Don'T Forget Me

Don'T Forget Me
67. Jangan paksa takdirmu



"kau sudah tak bisa menyentuhku lagi..." Glan tertunduk dalam...


"tapi kenapa?" tanyanya dengan suara bergetar, tenggorokannya terasa kering dan air mata mulai jatuh membasahi pipinya.


Glan hanya diam dan pandangannya terus menatap langit. Air mata yang terbendung disudut matanya perlahan jatuh.


"kalau aku sudah mati, kenapa aku tidak bisa pergi?" gumamnya setelah keadaan hening dalam beberapa saat.


Yah, tentu saja karna janji. Penantian Melody tidak akan pernah berakhir jika dia tak kembali. padanya.


Takdir seolah menggiringnya untuk memberitahu kalau mereka tidak bisa bersama.


"maafkan aku...."ucap pria itu lagi.


Melody masih terdiam dengan segala fikiran buruk dan rasa takut yang mendekap dirinya.


"aku sudah menepati janjiku dengan kembali padamu dan kita sudah melewati banyak hal beberapa pekan yang lalu...Tapi maaf, kita tidak bisa bersama untuk selamanya, maka dari itu, aku melepaskan janjiku padamu...dan kau juga harus melepaskanku!" jelasnya tiba tiba saja mendapat jalan keluar dari permasalahannya.


Melody terisak dan menatap dalam onyx lelaki itu. Takdir memang tak bisa dipungkiri. Meski Glan berusaha memaksa takdirnya, semua tetap tidak berubah dan berjalan sebagaimana mestinya. Mungkinkah ini saatnya dia harus mengikhlaskan orang yang dicintainya pergi? Tak sedikitpun ia bayangkan kalau kepergian seseorang itu pasti akan terjadi.


"Jangan putus asa...Hidup memang seperti ini Melody....."


...****************...


Dengan langkah yang berat, Malam ini Melody mengumpulkan semua kenangannya bersama Glan. Termasuk kotak kayu dan lembar kertas berisi jadwal kencan mereka. Dia sangat mengingat jika pukul enam sore mereka akan selalu bertemu dibukit dan menikmati indahnya langit malam.


Dengan ditemani Alisya dan Aldrich, Melody membakar semuanya diiringi dengar derai air mata yang terus mengalir.


"Melody!" panggil suara dihadapannya.


GLAN!


sosok itu berdiri dihadapannya dengan cahaya putih yang membungkus tubuhnya.


Melody mendongak dan menyusut air matanya. "sampai jumpa lagi, tolong jaga kakakku dengan baik...Aku mencintaimu....DAN JANGAN LUPAKAN AKU!" pintanya sambil tersenyum lebar. Senyum damai yang baru kali ini dia tampakan padanya.


"apa kita akan bertemu lagi?" tanya Melody penuh harap. Walau pertanyaan itu terdengar bodoh, dia tetap berharap besar.


"tentu, kita akan menikah nanti!" senyumnya kali ini cahaya itu benar benar membungkus seluruh tubuhnya dan sirna bertepatan dengan perginya cahaya itu.


"sampai jumpa lagi, tapi sekarang kata itu sudah berubah jadi 'selamat tinggal' "ucapnya lirih.


"ikhlaskanlah, dia sudah tenang dialam sana dan penantianmu sudah berakhir" Aldrich menarik Melody kedalam pelukannya. Dia dapat merasakan kalau bahu gadis itu bergetar hebat dan nafasnya tersengal sengal.


"Melody tenangkan dirimu!" Ucap Alisya dapat menyadari kondisinya yang mulai memburuk.


"sekarang kau bisa menangis sepuasnya....Tapi setelah itu berjanjilah padaku, tak kan ada lagi tangisan selain tangis kebahagiaan!"


Melody ambruk, dia mulai melampiaskan semuanya dengan teriakan, ocehan, dan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya. Baru saja kebahagiaan datang menyapa hidupnya,, tapi sepertinya kebahagiaan itu salah alamat sehingga hanya singgah sejenak dan memperkenalkan kesedihan dalam hidupnya.


Ayahnya, ibunya, kakaknya, pamannya, Dan sekarang Glan. Benar benar terasa menjengkelkan. Tidak bisakah tuhan memberinya hal berharga yang bisa dia miliki selamanya? Yang tidak akan pergi dan meninggalkan luka dihatinya? atau paling tidak bisa membuatnya mengubah masa lalu? dia benar benar akan menjadi manusia paling bahagia dimuka bumi dengan segala usahanya untuk menghindari masalah.