Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
Siapa Dia



"Ternyata lu cewek yang asik juga yeah. Tumben si Ardi bawa cewek yang satu frekuensi gini sama dia"goda teman Ardi yang merupakan barista dan pemilik cafe itu yang bernama Novan dan sudah ikut bergabung dengan teman-temannya.


Arine hanya tersenyum menanggapi apa yang diucapkan Novan sedangkan Ardi hanya menatap wajah Arine dan membuat teman-temannya berdehem bagaikan nyamuk disana.


"Senang bertemu dengan kalian. Kalian juga orang-orang yang asik ternyata. Kapan-kapan aku kesini bersama temanku Naila ya. Tempat ini seru ternyata buat Nongki"ucap Arine sambil menyuapkan makanan dimulutnya sedangkan Ardi masih menatap Arine dan sesekali menatap teman-temannya yang sudah ikut nimbrung dimeja tempat Ardi dan Arine berada.


"Dengan senang hati, aku akan menyambutku Arine"ucap Novan tersenyum ramah dengan Arine dan langsung ditatap tajam oleh Ardi. Novan yang sadar akan tatapan sahabatnya itu hanya menyengir ala bak kuda lumping, wkwkwk.


"Oke, kalau gitu aku balik ke mejaku ya. Selamat dinikmati makanannya ya Arine. Suasana disini mendingin, Dion pindah tempat sana"celetuk Novan yang langsung pergi dan disusul oleh Dion dan lainnya. Tinggallah Ardi dan Arine disana.


"Kenapa kamu menatap teman-temanmu seperti itu. Kamu memang mengerikan, tatapan matamu itu, menakutkan tahu gak. dan setelah ini sesuai janjimu kamu antarkan aku pulang"sarkas Arine tanpa menatap Ardi yang masih menatapnya.


"Dulu ada seorang perempuan mengataiku hal yang sama sepertimu. Dia tidak kenal denganku, namun aku mengenalnya. Aku kira dia lagi ngeprank aku dan pura-pura tidak mengenaliku dan bodohnya aku percaya akan hal itu. Nyatanya dan faktanya dia bukan orang yang aku kenal. Kamu tahu apa yang aku maksud?"tanya Ardi sambil menatap Arine tanpa mengalihkan pandangan itu sedikit pun. Arine menghela napasnya kasar karena teka-teki menyebalkan dari Ardi itu.


"Kamu tanya sama aku?. Gila?. Mana aku tahulah!"ucap Arine yang risih diperhatikan terus oleh Ardi. Ardi pun hanya tersenyum setelahnya tanpa melanjutkan pembicaraan itu.


***


Sampailah mereka di lingkungan Aperteman Arine. Meskipun itu sangatlah telat waktu, tidak sesuai yang dijanjikan Ardi pada Arine tadi.


"Terima kasih, telah mengantarkan saya menuju tengah malam seperti ini yeah!. Lu kira gue Cinderella pulang sebelum tengah malam!. Tidurku berkurang banyak ini, bisa bangun nggak besok, ada kuliah jam 6 pagi lagi"kesal Arine yang sudah turun dari motor Ardi.


"Aku akan membangunkanmu, aku pinjam hpmu"ucap Ardi yang langsung menyerobot handphone yang sedang dipegang oleh Arine. dan mengetikan sesuatu disana.


"Itu nomerku, sudah aku save. Sana masuk!"ucap Ardi lagi yang langsung memberikan handphone yang diserobot ya tadi ke Arine.


"Sudah nganterin pulang telat, malah mau pagi gini. Kamu tahu gak sih dari sore sampai hampir, gila sudah setengah 1. Parah tahu gak. Gimana gak sih itu bi Asih gak melaporkan hal itu ke Devan dan Daddy. Gua pulang pagi buta terus dan hal itu karena lu"kesal Arine menatap Ardi jengah.


"Maka dari itu kamu masuk kedalam, dari pada kita berdebat terus dan membuat waktu itu terus bertambah dan pagi. Sana masuk, dan gak perlu khawatir jika kamu telat. Aku akan tanggung jawab"ucap enteng Ardi yang mendapatkan tatapan mengejek dari Arine.


"Cukup, aku males debat sekarang. Cepat masuk kedalam"ucap Ardi yang membuat kesal Arine yang langsung meninggalkan Ardi begitu saja. Setelah kepergian Arine dari pandangannya, Ardi pun segera memarkiran motornya diparkiran Aparteman itu dan masuk ke gedung aparteman yang sama dengan Arine. Ternyata Ardi tinggal disana juga dan tepat disamping Aperteman Arine.


"Apa aku gila, hingga berbuat seperti ini. Dia bukan Anisa. dan dia perempuan waktu itu yang mengatakan jika dia Anisa"ucap Ardi tersenyum ketika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


#Flashback on


"Kak, Arine ke mini market ya, mau beli minuman dingin. Disini kan gak ada kulkas"ucap Arine yang beberapa waktu lalu sampai di kos_an Anisa.


"Kamu tahu jalan kan, atau biar aku saja deh yang beli"ucap Anisa yang khawatir akan adiknya yang baru sampai di Indonesia itu.


"Arine hapal jalan kok, santai saja. Arine gak buta arah"ucap Arine cengengesan dan langsung pergi sebelum Anisa mencegahnya.


Arine pun keluar dari kos_an Anisa dan orang-orang berfikir jika dia adalah Anisa. Karena saat ke kos_an Anisa beberapa waktu lalu Arine menggunakan masker serta kaca mata hitamnya dan tidak lupa ranselnya itu.


"Tadi pas aku didalam taxi, itu mini market dekat deh. Kok pas jalan, cukup jauh"kesal Arine yang harus menyebrang jalan.


"Kak Anisa juga, kenapa gak bilang"kesal Arine lagi dan akhirnya sampai juga di mini market itu dan beberapa Snack untuk dia makan. Sebelum pulang dia isterah sebentar didepan mini market itu yang telah tersedia kursi dan meja disana.


"Disini sebentar deh. Mau lihat suasana didaerah sini"ucap Arine sambil menikmati minuman yang tadi dia beli.


"Sayang"panggil seseorang yang tiba-tiba menghampiri Arine yang masih bersantai didepan mini market itu. Arine pun terkejut karena ada seorang laki-laki dengan helm yang masih menutupi kepala itu berjalan kearahnya.


Arine pun menoleh ke kanan dan kiri, mungkin itu orang manggil seseorang yang ada didekatnya. Tapi saat Arine perhatikan tidak ada orang lain yang duduk disana. Laki-laki itu pun semakin mendekat dan melepaskan Helm itu. Hingga Arine bisa melihat wajah itu dengan jelas.


"Who is he? "ucap Arine dalam hati.


"Sayang!?. Hei Nisa"panggil laki-laki itu yang tidak lain adalah Ardi.


Arine pun terkejut akan hal itu. Ketika laki-laki yang didepannya memanggil kakaknya.


"Jangan bilang dia?. Kekasih kakaknya!."ucap Arine menelan ludahnya kasar.


"Hah..."ucap Arine dengan wajah terkejutnya sambil dia tidak sadar jika dia membuka mulutnya menganga dan langsung mengatup ketika melihat laki-laki itu mengerutkan dahinya bingung.


"Kamu kenapa sayang?. Ini sudah mau Maghrib, ayo aku antar pulang. Kami habis beli cemilan?"tanya Ardi beruntut dan membuat Arine tersadar.


Arine pun berdehem sebelum menjawab pertanyaan dari Ardi.


"Salah paham ini orang?. Masa gak bisa bedain wajah pacarnya sendiri sih?"ucap Arine sambil menatap wajah Ardi.


"Kalau dilihat langsung, pacar kak Nisa ganteng. Tapi sepertinya dia, habis jalan keluar. Kemana?"ucap Arine dalam hati lagi.


"Where have you been?. Oh my God, sorry. Maksud aku, kamu darimana?. Benerkan apa yang aku ucapkan"ucap Arine pelan diakhir kalimat dan masih terdengar oleh Ardi yang bingung dengan sikap kekasihnya itu.


"Maksudmu sayang. Oh iya, aku tadi buru-buru ada yang mau aku beli, jadi aku bawa motor. Kamu jangan marah ya sayang"ucap Ardi mengelus lembut rambut kekasihnya itu.


"Kamu gak marah aku bawa motor lagi?"tanya Ardi ke kekasihnya yang sempat marah-marah padanya yang selalu bawa motor kemana-mana.


Kenapa Anisa marah karena Ardi adalah ketua geng motor makanya tidak diperbolehkan bawa motor, supaya gak bisa berkumpul sama geng motornya. Karena Anisa takut terjadi apa-apa. Anisa pernah melihat Ardi terluka karena suatu selisih akan geng motornya dan geng lainnya. Maka dari itu Anisa sangat melarang Ardi membawa motornya itu.


"Oh iya, aku pernah marah soal itu ya"ucap Arine menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Kenapa aku malah berperan jadi kak Anisa sih. Seharunya aku bilang kalau aku kembarannya kan?"ucap Arine merutuki dirinya sendiri.


"Kamu potong rambut dan warna rambutmu kenapa berbeda"tanya Ardi yang langsung membuat Arine kalang kabut.


"A...aku pulang dulu ya. Gak usah anter, kamu hati-hati dijalan, jangan ngebut. Aku pernah marah sama kamu kan, soal motor itu, jadi hari ingat"ucap Arine merutuki ucapnnya itu.


"Mulutku astaga"ucap Arine merasa bodoh kedirinya sendiri. dan Ardi pun langsung mengejar Arine.


"Aku anter kamu pulang. Ini sudah mau Maghrib Nisa"ucap Ardi memegang tangan Arine tanpa sadar Arine pun menurut.


"Jangan marah ya. Aku janji gak akan membawa motor kalau kamu gak bolehin"ucap Ardi membonceng Arine yang dia anggap kekasihnya yaitu Anisa.


"Kak Anisa aneh banget sih. Dinegara ini kan memang motor kendaraan utama. Kok gak dibolehin. Aneh deh"ucap Arine pelan dan masih terdengar oleh Ardi.


"Maksudmu apa sih sayang"ucap Ardi bingung dengan ucapan Arine yang dianggap Anisa. Hingga mereka sampai di kos-kos an Anisa. dan Arine pun turun.


Sebelum turun, Ardi menggenggam tangan Arine dan membuat Arine terkejut dibuatnya.


"Jangan marah yah. Aku minta maaf"ucap Ardi menoleh dan memandang wajah Arine yang dia kira Anisa.


Arine hanya terdiam dan bengong, bingung mau jawab apa.


"Kapan kamu ganti warna rambut ini, cantik"ucap Ardi tersenyum dan membuat Arine tersedak akan ucapan Ardi.


"Gila nih, pacar kak Anisa"ucap Arine dalam hati.


"Tapi bakalan dimarah sama Bu Erni kalau kamu mewarnainya seperti ini sayang. Kamu tahu peraturan sekolah bukan"ucap Ardi masih memegang tangan Arine.


"Kak Anisa gak bakalan dimarah lah, ini rambutku, bukan rambut kak Anisa"ucap Arine dalam hati yang langsung melepas pelan tangan Ardi.


"Aku masuk ya, bye"ucap Arine langsung pergi dari hadapan Ardi.


Ardi hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu.


"Kamu manis kalau seperti itu"ucap Ardi yang langsung pergi.


#Keesokan harinya disekolah...


Anisa baru saja sampai disekolah dan melihat Ardi yang memasuki gerbang itu dengan mobilnya.


Ardi pun setelah memarkirkan mobilnya itu langsung menghampiri Anisa yang menunggu. Ardi mengerutkan dahinya saat menatap penampilan kekasihnya itu.


"Kemarin sore setelah pulang kamu langsung ganti warna rambut kamu, sayang"ucap Ardi ketika melihat penampilan Anisa yang berbeda. Anisa mengerutkan dahinya bingung dengan apa yang diucapkan kekasihnya itu.


"Kamu bicara apa sih, di. Aku kan gak pernah mewarnai rambut aku. Mau dihukum sama Bu Erni?. Aku gau mau dong"ucap Anisa yang melangkah duluan.


"Ayo, keburu telat"ucap Anisa yang berjalan kembali menarik Ardi digenggaman ya. Sedangkan Ardi menatap rambut kekasihnya yang masih panjang sepunggung dengan warna hitam dan dikucir satu seperti biasa. Tidak seperti kemarin sore yang dia lihat Anisa rambutnya hanya sebatas bahu dengan warna rambut coklat orange dan sedikit warna putih disela-sela rambut.


"Tapi kemarin..."ucap Ardi terpotong oleh Anisa yang kesal.


"Ngomong apa sih sayang, sudah ayo"kesal Anisa dan mereka pun masuk kekelas.


#Flashback off


.


.


.


.


.


Next on