Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
57. Tanpa sadar (21+)



mon maap gays, disini ada sedikit hal yang mungkin 21+ ya😅tapi gak vulgar banget sih cuman peringatan aja hehe😅...


Selamat membaca


-


-


PLAK!


Satu tamparan keras melayang tepat dipipinya.


"terima kasih untuk itu dan yang lainnya!" ucapnya kali ini mengubah gaya senyumnya menjadi seringai jahat. Membuat Resya yang melihat hal itu sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau gadis yang selalu ia maki ternyata begitu pemberani.


Prok! Prok! Prok!


Satria bertepuk tangan sambil tertawa terbahak bahak. Suaranya yang menggema memenuhi ruangan itu amat sangat mengerikan.


"Aku semakin tertarik padamu Nona Melody!"


Melody memutar bola mata malas, lalu melirik pada mantan preman yang hanya diam dibelakang Satria.


"Pak, tolong ajari bosmu ini supaya menjadi pria yang lebih baik juga seperti bapak!" tegasnya langsung saja menarik tangan Resya bermaksud membawanya pergi dari rumah mengerikan ini. Memang sih rumahnya sangat besar, tapi terlihat kotor dan tak diurus, sepertinya Satria tinggal sendiri dirumah ini.


...****************...


"Lepaskan tanganku!" oceh Resya berusaha melepaskan cengkraman tangan Melody.


"jelaskan padaku apa yang terjadi Resya?"


"tidak ada yang perlu dijelaskan" sentaknya masih berusaha melepaskan diri dari Melody.


"Tapi kenapa? sebenarnya ada apa?"


"aku tidak tahu!"


"Lalu apa yang terjadi pada Alga? katakan kalau dia baik baik saja!"


"Sudah kubilang semua ini terjadi karna dirimu, kau yang menghancurkan segalanya!" Resya berhasil melepaskan dirinya dan langsung saja berlari secepat mungkin meninggalkan Melody.


Keadaan ini benar benar membuatnya semakin stress.


Hari semakin larut. Bulan dan bintang mulai menampakan wujudnya. Gadis musim semi itu berjalan tanpa tujuan. Sampai akhirnya, langkah kakinya membawanya ke Bar yang berada ditempat terpencil dikota ini. Dia mencoba menghilangkan stresnya dengan minuman beralkohol, meski baru pertama kali mencoba, entah sudah berapa gelas kecil dia meminum sirup tercemar itu. Sampai akhirnya dia merasakan kepalanya benar benar pusing dan menjadi orang linglung, dia menangis dan tertawa dihadapan orang orang sambil terus mengoceh tidak jelas.


Setelah itu; dia berjalan keluar, terus menyeret langkahnya hingga sampai dibukit tempat favorit mereka dahulu.


Melody berjalan sempoyongan dengan sebotol minuman yang masih dipegangnya dan dia menunjuk nunjuk kearah Langit.


"bulan tidak beguna...untuk apa menerangi langit malam kalau hanya bisa menjadi saksi bisu penderitaan banyak orang" umpatnya terus saja mengoceh. "karna kau....Karna kaulah aku kehilangan semuanyaa....Aaaargggh!"


Prank!


dia melempar botol itu dan jatuh terhempas kebumi. Lalu dia ambruk ketanah dan membungkukan badannya.


Saat dalam kondisi seperti itu, seseorang datang menghampirinya.


"Melody!"


DEGH!


Suara itu...


meski dalam ketidaksadaran, namun dia dapat mengenali kalau suara itu milik Glan. Melody langsung menengadahkan kepalanya dan tersenyum kearahnya. Wajah tampan yang berusaha ia hafal agar terus mengenalinya kini terlihat jelas dihadapannya. Lalu dia bangkit dan berusaha menyeimbangkan tubuhnya.


"Luar biasa! kau..." Glan langsung saja menangkap sosok yang sudah tak mempu menyeimbangkan tubuhnya lagi. Dia tak mengatakan sepatah katapun dan memeluk gadisnya dengan sangat erat, Dadanya terasa panas, nafasnya tak beraturan dan tubuhnya sangat lemas. Rasanya rindu itu benar benar sudah menggerogoti jiwanya.


Glan memutar bolanya, dahulu dia mengharapkannya lebih lama lagi.


HAP!


Dia langsung saja membopong Melody dan membawanya pergi. Melody tidak tahu kemana Glan membawanya, dia hanya mengalungkan tangannya dileher pria itu dan menutup mata.


...****************...


Setibanya, Glan langsung membaringkan tubuh Melody diatas ranjang dan menyelimutinya. Namun saat dia beranjak, tangan mulus Melody berhasil meraih tangannya.


"jangan pergi lagi!" ucapnya.


Glan kembali duduk disampingnya, dan memperhatikan Melody yang matanya sudah memerah. Lalu dia mengecup keningnya.


"aku merindukanmu..." ucapnya langsung saja terbangun dan duduk dipangkuan Glan serta memeluknya.


Lagi lagi pria itu hanya terdiam, namun tetap membalas pelukannya.


"Alga..." ucapnya lirih.


"hem?"


ah kata itu....sudah lama tak mendengarnya.


Melody melepaskan pelukannya dan mereka saling menatap dalam.


"mari kita melakukannya!" ucapnya bersiap mendaratkan ciuman dibibir Glan. Namun pria itu segera menahannya karna dia tahu Melody sedang berada dibawah pengaruh minuman beralkohol.


"ayo kita lakukan..." rengeknya mulai manja.


"kau yakin?"


Dia mengangguk pasti.


"kalau begitu jangan hentikan aku!"


Glan mendekatkan wajahnya dan langsung mengecup bibir Melody. Menyapukan lidahnya pada permukaan bibir Melody dan ********** penuh hasrat. Tangan kiri Glan turun dan berhenti tepat di buah dada miliknya, meremasnya secara bergantian.


"ngh!" Melody melenguh, kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Glan.


"sudah kubilang jangan hentikan aku!" ucao Glan melepaskan ciumannya. Lalu dia membaringkan tubuh Melody dan berada diatasnya. Wajah gadis itu sudah terlihat sayu dengan rona merah dipipinya.


"Tutup matamu!"


Melody mengangguk dan mulai menutup mata saat Glan mulai melepas pakaiannya satu persatu dan tak menyisakan sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya. Bagaimana dia tidak dibuat melayang saat pria itu mulai menciuminya dengan cara merambat sampai pada titik puncak kenikmatan. Menghisapnya penuh gairah sampai membuat gadis itu menggeliatkan tubuhnya, tak bisa menahan semua rasa dalam dirinya.


"Alga.." panggilnya dengan suara serak yang terdengar seksi


Glan langsung mendekatkan wajahnya didepan wajah Melody. "hm?"


dengan mata sayu, dia membelai wajah datar itu dan langsung meraup bibirnya dengan ganas.


Dan malam itu mereka melakukannya dalam waktu yang cukup lama sampai Melody benar benar tak sadarkan diri.


......................


...****************...


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...