
"Kesel aku sama kamu"ucap Naila ketika kelas pak Dodi selesi dan meninggalkan Arine yang terkejut akan sikap sahabatnya itu.
"Hey...satu frekuensi. Sumpah lu jelek Amad kalau marah begitu, njir"ucap Arine berteriak dan tidak mempedulikan jika dia menjadi pusat perhatian lagi.
Dan Bunga sekali lagi terdiam ketika mendengar Arine bersikap seperti itu.
"Dia mengingatkanku akan diriku waktu itu. Apakah Bunga yang kamu kenal dulu, telah menghilang, di?"tanya Bunga menatap Ardi yang terdiam tanpa membalas tatapan itu.
"Sikap perempuan yang mirip dengan Anisa itu. Mengingatkan aku akan Bunga waktu dulu menjadi siswa SMA sebelum kamu hadir dikehidupan Anisa dan aku. Sudahlah kamu pasti tidak akan mendengarkan ku bukan?. Aku ketoilet dulu"ucap Bunga yang langsung pergi dan melihat ke arah Arine sekilas. Karena Arine masih dengan santai duduk disana sambil membaca komic.
"Dia memang bukan Anisa, tapi bisa mencuri perhatian Ardi dengan sikapnya"ucap Bunga lirih sambil berjalan keluar dan menghapus air mata sialan yang menerobos keluar itu.
"Maafkan aku Bunga"ucap Ardi memperhatikan Bunga keluar dari kelas dan kembali memperhatikan Arine yang asik dengan dunianya. Padahal habis bertengkar dengan sahabatnya.
Beberapa menit kemudian, datang seseorang yang menghampiri Arine dikelas dan orang itu adalah Arif. Ardi yang masih dikelas itu dan sebenarnya ada beberapa mahasiswa juga masih dikelas itu. Ardi memperhatikan Arif yang menatap tulus Arine yang sibuk dengan komic Fairy Tail yang sedang dibacanya itu.
"Kamu suka baca komic ternyata ya"ucap Arif mengejutkan Arine yang masih sibuk dengan dunianya sendiri itu.
"Kenapa lagi sih kak Arif ini. Gangguin saja tahu gak"kesal Arine yang kembali membaca komic itu.
"Ayo makan, kami pasti belum makankan"ajak Arif yang bisa didengar oleh Ardi yang menatap serius si Arif.
Tidak tahu mengapa Ardi bersikap seperti itu, meskipun dia tahu, Arine bukanlah Anisa. Tapi malam itu membuat Ardi menjadi menanyakan akan segala hal.
"Kak Arif gak lihat, saya sibuk sama komic saya. dan saya belum lapar kak. Oh iya, si Naila tadi kekantin, coba kak Arif susul sih Naila kekantin. Kakak ngajakin aku makan karena gak ada yang nemenin kan, jadi sama Naila saja sana"ucap Arine langsung menohok ke Arif yang terkejut dan untuk kesekian kalinya dia ditolak oleh perempuan yang bernama Erlina Arina Alfarez.
Ardi yang mendengar hal itu menahan tawanya.
"Dan sifat cuek itu, mirip dengan Anisa. Namun sifat bar-barnya yang merasa dia adalah manusia bebas. Aku seperti bercermin ketika dia seperti itu"ucap Ardi dengan lirih menatap Arine dari belakang.
"Oke. Sudah berapa kali kamu menolak aku Rine. Baru kali ini, aku ditolak perempuan dan sebanyak itu pula. Tapi aku suka hal itu, sangat menarik dan kamu harus pertahankan hal seperti itu untuk menjaga diri kamu"ucap Arif yang langsung duduk disamping Arine yang masih sibuk dengan dunianya.
"Kak Arif gak lagi nguji saya kan"tanya Arine yang langsung menutup buku komic nya itu dan menatap curiga si Arif. Arif pun hanya tersenyum menyambut tatapan dari Arine.
"Bisa iya dan bisa tidak. Aku tertarik saja sama perempuan seperti kamu itu mudah ditaklukan atau tidak. Nyatanya, aku tidak perlu mengkhawatirkan mahasiswi dari Amerika ini"goda Arif yang langsung mendapatkan tatapan mencurigan dari Arine.
"Kak Arif terlalu mencurigakan dan terlalu kepo akan hidup orang lain"kesal Arine.
"Anak Tante Riri memang beda ya"ucap Arif yang langsung membuat Arine terkejut dibuatnya.
"Kenapa kak Arif kenal sama mama!"ucap Arine terkejut dan Arif hanya menyengat bak kuda.
Ardi yang melihat interaksi antar keduanya hanya mengamati dan merasa tidak suka akan kedekatan keduanya.
Dengan tergesa-gesa Ardi pun menghampiri Arine yang sedang berbincang dengan Arif.
"Ada yang perlu saya bicarakan denganmu"ucap Ardi dengan nada memerintah, tajam dan dingin. Membuat Arif dan Arine menoleh kearahnya. Bahkan Bunga yang baru kembali dari toilet itu pun melihat kekasih dan tunangannya itu menghampiri Arine. dan rasa itu kembali lagi, Bunga membenci perasaan itu.
"Maksudmu aku Ar?"tanya Arif dan Ardi hanya menatap Arine yang mengalihkan tatapan kearah lain.
Arif pun menatap arah Ardi memandang dan itu tertuju ke Arine yang lebih memilih menyibukan diri dengan memasuk barang-barangnya ke tas.
"Ok aku mengerti. Lu ingin bicara dengan Arine bukan, tapi maaf Arine masih ada urusan sama gue"ucap Arif yang juga melihat kehadiran Bunga disana.
"Maaf kak Arif, urusan kita selesai sampai disini saja. dan tentang mama, jika kakak mengenalnya salamkan salamku untuknya. Aku duluan kak, mau menyusul Naila"ucap Arine bergegas pergi meninggalkan suasana tidak enak disana.
"Kita makan siang dulu, yuk"ajak Bunga yang hanya dibalas anggukan oleh Ardi.
***
"Mukamu kesal Amad sih Rine. Harusnya yang disini kesel itu aku"kesal Naila ketika Arine menghampirinya di cafe dekat kampus.
"Gara-gara kamu ninggalin aku. Aku terjebak diantara dua laki-laki menyebalkan itu, tahu gak"kesal Arine yang membuat mata Naila berasa mau keluar saja.
"Seriusan, maksudmu kak Arif dan kak Ardi kan"tanya Naila meyakinkan dan Arine mengangguk menyetujui.
"Parah, bukannya ada kak Bunga disana"tanya Naila lagi.
"Dia tiba-tiba pergi, makanya jadi seperti itu. Dan beberapa menit kemudian dia datang, aku yang sadar akan hal itu langsung cari alasan dong buat menghindari 3 macam mahluk itu"kesal Arine yang menyerobot lemon tea milik Naila.
"Nih anak kalau kesel bahaya yeah. Minuman gue langsung bocor, njirr"ucap Naila sambil ketawa.
"Seharusny tadi aku disana, melihat itu semua seperti nonton FTV gratiskan, apalagi kalau pacar kamu yang dari Amerika tiba wah novel banget tuh bisa jadi film"canda Naila yang mendapatkan kekesalan dari Arine.
"Dan sekarang aku masih kepo tentang semalam Rine. Sumpah lu bikin gue kepo tingkat dewa neptuna tahu gak"ucap Naila lagi yang malah diketawain oleh Arine.
"Memang ke kepoanmu gak bisa di alihkan oleh apa pun yeah"ucap Arine.
"Makanya jelasin Rine"ucap Naila menggebu.
Arine pun akhirnya menjelaskan kejadian semalam dan sekilas tentang hubungan kakaknya.
"Maksudmu kamu punya kembaran Rine!!"ucap keras Naila yang langsung ditutup mulutnya oleh Arine menggunakan stik kentang.
"Kayaknya kamu simpan toak diputar suaramu ya Nai"kesal Arine, untuk cafe itu masih sepi karena masih jam 11 an siang.
"Sorry-sorry. Jadi maksudmu kak Ardi itu pacar eh mantan dari kakakmu itu dan kak Bunga adalah sahabat dari kakakmu. Gila ribet amad ceritanya Rine. Terus semalam kak Ardi maksa lu pulang, karena menganggap kalau lu adalah kakak lu, dan akhirnya lu nyeritain itu semua ke dia yang sebenarnya. Dan kenyataan sampai sekarang lu adalah orang yang masih dalam keadaan lupa ingatan. Tapi pertanyaannya ya Rine, kepinteran mengenai pelajaran lu kok gak ikut hilang, padahalkan lu lupa ingatan"ucap Naila yang langsung dengan reflek Arine menjitak sahabatnya itu.
"Enak saja lu. Maka dari itu gue bersyukur gak lupa ingatan sampai gila"jawab Arine yang ditatap Naila iba.
"Jalan hidup lu, ribet amad si Rine. Terus kakak lu itu, gimana keadaanya"tanya Naila penasaran.
"Aku gak tahu, Daddy gak akan membolehkan aku buat melihatnya. Katanya sebelum kondisinya sehat benar, aku gak boleh menemuinya. Dan apa yang dikatakan Daddy, tidak bisa dibantah. Karena aku tahu itu demi kebaikanku"ucap Arine sedih, Naila pun memeluk sahabatnya itu.
"Semoga kakakmu segera sadar dari koma nya ya Rine. dan semoga ingatanmu kembali. Tapi ketika ingatanmu kembali, kamu jangan lupain aku ya, takutnya ingatan lama muncul, ingatan baru hilang"ucap Naila dengan polosnya.
"Lu kalau ngomong asal jeplak saja ya tanpa dipikir"ucap Arine dan mereka pun tertawa setelahnya.
.
.
.
.
.
Next on...