
Dering ponsel terdengar berkali-kali membuat Arine yang masih tertidur itu merasa kesal dan meraih ponselnya itu dan menjawabnya.
"Hallo siapa sih, ganggung orang pagi-pagi buta. Lu gak ada kerjaan apa?!. Kalau mama minta pulsa, gw masih gadis belum mama-mama"kesal Arine dan seseorang yang menelphone disebrang sana menahan tawanya.
"Kamu gak mau telat kuliah pagi bukan!. Kalau gak mau telat bangun sekarang, tapi kalau mau bolos tiduran saja sampai siang!"ucap seseorang tersebut dan membuat mata yang masih terpejam itu sontak melotot terkejut.
Arine pun melihat kearah layar ponselnya itu, dan tertera nama dengan jelas disana yaitu bernama kak Ardi. Kening Arine pun mengerutkan dahinya melihat nama itu.
"Apa an sih nih orang?. Kak Ardi?. Gila kali dia yeah, umur kita samaan njir, cuma gw telat masuk kuliah saja"kesal Arine dalam hati.
Arine pun mengecek jam di ponselnya, betapa terkejutnya dia kalau jam sudah menunjukan pukul 05.30 WIB.
"Apa!. Sudah setengah 6. Kamu kok gak bangunin aku sih. Aku bisa telat nih. Si bibi itu juga kemana pula, gak usah mandi langsung cuci muka deh"ucap Arine melemparkan ponselnya itu dan menuju ke kamar mandi.
Ardi yang mendengar celotehan dari Arine menahan senyumnya dan belum mematikan sambungan telponnya itu. Ardi pun juga bersiap-siap untuk memberikan kejutan Arine dibawah.
"Sial!. Ini semua gara-gara laki-laki menyebalkan itu, jadinya aku gak mandikan. Parfum mana parfum. Kesal banget sih, yang penting wangi saja deh. Teman-teman juga gak bakalan tahu kalau aku sudah mandi apa belum"ucap Arine yang terdengar jelas dari sambungan telpon itu. Ardi yang mendengar hal itu menahan senyumnya sambil keluar dari apertemannya itu.
Beberapa menit kemudian Arine sudah keluar dari Aparteman dan menuju ke kampusnya. Betapa terkejutnya dia. Ketika melihat adanya Ardi di luar gedung apartemannya itu.
"Ngapain lagi itu laki-laki disini pagi-pagi"kesal Arine yang masih berdiri menatap Ardi. Ardi pun langsung menghampiri Arine.
"Tahu gak, sambungan telpon kita belum terputus dan aku mendengarkan semua celoteh dan umpatanmu sedari tadi"ucap Ardi yang sudah berada didepan Arine.
Arine pun langsung mengecek ponselnya itu dan ternyata benar. Dengan kesal Arine mematikan sambungan itu.
"Gak sopan, harusnya kamu matikan sambungan itu dong. Sudahlah, minggir. Sudah telat bener nih, gara-gara kamu tahu gak"kesal Arine menatap tidak suka Ardi.
Ardi pun langsung menggenggam tangan Arine dan membawanya kearah motor miliknya.
"Naik!. Bukanya kamu gak ingin terlambat"ucap Ardi dan Arine pun dengan kesal menaiki motor Ardi dan Ardi pun menghidupkan motornya itu dan menuju ke kampus.
Sampainya mereka di kampus, Arine mengecek jam yang ada ditangannya dan merasa sangat kesal sekali.
"Ih...telat kan, ini sudah hampir jam 7 lebih. Kamu bawa motornya gimana sih, ngeselin tahu gak. Mending tadi aku pesan ojol deh"kesal Arine tidak mau bergerak menuju kelas.
"Masuk saja sih, gak bakalan dimarah. Cuma telat beberapa menit jugaan"ucap Ardi yang ikut kesal.
"Kan kamu sendiri yang bandel, aku sudah bangunin kamu dari subuh. Kamu nya saja yang molor tidurnya"kesal Ardi yang sebenarnya menggoda Arine.
Arine menatap kesal Ardi dan langsung menginjak kaki Ardi keras.
"Kalau kamu gak seenak jidatnya ajak aku keluar kemarin, gak bakalan aku kayak begini"kesal Arine yang langsung meninggalkan Ardi disana sendiri yang menahan senyum.
"Different"ucap Ardi yang langsung mengendarai motornya keluar dari gedung kampus itu.
.
.
.
.
.
"Astaga Rine, baru kali ini gw lihat lu telat. Meskipun lu itu dikelas main game atau nonton anime. Seenggaknya lu hadir tepat waktu. Ada apa nih, atau jangan bilang gara-gara babang Ardi?"goda Naila yang melihat sahabatnya itu supek dari masuk kekelas dan mendapatkan ceramah dari dosen karena terlambat.
Arine yang sedang memakan baksonya itu merasa sangat kesal. Dan memakannya dengan kasar.
"Maksudmu apaan sih Rine. Dua perempuan siapa. Salah satunya bukan gw kan?"ucap Naila menelan ludahnya kasar.
Arine menatap Naila jengah karena sikap sahabatnya yang lumayan lemot.
"Bukanlah. Sudah deh ah, sebel tahu gak aku tuh Nai."ucap Arine melanjutkan makannya.
"Astaga naga Rine. Coba itu lihat kak Ardi sama kak Bunga, bermesraan berbunga-bunga. Gila saja, kalau kak Bunga tahu tunangannya itu deketin cewek lain, macam mana nasibnya ya"ledek Naila ke Arine yang langsung melihat kearah Naila tunjuk. Dimana disana Bunga dan Ardi sedang berada dikantin yang sama dengan mereka.
Tatapan Ardi dan Arine pun bertemu. Arine menatap tajam Ardi dan tersenyum sinis setelahnya. Sedangkan Ardi hanya terdiam dengan aura dingin yang terpancar.
"Aku pesenin dulu ya sayang. Seperti biasa kan?"tanya Bunga yang hanya dijawab anggukan oleh Ardi.
"Gw ke toilet dulu Nai, pingin muntah ngelihat yang begituan"ucap Arine yang sudah berdiri dari kursinya.
"Cemburu lu, parah"ledek Naila lagi yang dilirik tajam oleh Arine.
"Oke-oke bercanda doang. Sana-sana gw tunggu"ucap Naila yang kembali menikmati baksonya itu.
Arine pun pergi dari kantin itu dan tanpa dia sadari Ardi mengikutinya.
"Cemburu!?"ucap seorang laki-laki tepat dibelakang Arine. Arine pun langsung menoleh dan mendapatkan Ardi ada disana.
"Apa?. Aku gak lagi salah dengarkan?."ucap Arine merasa jengah.
"Aku kira cemburu. Bagus deh kalau gak"ucap Ardi yang berlalu mendahului Arine. Arine pun bingung, bukannya dia kekantin untuk makan bersama tunangannya, tapi kenapa dia malah pergi dari kantin?.
"Jangan ninggalin orang gitu saja dong. Kasian cewek lu, lagi pesen makanan buat kamu, malah kamunya ngilang. Gak tahu terima kasih, dikasih perhatian sama cewek sebaik kak Bunga, apa perlu gw ralat?. Heh...ngapain gw peduli sih"kesal Arine yang langsung menyengol Ardi dan menatap sinis.
Ardi pun dengan iseng langsung menarik Arine dan membawa Arine berlari keluar dari lorong sana dan menuju ke parkiran.
"Apa-apan sih"kesal Arine melepaskan genggaman ditangannya itu.
"Kabur yuk. Arine?"ucap Ardi sambil tersenyum manis kearah Arine yang merasa ambigu.
"Ardi!?"panggil seseorang perempuan yang membuat Ardi dan Arine menoleh kearah suara. Arine dengan senyum remehnya menatap Ardi.
"Kabur!. Jangan ngelucu, cewek lu manggil, sana"ucap Arine yang langsung pergi tapi tangannya digenggam erat oleh Ardi.
"Aku serius, naik"ucap Ardi meminta Arine naik ke motornya. Arine pun dengan terpaksa mengikuti hal itu.
Bunga yang melihat semua itu merasa terkejut apalagi perempuan yang bersama Ardi adalah orang yang mirip dengan Anisa.
"Gw cuma mau lihat wajah sedih dari cewek lu. Sahabat yang tidak setia"ucap Arine ketika motor Ardi sudah keluar dari halaman kampus.
.
.
.
.
.
Next on ...