Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
31. Keluarga yang unik!



Pada akhirnya, Melody berhenti pada titik dimana dia sama sekali tak memikirkan hidup yang akan dijalaninya. yaitu, kehidupan harmonis sebuah keluarga yang unik. Dimana cinta dan kasih sayang bisa dibagikan pada semua orang.


Yah, Pria berusia 33 tahun bernama Gilang itu memiliki dua orang istri dan tinggal bersama dirumah besar nan mewah ini. Dia menikah lagi karna istri pertamanya tidak bisa memberikan keturunan, jadi Aldrich merupakan anak satu satunya dari istri keduanya. Wajar saja dia sangat dimanja oleh mereka yang ada dirumah ini. Karna kedua istrinya yang akur dan memberi kasih sayang penuh pada Aldrich.


Tapi tentu saja kenyataan itu berat diterima oleh istri pertama sehingga dia memutuskan untuk menikah lagi dengan orang yang mau menerima dia dengan apa adanya. Tapi pernikahan itu tak membuat mereka larut dalam kebencian. Semua hidup bahagia sesuai keinginan mereka.


Cinta itu memang rumit, tapi begitulah cara mereka menghadapi masalah masing masing. Namun, demi mendengar kisah mereka yang unik, membuat Melody mampu berfikir lebih dewasa lagi. Dia dapat memahami jika masalah sebesar apapun, harus disikapi dengan tenang dan dengan cara yang baik. Seperti masalah yang dihadapinya sekarang. Dia harus bisa bersikap tenang dan memikirkan kembali semuanya dengan baik.


sore ini, Saat Aldrich sudah pulang dari kampus dan duduk diruang bersantai. Melody datang menghampirinya.


"emm....soal malam itu, aku minta maaf!" ucapnya dengan kepala tertunduk karna malu.


"malam itu? kurasa sejak seminggu berada dirumahku kau tidak pernah membuat kesalahani" sahut Aldrich berusaha mengingat ngingat.


"dimalam pertama saat kau membawaku kesini, aku sudah berani berkata kurang ajar padamu" Kini wajahnya semakin memerah. Masih teringat betul apa yang ia katakan pada pria itu.


Pegang aku erat erat!


tidak tidak tidak, bukan itu yang ingin diucapkan. Dia hanya mengatakannya secara tidak sadar. dan itu adalah kesalahan yang murni.


"aku tidak ingat!" senyum pria itu lalu menarik Melody sampai dia menindih tubuh kekar pria itu. "jadi kita akan melakukannya lagi?" seringainya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Melody memalingkan wajahnya dan merubah posisinya menjadi duduk.


"aku sangat tidak ingin melakukan apapun, aku sedang bingung Aldrich, aku tidak tahu lagi kemana tujuan hidupku! semuanya terasa canggung dan tidak jelas, aku..." Melody menjeda ceritanya karna Aldrich yang langsung menegakan tubuhnya dan memiringkan kepanya sambil tersenyum, lalu dia meletakan sebelah tangannya di dagu dan menyanggahkan sikutnya ke paha.


"lalu?" tanyanya dengan wajah serius yang menggoda.


"tidak jadi!" jawabnya menjadi salah tingkah.


"aku akan mendengarkan, sungguh!" ucapnya dengan nada memohon.


Gadis itu tetap saja diam. Pria menyebalkan itu benar benar bertolak belakang dengan sikap Glan. Yang biasanya setiap saat dia mengoceh, memakinya ataupun menjahilinya, pria itu akan tetap diam dan pasrah saja. Setelah itu dia akan memanjakan dirinya. Namun Aldrich yang menyebalkan ini malah terus menggodanya. Benar benar menyebalkan.


"yasudah kalau tidak mau, aku mau mandi dulu!" ucapnya langsung melenggang pergi.


Sementara Melody, dia menyeret langkahnya menuju kamar istri pertama tuan Gilang. Tak lupa dia membawa secangkir teh untuknya


TOK TOK TOK!


Melody menarik nafas terlebih dahulu dan mulai memegang daun pintu dengan pelan, mendorongnya perlahan dan mendapati Nyonya Anjani tengah sibuk dengan laptop putih miliknya.


"aku membawakan teh untukmu" tanyanya sambil meletakan secangkir teh itu diatas mejanya.


"ah terima kasih Melody!" senyumnya langsung saja menyeruput teh itu.


"apa nyonya sedang sibuk?"


"yah, tapi sebentar lagi juga selesai, Aku sangat malas pergi ke kantor hari ini!" jelasnya tak lepas pandangan dari layar monitor.


"emm, kalau begitu saya permisi!" ucapnya merasa kecewa karna dia ingin membicarakan hal yang penting baginya.


"Kau tidak ingin menemaniku? duduklah disini!" Anjani menarik kursi disebelahnya.


Dan dengan perasaan canggung, Melody pun duduk. "katakan saja apa yang ingin kau katakan!"


Eh?


jadi dia menyadarinya ya? bagus kalau begitu.


"maaf sebelumnya, tapi kehadiran saya disini sepertinya hanya menambah beban kalian. saya terlalu kurang ajar berani tinggal dirumah ini dengan tidak melakukan apapun. Jika nyonya mengizinkan, izinkan saya bekerja disini sebagai seorang pelayan, saya tak keberatan tak digaji, dengan mendapat tumpangan gratis saja saya sangat berterima kasih nyonya!" jelasnya bermaksud ingin menjadi berguna dirumah ini.


Namun reaksi Nyonya Anjani tampak tidak senang, dia langsung menghhentikan aktifitasnya dan melirik pada Melody.


"Kau tidak menjadi beban, lagipula pelayan dirumah kami sudah banyak, dan Tuan Gilang pasti tidak akan mengizinkanmu melakukannya. Karna kau adalah pemuas nafsu baginya"


Seketika Melody terdiam, apakah secara terang terangan dia telah menjadi perebut suami orang? tidak, bukan dia yang menggodanya, tapi Tuan Gilang lah yang memaksanya 2 hari yang lalu.


"maafkan saya nyonya, sepertinya saya benar benar sudah kurang ajar!" gadis itu teetunduk dengan air mata yang tak terbendung.


"aku sudah terbiasa dengan hal ini, sudahlah jangan menangis!" tegasnya sambil mengusap usap punggung Melody.


Bagaimana bisa dia menenangkan orang lain padahal hatinya begitu terluka? Ini benar benar diluar batas kewarasan hati nurani.


"dengarkan aku Melody, kalau kau tidak bisa bersama dengan orang yang kau cintai, teruslah berada didekatnya meski dia membencimu, karna sekeras apapun hatinya, sebesar apapun kesalahanmu padanya, Suatu saat hatinya pasti akan kembali menerimamu, jika bukan seorang pendamping hidup, kau bisa menjadi temannya. Percayalah! karna itu yang sedang aku jalani sekarang, menjadi teman suamiku sendiri!"


Bagai mendapat petunjuk dari ucapan Nyonya Anjani, perlahan, fikiran Melody mulai terbuka. Dia berusaha menyusun semua masalah yang menimpa dirinya.