
semakin hari, rasa rindu itu sudah tak bisa dibendung lagi. Meski berusaha untuk menyibukan diri dan menghibur dirinya, Melody tetap merasa kalau hidupnya benar benar hampa. Seakan Tak ada cinta lain yang mampu mengobatinya.
"mau berapa lama lagi kau menunggunya dengan ketidakpastian?" tanya Aldrich yang kini mereka tengah duduk dibalkon rumah Aldrich menikmati angin sore.
Gadis itu tak segera menjawab, dia hanya menghela nafas berat lalu memeluk lututnya.
"Tapi dia sudah berjanji, dan tak pernah mengingkari janjinya, mungkin aku hanya perlu menunggunya sebentar lagi" ucapnya penuh harap.
Aldrich si pria yang kini mengubah rambutnya menjadi hitam itu mengacak puncak rambut Melody. Jujur saja, rasa cinta pada gadis itu sama sekali tidak pernah berkurang, justru malah semakin bertambah dan semakin enggan kalau dia harus bersatu kembali dengan sahabatnya. Waktu itu dia hanya beralasan mau menjadi kakaknya karna tak ingin kehilangannya dan Agar Melody tidak dibenci keluarganya. Dengan menerima perjodohannya bersama Alice lah yang membuat keluarganya yakin kalau dia tak mencintai Melody.
Dan sebentar lagi dia akan menikah dengan Alice, namun sebelum itu dia ingin membuat rencana agar pernikahan tanpa cinta itu tidak pernah terjadi.
"Sayang, ayo kita ke mall" ajak Alice datang tiba tiba saja.
"bisa nanti malam saja?" tanyanya dengan nada tidak enak didengar.
Alice hanya menatap tajam kearah Melody, saat dia ingin berduaan bersamanya gadis itu selalu saja ada.
Benar benar menyebalkan!
"tidak bisa, aku sudah terlanjur bersiap" tegasnya.
Aldrich melirik pada Melody yang juga menatapnya. Lalu dia tersenyum tipis dan berkata "pergilah, aku akan pulang"
"mau kuantar?"
"tidak perlu, aku bisa naik taxi!" jawabnya.
...****************...
Melody berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah lamanya, yah dia meminta supir taxi untuk mengantarnya kesana dan memberi uang lebih.
Kini rumah itu sudah dirobohkan dan sedang dibangun kembali oleh beberapa tukang bangunan.
"pak, lahan ini mau dibuat apa?" tanyanya pada seorang pria paruh baya yang tengah meminum kopinya dan beristirahat.
"dibuat kontrakan non!"
Luar biasa! siapa yang mau mengontrak ditempat sepi seperti ini?. Tapi jika orang itu suka kedamaian, sepertinya bagus. Karna dibelakang rumah itu adalah ladang luas yang belum ditanami apapun dan hanya rumput hijau seperti permadani.
Melody kembali mengingat kalau waktu itu dia pernah dikejar beberapa preman karna hutang pamannya yang belum lunas. Namun sekarang dia ingin bertemu dengan para preman itu untuk melunasi semua hutangnya. Dia hanya tidak tahu kemana harus mencari mereka.
Tap!
Tap!
Tap!
terdengar suara derap langkah dari arah belakang. Kebetulan, merekalah yang Sedang dicari Melody. yaitu para preman itu, namun kali ini gaya pakaian mereka tidak seperti dulu lagi, dan terlihat sangat rapi sekarang. Tida ada tato ataupun rante di celana jeansnya.
"bagaimana pak? semuanya berjalan lancar?" tanyanya.
"lancar pak!" jawab pegawai bangunan itu.
"permisi pak, apa kalian masih mengingat saya?" tanya Melody.
Mereka terdiam sejenak, namun langsung saja menggelang. "maaf non, saya tidak ingat"
"ah saya Melody pak, keponakan paman saya yang belum melunasi hutangnya waktu itu" jelasnya berusaha mengingatkan.
Mereka langsung tercengang, dan orang berpakaian putih itu tiba tiba saja langsung membungkuk dengan penuh rasa hormat dihadapan Melody.
"maafkan kami sudah bersikap lancang beberapa tahun yang lalu non, kami khilaf!" ucapnya dengan bersungguh sungguh
"tidak apa apa pak, sekarang saya sudah punya cukup uang untuk melunasinya, berapa semua totalnya pak?" tanyanya dengan nada lembut.
"saya kurang ingat non, bagaimana kalau saya antarkan non pada bos?"
Dengan cepat Melody mengangguk mengiyakan.
25 menit kemudian, mereka tiba didepan rumah mewah yang besar. Pasti pemilik rumah ini benar benar sangat kaya, namun anehnya, mengapa dia memaksa menagih hutang pada orang yang belum punya waktu itu?
"Saya sudah menelpon Tuan non, non dipersilahkan langsung masuk keruangannya!"
"bisa antar saya pak? saya takut tersesat" cengirnya terlihat kekanak kanakan.
Pria itupun dengan senang hati mengantarkannya sampai ke ruangan bosnya. Begitu dia sampai didepan pintu, baru saja Melody melayangkan tangannya untuk mengetuk pintu, tiba tiba pintu terbuka dan menampakan seorang gadis yang sudah tak asing baginya. Dengan rambut panjang yang berantakan dan wajah sayu serta bercak merah dilehernya membuat Melody faham betul apa yang sudah gadis itu lakukan.
"kenapa menatapku begitu?" tanyanya yang tidak mengenali Melody karna sekarang rambutnya pendek.
"Kau Resya kan?" tanyanya memastikan.
mendengar suaranya, Resya langsung melotot dan memandangi Melody dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lalu dia kembali menatap wajahnya.
"bu-bukan!" jawabnya gugup dan dia buru buru pergi dan langsung saja diikuti Melody.
"Resya apa yang terjadi?" tanyanya berhasil mencengkram tangan Resya sehingga membuatnya berhenti berjalan.
"bukan urusanmu!" jawabnya ketus.
"bagaimana keadaan Alga dan kakaknya sekarang? apa mereka baik baik saja? sekarang mereka tinggal dimana? apa Alga sudah pulang? atau mereka menetap di Amerika?" tanya Melody berbondong bondong. Ini benar benat kesempatan baginya karna Resya dekat dengan mereka.
Namun yang ditanyai hanya diam dengan tatapan penuh kebencian pada Melody. Yah, dia tahu kalau sedari dulu Resya tida pernah menyukainya. Tapi tatapannya kali ini sungguh berbeda, membuat bulu kuduk meremang karnanya.
"katakan Resya!" teriaknya putus asa.
"Semua ini terjadi karna dirimu! kau harus bertanggung jawab Melody!" ucapnya berteriak juga.
"apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.
"Aku sangat membenci dirimu!" lagi lagi dia berteriak.
"ada apa ini ribut ribut?" tanya Tuan rumah yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Kau?" tanyanya begitu terkejut saat melihat sosok itu adalah Satria.
"oh hallo Melody, gadis yang membuatku berada dirumah sakit berminggu minggu karna telah menendang barang berhargaku" seringainya.
Astaga, sepertinya dia tidak melupakan momen menggelikan itu.
"jadi, kau melakukan "itu" bersama Resya?" tanyanya tidak percaya.
Satria terkekeh lalu berjalan menghampiri Resya dan mencium bibirnya dengan liar lalu memberikan beberapa kiss mark dilehernya.
Dia benar benar tidak tahu malu melakukan hal itu tepat dihadapannya, tapi Resya sama sekali tidak bergeming. Dia tampak pasrah menerimanya seperti apa yang Melody pernah lakukan saat dia menjadi wanita Malam.
"Dia mainanku" ucap Satria lagi lagi menyeringai puas.
Melody benar benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, diapun segera mengeluarkan seluruh uang beserta ATM-nya dan diberikan pada Satria.
"apa itu cukup?"
"ck ck ck Melody...Bukankah biasanya kau membayar hutang pamanmu dengan tubuhmu? ambil ini dan biarkan aku sedikit mencicipimu" ucapnya sambil mengembalikan uang yang diberikannya barusan.
Melody berusaha tidak terbawa suasana, dia tersenyum secerah mentari lalu melangkahkan kakinya agar lebih mendekat. Dan tiba tiba saja...