Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
69. tak akan ada awal jika tidak ada akhir.



Sepanjang malam Aldrich tidak tidur dan menjaga Melody yang sudah terbaring lemah dirumah sakit sejak dua minggu yang lalu. Kini keadaan Melody sudah mulai membaik dan sudah melewati masa kritisnya. Sekarang dia hanya perlu menunggunya siuman.


Aldrich tak bosan bosannya mengelus lembut rambut Melody dan sesekali mencium keningnya.


Alisya dan ibunya pun duduk menemani di dalam kamar dan ada Alice juga disana. Sampai tiba tiba Aldrich merasakan jemari Melody bergerak. Aldrich agar tidak percaya, tapi jemari itu kembali bergerak.


"Dia, bergerak!" seru Aldrich pelan, tapi masih bisa terdengar oleh mereka. "Jemarinya bergerak!" ucapnya agak lebih kencang, Alisya dan ibunya langsung mendekat.


"Benarkah?" tanya Ibunya Alisya dengan mata yang sudah berkaca kaca.


Sedangkan Alisya melihat adanya harapan langsung menelepon ruang suster untuk memberitahukan hal ini.


Sekarang Aldrich, Alisya dan ibunya sedang mengelilingi tempat tidur Melody, kecuali Alice yang tampak tak acuh. Mereka menunggu saat saat dimana matanya akan terbuka kembali. Kelopak mata Melody berkedut kedut, kemudian dengan perlahan lahan sekali dia membuka matanya. Dan orang pertama yang dilihatnya adalah Aldrich, lalu Alisya dan ibunya


"Aldrich...Alisya...Bibi..." bisiknya masih sangat lemah


Melihat Melody sudah tersadar, bahkan langsung mengenali mereka semua, tentu saja langsung membuncah keluar air mata semuanya. Alisya langsung memeluk Melody dengan lembut, disusul oleh ibunya dan juga Aldrich, yang merasa sangat bersyukur sekali karna Melody akhirnya tersadar kembali.


"Jangan mempermainkan jantungku lagi" bisik Aldrich benar benar merasa lega


...****************...


Walaupun Melody sudah sadar sepenuhnya, namun kesehatannya belum juga kunjung membaik, Terlalu lama berbaring membuat fisiknya menjadi melemah. Oleh sebab itu, dia harus segera mengikuti fisioterapi, salah satunya adalah terapi untuk berjalan kembali sampai kondisinya benar benar membaik dan akhirnya dibolehkan untuk pulang.


"berapa lama aku dirawat?" tanyanya kepada Alisya yang kini tengah menyuapinya.


"dua minggu, aku sangat khawatir Melody, bahkan detak jantungmu sempat berhenti berdetak dan itu membuat semua orang sangat panik termasuk Tuan Aldrich"


Melody cukup terkejut, namun dia segera sadar dengan keadaanya saat itu, bahwa kecelakaan itu membawanya pada Alam yang berbeda. "bagaimana kalau aku meninggal sungguhan?"


"pertanyaan macam apa itu?, ayo cepat habiskan makananmu!" ucapnya seolah sangat tak ingin mendengar ucapan Itu dari Melody.


"Aku bosan makan bubur terus, lagipula aku sudah sehat!" tolaknya saat Alisya hendak memberinya suapan.


"Bukan hanya itu, kau juga harus membuat janin didalam rahimmu sehat!"


DEGH!


JANIN?


"apa...."


"yah, suster bilang kau sedang mengandung dan usia kandunganmu sudah menginjak satu bulan....untung Tuhan masih menyelamatkan kandunganmu dari kecelakaan yang menimpamu"


Bagai mendengar petir disiang bolong, Melody amat sangat terkejut dan hampir tidak percaya dengan apa yang dikatakan Alisya.


"siapa yang melakukannya Melody?" tanya Alisya terdengar kecewa.


"Alga...aku hanya berhubungan dengannya" ucapnya sambil mengelus perutnya dan menangis haru. Dia masih ingat betul ucapan Glan saat itu, bahwa dia akan selalu bersamanya dan menjadi miliknya selamanya. Yah itu benar.


"aku sangat senang Alisya...." ucapnya begitu berkeyakinan kalau anak yang dikandungnya adalah milik Glan dan juga dirinya.


Alisya hanya bisa tersenyum pasrah dan tidak bisa berkata apapun yang membuatnya akan stress.


-


-


-


Ahh akhirnya dia bisa menghirup udara segar dan dapat kembali memulai pekerjaannya.


Diapun mengelap rambutnya yang basah karna sudah mandi dan keramas, Namun sudut matanya tak sengaja menangkap sesuatu diatas meja Ovalnya.


Begitu diraihnya surat berbungkus plastik itu dan membacanya. Ternyata surat undangan pernikahan Aldrich dan Alice yang akan diadakan seminggu lagi.


Melody menghembuskan nafasnya lega, akhirnya dia memutuskan untuk menikahinya juga.


TOK TOK TOK!


terdengar suara ketukan pintu yang mengetuk kamarnya.


"masuk!" sahut Melody.


Cekrek!


Alice masuk dan tiba tiba saja tersenyum lebar padanya.


"ada perlu apa Alice?" tanya Melody sopan.


"tidak perlu basa basi, aku hanya ingin memperingatkanmu, kalau aku sudah menikah nanti, tolong jaga jarakmu dengan calon suamiku!" tajamnya membuat ruangan ini seakan membeku.


Melody tersenyum dan membungkuk. "Baik!"


"cih, dasar wanita tidak punya harga diri!" ledeknya langsung saja pergi.


Bukannya sakit hati, Melody malah tersenyum geli. Sikap Alice yang pemarah mengingatkannya pada Resya.


Ahh dia jadi merindukannya.


Tidak tahu apa yang terjadi, dia sendiri bingung mengapa Resya menjadi kacau seperti itu Mungkinkah dia juga mengalami depresi yang sama dengannya karna sama sama kehilangan orang yang dicintainya? Lalu kenapa dia jadi berakhir seperti itu dengan Satria? Sulit dipercaya, padahal terlihat dari matanya kalau Resya masih sangat membenci mantan pacarnya.


Tapi siapa peduli, sekarang Melody ingin menikmati hidupnya tanpa memikirkan nasib orang lain yang juga tak mencintainya. Seharusnya dia berfikir begitu sejak dulu. Dan dari pengalaman itulah dia dapat belajar, kalau keegoisan dalam hidup itu hal yang wajar.