
3 bulan setelah Glan disibukan dengan belajar dan menghadapi Ujian sekolah dengan lancar. Satu minggu setelah ujian Usai, dia masih disibukan dengan universitas mana yang akan dia pilih menuju kesuksesannya. Kakaknya menyarankan beberapa Universitas yang menurutnya sangatlah bagus dan menjamin kesuksesannya. Namun Glan masih mepertimbangkan hal itu. Dia ingin kuliah ditempat yang jauh, seperti di Amerika contohnya, karna itu dia mengikuti kursus bahasa selama satu bulan ini.
Mengingat masalah yang menimpanya 3 bulan terakhir ini membuat pria tampan itu tak cukup semangat untuk menjalani hidupnya. bayangan cinta itu selalu saja menghantuinya.
Usia Remaja memang masa yang selalu berlebihan.
Malam ini, dia sibuk berkutat dengan laptop miliknya. Sambil mencari cari hal yang penting, fikirannya malah berfokus pada gadis musim semi itu.
"Argh! ada apa denganku?!" makinya sambil menghempaskan dirinya diatas ranjang. dia mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa jadi dia yang merasa bersalah, sudah puluhan kali dia mencoba menghubungi Melody sejak kepergiannya. Namun ponselnya tak kunjung aktif.
Gray seringkali menasihatinya dan memaksanya untuk melupakan gadis itu. Dia tak ingin masa depan adiknya itu terganggu hanya gara gara masalah cinta.
"Glan!" panggil Resya sambil membawakan makan malam untuknya.
"apa?" tanyanya kali ini lebih terbuka pada Resya. Yah, memang gadis itulah yang selalu ada untuknya saat ini.
"kenapa kau sampai melupakan makan malam?"
Glan menarik nampan yang dibawa Resya dan memakannya. Dia tidak ingin membuat drama dengan so tidak lapar sampai gadis itu menyuapinya. Tidak akan ia lakukan kecuali pada gadis musim semi itu, ah tidak. Dia sudah pergi...
"kau sudah memutuskan Universitas mana yang akan kau pilih?" tanyanya
"yah!"
"jadi mau kuliah dimana?"
"diluar Negri"
"Apa?!" serunya langsung saja bangkit dari duduknya dengan mata melotot hampir keluar dari rongganya.
"hem" jawabnya datar.
"kenapa diluar negri? disini juga kan banyak Universitas bagus!" ocehnya
"hem"
jawaban tak berguna itu membuat Resya semakin kesal. Dia tak mau jika harus berjauhan dengannya. Inilah kesempatan dia untuk memenangkan hati pria dingin itu. Melody sudah pergi dan seharusnya tidak ada lagi benalu yang menghalanginya.
"Satu Universitas denganku saja!" tegasnya terdengar sebagai perintah.
Namun pria itu hanya diam dan fokus pada laptopnya.
Merasa diacuhkan, Resya beranjak pergi dan menemui Gray diruangan khusus, tempat ia bekerja.
"kakak!" ucapnya bahkan lupa mengetuk pintu dan langsung menyelonong masuk.
"ada apa Resya?"
"apa kau mengizinkan Glan kuliah diluar negri?"tanyanya membuat Gray langsung menutup pintunya.
"tidak, kenapa?"
"Glan memutuskan untuk kuliah diluar negri!"
"hem, aku akan bicara dengannya nanti, sekarang sudah larut malam, kau mau pulang atau menginap?" tanyanya berusaha tenang.
"aku pulang saja, selamat malam kakak!" senyumnya langsung saja pergi dan diantar Gray sampai ke depan. Setelah itu dia kembali keruangannya dan cepat cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Dia mendapati Glan tengah tertidur pulas sambil memeluk gulingnya.
"sudah tidur ya!" ucapnya sambil menyelimuti tubuhnya. Lalu dia duduk disampingnya dan mengusap usap rambut Glan yang sedikit kasar itu.
Betapa imutnya wajah damainya saat tidur itu, membuat Gray selalu merasa dia tak mampu melakukan apapun tanpa dirinya. Apalagi harus melepasnya sangat jauh. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"kakak?!" tanyanya langsung saja bangun dari tidurnya dan menjauhkan diri dari Gray.
"a apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan sejuta fikiran buruk tentang kakaknya yang ditakutkan GAY itu. (😂😂😂)
"apa kau akan meninggalkanku?" tanyanya dengan raut wajah sedih, membuat Glan hanya mengerutkan alisnya tak mengerti.
"Resya bilang, kau mau kuliah diluar negri"
"iya, aku sudah memutuskan" jawabnya datar.
"aku tidak akan mengizinkanmu!"
"ini impianku kak, kau harus mengizinkanku"
"kenapa tidak kuliah disini saja?, diluar kota tidak apa apa, aku masih bisa mengunjungimu, tapi tidak kalau diluar negri, itu terlalu jauh adik!"
Glan menggelang kuat kuat, rasanya dia benar benar harus berjuang melupakan semua kenangan didalam fikirannya. Dia harus bergerak lebih jauh dan menjadi orang yang sukses.
"tidak kak, aku ingin kuliah dan menetap disana, aku ingin punya perusahaan sendiri, dan nanti kita bisa bekerja sama antar perusahaan" jelasnya penuh keyakinan.
"dimana kau akan kuliah?"
"Amerika, aku akan kuliah disana!"
Gray menghela nafas berat, lalu dia menatap Onyx hitam itu dengan wajah memelas. "apa kau yakin?"
"aku yakin!" senyumnya kali ini dia mendekatkan dirinya dan menempelkan dahinya didahi Gray.
"jangan khawatir kak, aku pasti bisa, aku berjanji akan kembali setelah lima tahun!"
Tak bisa dipungkiri, saat itu juga, Gray masih tak merelakannya. Namun disisi lain, dia tidak ingin mencegah cita cita adiknya.
"semoga sukses adik!" senyumnya diiringi dengan setitik air mata, membuat Glan merasa tak tega melihat kakaknya yang walaupun berlebihan itu.
"cengeng!" ledeknya sambil melempar bantal tepat diwajahnya.
Gray yang tak mau kalah itu kembali melemparkan bantal ke wajahnya. Dan pertarungan kakak dan adik itu berlangsung semakin seru, sampai mereka kelelahan dan pada akhirnya sama sama tertidur dengan posisi tak beraturan.
......................
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TIDAK ADA PELETAKAN TEMPAT YA😅 MON MAAP. Kurang berpengalaman 😂