
Usai makan malam, merekapun segera pulang. Namun tidak dengan Aldrich yang ingin membawa Melody jalan jalan sebentar.
Aldrich membawanya ke taman kota dan duduk dibangku putih yang tertata rapi disana. Mereka hanya sekedar berbincang bincang sambil menikmati Es krim.
"tadinya aku mau membawamu ke tempat lain, tapi aku tahu kau tidak suka tempat yang mewah!" jelas Aldrich begitu menyadari jika taman ini sangatlah sederhana.
"kau benar!" senyumnya.
"kalau besok kuajak ke bioskop mau tidak?"
Melody menggelang pelan.
"kenapa?"
"membosankan, aku sudah pernah ke bioskop dengan teman temanku"
"Lalu kau mau pergi kemana?"
"hem..." Melody meletakan tangan didagunya sambil berfikir.
"kemana ya? seumur hidupku aku tidak pernah kemana mana. Paman tidak pernah mengajakku liburan kemanapun, sisa kenanganku hanya bersama kakak saja!" jelasnya.
Gadis yang malang!
Aldrich mengelus kepalanya dan tersenyum getir, ingin sekali memberinya semua kebahagiaan yang ada didunia ini.
"ah tapi bisa menikmati segunung kembang gula saja rasanya sudah menjadi kebahagiaan bagiku!" senyumnya sambil melirik dan tersenyum manis pada Aldrich.
DRRRT!
DRRT!
Tiba tiba getaran ponsel memecah keheningan diantara mereka, Aldrich segera merogoh saku celananya dan melihat panggilan masuk untuknya. Melody yang tak sengaja melihat layar ponselnya tertera nama "Alice"
"tunggu sebentar!" ucapnya langsung menjauh dari Melody untuk mengangkat telponnya.
"Alice? Apakah aku tidak akan terjerat lagi cinta segitiga? semoga saja Alice itu dosennya atau mungkin saudaranya, atau mungkin kakak senior? ah pokoknya aku tidak peduli" gumamnya berusaha menerka nerka.
"Alexa!" seru Aril tiba tiba saja datang dan menghampirinya.
"Aril?!"
"Sudah lama aku mencarimu, apa kabar Alexa? kemana saja kau selama ini? kenapa tidak membalas pesanku? betapa aku sangat mengkhawatiranmu!" ocehnya tanpa henti.
"aku baik baik saja, tidak perlu khawatir" senyumnya secerah bulan purnama yang menerangi langit malam.
"kau kan tahu apa yang terjadi disekolah, aku pasti gila jika bertahan selama 3 bulan" ucapnya tak memberi Alasan kuat yang memutuskannya untuk pergi dari rumah.
"lalu kau tinggal dimana sekarang?"
"dirumahku!" balas Aldrich tiba tiba datang dan merangkul bahu Melody. Membuat Aldrich terkejut dan langsung menatapnya.
"oh begitu ya!" senyumnya seakan mengerti keadaan canggung ini.
Sebenarnya ia ingin membicarakan banyak hal dengannya. Namun ia harus segera balik karna Angelica sudah menunggunya dimobil.
"Sampai jumpa lagi Alexa! " pamitnya langsung melenggang pergi. Namun sebelum jauh kepergiannya dia membalikan badan dan berhenti.
"oh ya, Kita lebih dari sekedar rekan, karna kita adalah teman!" teriaknya dengan senyum lebar . Lalu dia melambaikan tangannya dan benar benar pergi.
Melody mulai mengangkat tangannya dan mulai melambaikan tangannya meski pria itu sudah hilang dari pandangan.
Ucapannya menjelaskan bahwa dia sudah mengerti apa yang coba Melody katakan waktu itu, dia menghembuskan nafas lega karna dia tidak akan lagi menodai cintanya. Pria itu benar benar sangat baik, semoga saja mereka bisa bertemu lagi nanti.
"Dia teman yang baik bukan?" tanya Aldrich.
"yah, seperti yang kau lihat, dia sangat manis dan tampan. Terlalu tidak pantas untuk orang sepertiku!" jelasnya
"ah siapa yang menelponmu tadi?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah, dia orang yang menyebalkan!"
Seperti dirimu!
"hem...sepertinya orang itu dekat denganmu ya!" senyumnya sambil menyenggol pinggul Aldrich. Mencoba menyelediki siapa Alice itu.
"aku membencinya, ayo kita pulang!"
Apa apaan itu? wajahnya seketika berubah jadi dingin!
Brugh!
Akhirnya Melody bisa menghembaskan tubuhnya diatas ranjang. Kembali mengingat Moon Suki yang tewas karna kecelakaan pesawat. Betapa terlukanya Aldrich saat kehilangannya. Tapi semua tinggal kenangan.
Namun kini fikirannya malah tertuju pada Glan, bagaimana jika mereka bernasib sama? tidak, semua orang sudah meninggalkannya. Dia harus mempertahankan cintanya. Dan bertekad untuk menemui Glan dan mencegahnya pergi. Yah, besok pagi dia akan kerumahnya.
Diapun mulai terlelap dan masuk kedalam mimpinya.