
jadi gays ternyata gak ada masalah 😂 jadi aku lanjut menulis
Selamat membaca😂
...****************...
Melody terdiam cukup lama, hal negatif dan positif bertarung dikepalanya. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk....
"aku akan menjawabnya secara langsung dihadapanmu, bisakah kita bertemu?" tanyanya tembak langsung.
"aku akan menemuimu, kirim alamatmu sekarang!"
"ti-" belum sempat dia melanjutkan kalimatnya. Ponselnya sudah direbut Aldrich.
"tidak perlu!"
Tuut!
dia menutup sambungan telponnya.
"dimana kau sembunyikan ponselmu selama ini?" tanyanya penuh selidik.
"ck, Aldrich kembalikan! aku belum selesai bicara!" rengeknya berusaha mengambilnya.
"jawab dulu pertanyaanku!"
"itu tidak penting, cepat kembalikan!" pintanya kali ini memasang wajah memelas.
"setelah kau bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan?"
Hening!
Melody seketika membatu. Tujuannya memang sudah luruh dan sia sia. Tapi entahlah, sekarang dia akan melakukan apapun sesuai keinginannya saat ini.
"memangnya apa yang kau mau aku lakukan?"
"kenapa malah balik bertanya?"
"ish katakan saja! kau mau apa?"
"menguncimu rapat disisiku, suka atau tidak aku tetap tidak akan melepaskanmu! camkan itu!"
kejam sekal!
"baiklah baiklah, terserah apa maumu, tapi, bisakah kau mengantarkanku padanya? sungguh, aku tidak akan menetap bersamanya. Aku cukup tau diri untuk tidak menyakitinya lagi!"
"janji?!" tanyanya sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"aku janji!" Melody menautkan jari kelingkingnya.
Akhirnya, Mereka segera bergegas menuju Rumah Glan. Namun begitu tiba didepan rumahnya dia terdiam. Kakinya gemetaran, tak bisa melangkah lagi. Dia sudah terikat sumpahnya sendiri untuk tidak kembali kepadanya.
"kenapa berhenti?" tanya Aldrich yang sedari tadi berdiri disampingnya.
"Rasanya lisanku hanya selalu berucap kebohongan" ucapnya seketika menjadi lemah dan putus asa.
"sudah kubilang kan, semua itu pasti akan terbongkar seiring berjalannya waktu, Kau sendiri yang tidak peka!" oceh Aldrich malah membuatnya semakin pusing.
"jadi bagaimana? mau kerumahnya atau tidak?" tanyanya lagi terdengar mendesaknya.
"ish tunggu dulu, aku mau-"
CEKREK!
pintu yang 2 meter jauh dari arahnya itu terbuka lebar. Menampakan seorang pria bercelana jeans panjang dan kaus putih polos yang dipakainya. Sosok itu langsung terpaku saat Melihat Melody sudah berdiri dihadapannya dengan seulas senyum dan rona merah dipipinya.
"aku sudah tahu semuanya!" ucapnya semakin memeluk erat tubuh idealnya. Membuat Aldrich yang berada disampingnya itu merasa kesal.
"semuanya?" tanyanya tak mengerti. Namun dia tetap membalas pelukan Glan.
"Yah, semuanya. Termasuk tentang keterpaksaanmu!"
Melody tetap tidak mengerti, dia melepaskan pelukannya dan tersenyum. "maaf!" akhirnya hanya itu yang ia katakan. Yang sedari awal sudah mempersiapkan banyak kata, semuanya telah dirangkum menjadi begitu singkat.
" ini bukan semua salahmu, tapi pamanmu!" jelasnya sukses membuat Melody tercengang. Darimana dia tahu?.
"siapa yang memberitahumu?"
Glan menggelang pelan dan bermaksud untuk memeluknya kembali. Namun kali ini Aldrich mencegahnya.
"dia milikku sekarang!"
"bukan kau yang berhak menentukan siapa miliknya!" Tegasnya sambil menatap tajam Aldrich. Sejak pertama kali melihatnya dia sudah tidak menyukai pria berambut putih itu.
"lalu?"
"perasaan Melody!"
Degh!
Jantungnya berdetak mulai tidak normal, Gadis itu terlihat sangat keheranan. Mengapa para pria ini masih mau mempertahankannya sementara mereka sudah tahu siapa dirinya yang sebenarnya.
"Kurasa urusanmu sudah selesai, ayo pulang!" Aldrich menarik tangannya dengan kasar. Namun Melody masih tidak bergeming.
"perasaanku?" tanyanya berusaha menelaah ucapannya itu.
"yah, katakan siapa orang yang kau cintai?"
Tentu saja tidak ada yang lain, Seumur hidupnya masih belum ada orang yang menggantikan posisi Glan dihatinya.
Tapi sekarang bagaimana? dia tidak mengira kalau Glan masih mau menerima dirinya. Sementara sekarang dia sudah terikat janji pada Aldrich untuk tidak akan menetap bersamanya. Tidak mungkin dia mengingkari janji untuk yang kedua kalinya.
"Melody, kau berjanji tidak akan pergi lagi, apa kau lupa?" tanyanya
Bahkan dia melupakan semua janjinya. Benar benar bodoh!
"jangan bodoh! kau sudah berjanji padaku!" sahut Aldrich tak mau kalah.
"iya iya, aku tahu!! tapi sekarang, bagaimana aku bisa menepati janjiku pada kalian? aku sangat bingung!"
Mereka terdiam!
"tidak perlu bingung, bukannya kau sudah memutuskan keputusanmu sebelumnya?" sahut suara Gray dari arah pintu, dan dibuntuti oleh Resya dibelakangnya.
Hancur sudah harga dirinya sore ini!
"janji mana yang pernah kau tepati?" tanya Resya diiringi dengan tatapan yang mengintimidasi.
Perdebatan sengitpun terjadi diantara mereka, sampai Aldrich menarik tangan Melody untuk segera pergi. Namun dia berhenti saat Glan menarik tangan satunya.
"kumohon!" pintanya.
"adik apa yang kau lakukan?" tanya Gray tak mengerti dengan tindakan adiknya itu.
"Lepaskan! Melody akan menikah denganku!"
Menikah? yang benar saja!
Dan sore itu, kembali terjadi hal yang tak diinginkan. Semua bertindak sesuai dengan ego masing masing. Berharap cinta mereka bisa bersatu. Namun kini malah semakin hancur berantakan.