalikan cinta suci milik sahabatnya itu, jika bukan untuknya, setidaknya sahabatnya itu harus bisa jatuh cinta lagi, pada wanita lain.
...****************...
...----------------...
......................
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
😊☺😅