
Pagi ini, semua disibukan dengan pekerjaan masing masing. Begitu juga Melody dan Alisya beserta ibunya yang sibuk mengurus ladang mereka bersama beberapa karyawan lain untuk segera dipasarkan. Namun kesibukannya terganggu saat ponsel didalam tas kecilnya terus bergetar.
Melody segera menepi dan mengangkat sambungan telpon dari Aldrich.
"kenapa-" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Pria itu sudah memotong.
"tidak ada waktu untuk mengoceh, cepat datang kerumahku, ambilkan map berwarna cokelat diatas meja kerjaku dan segera antarkan secepat yang kau bisa. Semua orang dirumah sibuk dan tidak mungkin aku menyuruh pelayan, sementara asistenku sedang pergi dan aku tidak mempercayai karyawan lain karna dokumen itu sangat penting!" cerocosnya membuat Melody menjauhkan ponsel dari telinganya.
"tapi-"
Tuut!
tidak sopan sekali dia! menutup telpon sebelum aku selesai bicara" decak Melody merasa kesal.
Melody segera beranjak dan meninggalkan ladang. "eh Melody mau kemana?" tanya Alisya yang tampak kerepotan.
"aku akan segera kembali!" teriak Melody semakin mempercepat langkahnya lalu dia masuk ke mobil, mengendarai Mobil agak cepat sampai tiba dirumah Aldrich dan dia langsung saja masuk karna orang orang sibuk dengan pekerjaan masing masing.
"diatas meja kerja? astaga map berwarna cokelat banyak sekali, aku harus bawa yang mana?" gumamnya sambil melihat lihat beberapa Map berwarna cokelat diatas meja Aldrich. Tapi kalau dia menelponnya lagi, pasti itu akan sangat merepotkan, jadi dia bawa saja semua yang ada disana.
Pluk!
Tak sengaja dia menjatuhkan sebuah foto ke lantai, Melody langsung saja membungkuk untuk mengambilnya.
"loh, inikan fotoku? bagaimana bisa ada dimeja kerja Aldrich?" tanyanya sambil memperhatikan fotonya yang tengah memakai seragam SMA itu.
"apa jangan jangan, dia masih...."Melody segera menepis fikiran buruknya dan menyimpan kembali foto itu. "tidak mungkin, lagipula dia akan menikah"
...****************...
Akhirnya dia sampai di kantor Aldrich yang luasnya benar benar sangat keterlaluan, entah berapa kali dia harus menggunakan lift dan harus pula berjalan menaiki tangga sampai akhirnya dia tiba diruangan Aldrich dan memberikan setumpuk map itu dengan nafas terengah engah dan keringat yang bercucuran didahinya. Yang menjadi masalahnya adalah, dia harus mengejar waktu.
"apa kau habis berlari?" tanya Aldrich langsung saja menyodorkan sebotol air mineral padanya yang isinya tinggal setengah.
"semua ini karna dirimu" tegasnya lalu mengambil pemberian Aldrich dan meleguknya sampai habis.
Pria itu tersenyum, air itu bekas minumnya dan artinya mereka berciuman secara tidak langsung.
"apa aku boleh pergi sekarang?" tanyanya setelah dia selesai minum.
"hey bawa lagi sisanya, aku tidak membutuhkan sebanyak ini" ucapnya setelah dia memilih salah satu dan yang lainnya diberikan kembali pada Melody.
Plak!
TOK TOK TOK
"permisi Pak!" sahut seorang wanita cantik berada diambang pintu.
Eh? apa dia melihat yang Melody lakukan barusan?
"masuk!" tegasnya dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin, Membuat Melody ingin sekali menjitaki kepalanya saat itu juga. so bersikap dingin! padahal perilakunya sangat menyebalkan.
"ini ada berkas yang perlu ditanda tangani pak" sahut wanita itu sambil membuka selembaran dokumen dan menyediakan bolpoin untuknya.
Sementara Melody asyik mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, sampai akhirnya sudut matanya menangkap seseorang yang hanya sekedar lewat didepan pintu. Bukan itu yang menarik perhatiannya, tapi otaknya langsung berputar dan dapat mengenali kalau orang itu mirip GRAY, kakaknya Glan.
Melody bermaksud untuk keluar dan mengejarnya, tapi tiba tiba tangannya ditarik oleh Aldrich bertepatan saat wanita itu melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangannya.
"mau kemana?"
"aku masih banyak pekerjaan, lepaskan tanganku Aldrich"
Bruk!
Eh! dia malah memeluknya.
"astaga Aldrich ini dikantor, bagaimana kalau ada yang lihat?" tanyanya mulai khawatir.
"sebentar saja, aku sedang isi ulang semangatku"
Bodoh!
memangnya dia fikir dirinya batre isi ulang penyemangat? tidak masuk akal.
"akh lepaskan!" dia mendorong pria itu dan cepat cepat melarikan diri bermaksut untuk mengejar orang yang dilihatnya mirip Gray.
Dia terus berjalan tergesa gesa sampai menabrak seseorang dan menjatuhkan barang2 yang dibawanya.
"ahh maaf saya buru buru" Melody langsung membungkuk dan membantu membereskan barang barangnya.
dan begitu selesai, sosok yang diinarnya sudah hilang dari pandangan.
"yah aku kehilangan dia!" gumamnya merasa kecewa.