
Jadi gays, dibeberapa episode yang akan datang aku berfokusnya sama sudut pandang tokoh paling utama dulu yaitu (Melody), Soal yang lain ga terlalu dijelasin karna aku sendiri gak terlalu banyak pengalaman apalagi soal kuliah dan kerja2 gitu , soalnya kalau sekedar cari tahu kurang srek nantinya takut salah, harus ada pengalaman dulu 😂nah yang jdi masalahnya aku tuh baru aja lulus SMP, jadi sangat bingung hrus bagaimana😭bahkan ku gak tau gimana hiruk pikuk kelulusan and perpisahan seheboh dan seramai apa gengs, ya kalian tahulah gara2 covid 19, jadi mon maap kalo semuanya garing dn G jls 😂...maaf mlah curhat...hehe...dan maklumi klo novel saya masih berantakan banget😭....butuh banget saran dri klian yang udh hebat2..😅
-
-
-
Kepergian Sandy yang begitu singkat itu membuat Melody semakin dirundung kesedihan. Lagi dan lagi dia melakukan hal yang bodoh, dia benar benar membenci dirinya sendiri. Andai saja waktu itu dia bisa berfikir jernih.
Memangnya kenapa kalau dia bukan pamannya? bukannya mereka sudah lama tinggal bersama? dan mereka juga saling menyayangi
Dia sama sekali tak memikirkan hal itu karna keegoisannya.
Tapi disisi lain, hal itu sudah menjadi takdir baginya. Namun dia masih tak percaya jika pamannya benar benar pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dia memang terlihat masih muda, namun terlalu banyak menghisap rokok dan minuman keras sehingga berdampak pada paru parunya yang semakin parah.
"Melody!" panggil Alisya sambil membawakan semangkuk sayur untuknya. "kau belum makan dari pagi tadi!"
Melody tersenyum, lalu dia menerima pemberian Alisya dan mulai menyantap sayurnya walau dia tak berselera makan. Toh, Alisya sudah membuatkan sayur itu untuknya, sudah seharusnya dia menghargai niat baik orang lain.
"maaf, aku tidak membantumu seharian ini" ucapnya merasa canggung.
"tidak apa apa, aku bisa mengerti perasaanmu" ucap Alisya balas tersenyum. Meski dalam hatinya dia juga merasa iba melihat kondisi Melody yang berantakan dan sering melamun setelah kepergian pamannya.
"Setiap orang yang menyayangiku, selalu saja berakhir menyedihkan, apa kau juga tidak takut?" kini pandangan gadis itu beralih menatap bola mata cokelat milik Alisya.
Gadis itu menggelang pelan dan mengembangkan senyumnya dengan penuh keyakinan. " kau itu gadis yang baik, orang hanya takut pada apa yang tidak mereka fahami, itu saja"
Melody tertunduk lalu menyimpan mangkuknya dan menggenggam tangan Alisya dengan erat.
"bisakah kau berjanji untukku?"
"soal apa?"
"berjanjilah kalau kau akan selalu menjadi teman baikku, mulai hari ini, esok, dan selamanya" pintanya dengan mata yang berkaca kaca.
Alisya tersenyum dan menepuk pundaknya. "aku berjanji"
mendengar ucapan Alisya yang begitu bersungguh sungguh, membuat air mata Melody langsung lumer. Diapun menangis terisak isak. Melihat itu, Alisya segera menghapus air matanya. "jangan menangis, kau harus kuat..." senyumnya seperti memberinya kekuatan.
...****************...
walau berat rasanya, dia tidak boleh larut dalam kesedihan. Sebisa mungkin dia mulai mengembalikan senyumnya dan menyibukan diri agar tidak mengingat semua masalahnya.
Mulai dari membeli bibit, menanam sayur dan buah, menyiram tanaman, membeli pupuk kandang, hingga panen dan menjualnya ke kios. Dia lakukan itu dengan penuh semangat. Ditambah dengan dukungan Alisya dan ibunya yang menbuat dirinya semakin semangat. Tak lupa juga mereka menabung untuk membeli lahan yang cukup luas agar mereka bisa memperluas lahan pertanian mereka.
"waah malam ini ibu masak banyak!" sahut Alisya begitu ibunya menyiapkan aneka ragam sayur mayur beserta lauk pauknya dan tak lupa dengan Nasi.
"silahkan makan sepuasnya, karna hari ini kita mendapat banyak keuntungan, kalian tau kan jika wanita kaya itu yang memborong dagangan kita tanpa penawaran lagi" ucapnya begitu senang.
"betul sekali!" sahut Alisya tak kalah senang.
"semoga saja usaha bibi semakin lancar ya, dan suatu hari nanti kita bisa memperluas pemasaran kita!" tambah Melody dengan harapan besar.
"semoga saja nak!" senyumnya sambil mengelus punjak rambutnya.
Usai makan malam, Melody berniat membersihkan piring kotor, namun Alisya yang baru datang setelah mencuci tangannya itu mencegahnya.
"biar aku saja Melody, ponselmu dari tadi berdering terus, sebaiknya kau lihat siapa yang menelpon"
"baiklah" jawabnya segera saja melenggang pergi dan menuju kamarnya.
Benar saja ponsel itu sedang berdering, Melody segera meraih ponselnya. Namun begitu melihat nama yang tertera dilayar ponsel, dia ragu untuk mengangkatnya. Yah, karna Aldrich yang menelponnya.
Namun dengan perlahan, dia mulai mengangkat sambungan telpon dan mendekatkannya ke telinga.
"hallo!" ucap suara itu terdengar serak.
"ada apa Aldrich?"
"aku merindukanmu nonaku, kembalilah kerumah!"
Melody menghembuskan nafasnya kasar. "tapi keluargamu tidak menginginkan kehadiranku"
"mama mengizinkanmu, kembalilah"
"bukannya tidak ingin, tapi aku tak bisa, maaf"
Tak ada jawaban,
Melody melihat layar ponselnya dan masih tersambung.
"aku menunggumu Melody, Aldrich sedang sakit dan dia ingin bertemu denganmu, kumohon datanglah sekarang juga!" ucap suara Nyonya Anjani terdengar begitu memohon.
Setelah memikirkannya lagi, Akhirnya Melody menyetujui hal itu. Toh mereka semua pernah memperlakukannya dengan baik. "baik Nyonya, tapi untuk malam ini saja"
Tuut!
dia segera menutup sambungan telponnya dan menyimpannya kembali diatas meja. Lalu dia segera bersiap dan pergi menggunakan taxi setelah berpamitan pada Alisya dan ibunya.
30 menit berlalu, diapun sampai dan segera memencet bel rumah Aldrich. Setelah beberapa saat, Seorang pelayan membuka pintu besar itu.
"Nona Melody!" sahut Ibu Dina, koki dirumah ini.
Melody tersenyum dan memeluknya. "apa kabar ibu?"
"saya baik non, bagaimana denganmu?"
"baik juga" senyumnya.
Namun momen itu terhenti saat Nyonya Vera datang. "siapa yang menyuruhmu datang?" tanyanya dengan nada tidak suka.
Melody tersenyum ramah, sebenarnya dia juga tidak ingin lagi menginjakan kakinya dirumah ini. "selamat malam Nyonya, Nyonya Anjani yang meminta saya untuk datang kerumah ini"
"masuklah!" ucapnya.
"Melody, kau sudah datang? ayo masuk!" sambut Nyonya Anjani begitu dia turun dari tangga dan langsung menghampirinya dan berjalan melalui Nyonya Vera begitu saja.
Nyonya Anjani membawa Melody masuk ke kamar Aldrich. Yang kini pria itu tengah berbaring lemah dengan ditemani Alice disampingnya.
"Melody!" seru Aldrich dengan senyum lebar yang merekah dibibirnya, dia langsung saja memaksakan diri untuk bangun dan duduk. Meskipun Alice mencegahnya agar dia tetap berbaring saja, namun dia tak mendengarkan.
Melody balas tersenyum lalu duduk disampingnya, menyibakan poni Aldrich dan menyentuh keningnya yang terasa panas.
"aku merindukanmu!" ucapnya lalu memeluk gadis itu penuh kerinduan.
"kau selalu saja berlebihan, baru sebulan kita tidak bertemu!" kekehnya namun tetap membalas pelukan Aldrich. Membuat Nyonya Anjani yang melihat hal itu merasa terharu. Berbeda dengan Alice yang merasa benci setiap kali melihat gadis itu
"dan kau sangat menderita dengan semua itu!" ucap Aldrich.
Melody tak lagi terkejut saat mendengar ucapannya, yah pria itu punya Bodyguard setia yang mau melakukan apapun untuknya. Termasuk mengusik kehidupan orang lain.
"berhentilah mencampuri urusan hidupku Aldrich, itu tak ada gunanya bagimu" jelasnya
Pria itu tersenyum dan mulai mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir mungil Melody. Tak peduli jika mereka berdua memperhatikannya.
DASAR TIDAK TAHU MALU!
"a apa yang kau lakukan?" tanyanya gugup karna tiba tiba saja dia menciumnya.
"kau ingin aku menjadi kakakmu kan?" tanyanya diiringi dengan senyuman tulus.
"hah?" tanyanya tidak mengerti.
"katakan ia atau tidak!"
"i iya tentu saja!" ucapnya gugup.
"maka aku akan menjadi kakakmu, dan kau tidak akan merasa kesepian lagi!"
Demi mendengar hal itu, Melody kembali memeluknya dan menangis penuh rasa haru. Betapa beruntungnya hidup yang dia jalani. Semua ini adalah awal menuju masa depan yang cerah.
"terima kasih Aldrich"
"kau tidak akan meninggalkanku lagi kan? sering seringlah berkunjung ke rumah"
"tapi...apakah Nyonya Vera-"
"dia menyetujuinya dan menerima kehadiranmu"
Melody tersenyum, pada intinya Nyonya Vera memang orang yang baik. Dia hanya tidak menginginkan keturunan keluarga dengan silsilah yang tidak jelas, bukan berarti dia tidak menerima bagian keluarga lain. Mungkin Nyonya Vera menerima dirinya sebagai adik bagi anaknya, bukanlah seorang istri. Yah dia memahami hal itu sekarang.